
“Kenapa Honey?” tanya Fanny ketika Lucas menghubunginya siang ini. Tumben siang-siang Lucas menghubungi. Karena biasanya Lucas jarang menelepon ketika jam kantor, terlebih saat ini Lucas sedang konsentrasi untuk kembali memajukan usahanya yang sedang morat-marit. Mereka memang berkomitmen jam kerja fokus pada kegiatan pokok mereka saja. Lucas dengan pekerjaan dan Fanny dengan kemajuan Charles.
“Sudah pulang sekolah belum?” tanya Lucas lembut.
“Ini kami dalam perjalanan ke rumah,” jawab Fanny.
“Bereskan semua barangmu dan barangnya Charles tanpa sisa! Tak ada sisa. Semua isi kamar dikosongkan. Pakai semua koper yang ada di kamarmu atau kamar Charles. Kalau butuh suruh beli kardus dan lakban. Sore ini kita langsung pindah rumah. Aku juga sebentar lagi pulang untuk membereskan barang-barang aku,” jelas Lucas.
“Memang kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Fanny bingung.
“Irene sudah minta cerai, dia pakai pengacara. Tadi pengacaranya datang.”
“Dia yang minta cerai mengapa kita harus keluar?” kata Fanny.
“Dia minta cerai dengan syarat rumah itu sebagai miliknya, juga dua mobil miliknya yang sekarang. Aku tak mau peduli. Lebih baik segera cerai sehingga kita bisa cepat bersatu,” balas Lucas. Harta bisa dia cari. Tapi kesempatan bercerai dengan Irene memang sejak dulu ingin dia lakukan. Sebelum Fanny hadir dalam rumah tangganya.
“Aku hanya akan memberi dia nafkah sampai surat cerai keluar. Sesudah itu tak ada nafkah apa lagi,” jelas Lucas.
‘Wah hebat banget ya Irene berani gugat cerai tanpa nafkah dan tak mau minta apa pun,’ desis Fanny dalam hatinya mengagumi tekad Irene.
‘Pasti dia punya yang lebih hebat atau setidaknya dia memang sudah siap untuk mandiri.’
‘Aku juga nggak butuh hartanya Lucas buat hidupku kok. Buktinya aku tetap menerima dia saat dia sedang tumbang seperti sekarang. Aku hanya ingin Charles dan Lucas bahagia,’ gumam Fanny dalam hatinya.
“Kalau kamu pulang cepat ya kamu aja yang bawa kardus dan segala macamnya. Jadi aku nggak perlu nyuruh orang. Aku beresin dulu semuanya nanti kalau kurang kan tinggal nungguin kardus yang dari kamu,” kata Fanny.
“Oke baiklah, sebentar lagi aku pulang,” kata Lucas. Mereka tentu saja senang karena akan segera pindah rumah baru lepas dari Irene. Mereka tak perlu lagi sembunyi-sembunyi mengenai hubungan mereka. Mereka akan bebas makan malam berdua atau bertiga dengan Charles.
“Kenapa Ma?” tanya Charles, dia nyaman berbaring di pangkuan sang mama dengan tangan mamanya mengusap keningnya.
“Kita pindah ke rumah baru. Cuma kita bertiga, Mama, papi sama kamu. Tidak ada mami lagi di rumah kita nanti.” kata Fanny menerangkan pada Charles.
“Asyiiik,” kata Charles.
“Tapi kamu boleh enggak pindah koq. Kamu tetap boleh tinggal sama mami kamu. Yang pasti Mama dan papimu akan pindah sore ini. Papi sekarang sedang dalam perjalanan pulang buat beresin semua barang papi,” jelas Fanny.
“Makanya sampai rumah, Mama siapin kamu makan. Kamu langsung makan terus Mama mau beresin barang Mama,” jelas Fanny.
“Aku ikut Mama dan papi,” putus Charles.
“Kalau begitu habis makan, kamu bantu-bantu Mama beres-beres oke?”
“Oke Ma,” jawab Charles.
“Nanti papa juga akan cepat pulang. Papa juga akan pindah bareng kita.”
“Papa Ma?” tanya Charles bingung.
“Ya. Mulai sekarang kamu nggak usah panggil papi lagi. Tapi panggil papa jadi kamu punya papa sama Mama oke?” kata Fanny lagi.
“Iya Ma. Aku suka! Aku suka papa dan mama aja, nggak usah ada sama mami,” kata Charles bersemangat. Tentu saja dia suka. Yang penting dia punya papa dan mama yang sangat menyayanginya.
Sesuai dengan yang tadi diarahkan oleh Fanny, setiba di rumah Charles langsung makan tidak rewel. Kemudian dia mulai masuk ke kamarnya Fanny karena yang dibereskan lebih dulu adalah kamar Fanny.