
“Papa Fahrul, kenapa semua orangnya sudah tua-tua dan kenapa anak-anaknya menitipkan mereka di sini?” tanya Mischa saat mereka sedang kunjungan ke panti jompo. Memang Dinda meminta pada karyawan yang di grupnya Fahrul yang anaknya sudah 10 tahun ke atas silakan dibawa untuk ke panti agar mereka bisa belajar melihat kenyataan hidup. Mischal walaupun bukan cabangnya Fahrul tapi semua kepala cabang dan keluarganya pasti ikut di setiap kegiatan. Jadi dia ikut kegiatan ini.
Anak-anak Sondang, maupun twins dan Menur anaknya Velove juga ada di kegiatan kali ini.
“Hari ini kalian dipandu daddy ya. Papa Fahrul pegang urusan yang lain. Kak Mischa berkumpul dengan daddy,” jawab Fahrul manis.
“Banyak faktor yang membuat seorang lansia itu ada di rumah penitipan atau panti jompo atau penitipan orang tua seperti ini,” kata Bagas setelah mendengar pertanyaan Mischa yang diulang. Dia berkumpul dengan anak-anak tersebut.
“Jangan kalian berpikir bahwa semua penghuni panti ini adalah orang tua yang dibuang anak-anaknya. Mereka ditaruh di sini karena anak-anaknya tidak mau mengurus mereka. Bukan seperti itu. Atau lebih tepatnya tidak semua seperti itu. Walau ada satu atau dua orang yang memang dibuang anaknya tapi yang lainnya tidak.”
“Ada faktor yang mengharuskan anak-anak menitipkan orang tuanya di rumah jompo, misal suami istri harus sibuk bekerja dan di rumah tidak ada orang yang menemani orang tuanya. Sehingga kalau dibiarkan di rumah lebih bahaya. Orang tuanya sendirian lalu jalan pergi nanti malah hilang karena sudah mulai pikun. Atau dia masak lalu lupa bisa membuat rumah kebakaran. Anak-anaknya harus kerja dari pagi sampai menjelang malam untuk biaya kehidupan mereka. Jadi dengan terpaksa dititipkan di sini. Itu faktor lain. Faktor selanjutnya adalah mereka tidak punya saudara atau anak yang masih hidup, atau memang mereka tidak pernah menikah atau bagaimana jadi banyak faktor. Jangan dulu menilai bahwa orang tua di sini semuanya dibuang oleh anak-anaknya.”
“Di sini ada yang setiap minggu dijenguk anak-anaknya. Atau bahkan ada yang kalau akhir minggu orang tuanya dibawa pulang karena mereka libur,” jelas Bagas.
“Oh begitu,” kata Tarida.
“Iya Sayang, seperti itu,” kata Bagas yang hari ini bertugas menjawab pertanyaan anak-anak.
Hari ini ada kejutan untuk semua. Adit mengundang Gultom untuk ikut di kegiatan panti asuhan ini. Apa ya misi Adit mengundang Gultom?
“Daddy,” panggil Icha kencang. Gultom juga mendengar hal itu.
“Mengapa kita nggak makan siang di sini bareng para oma, eyang, kakek. Opa, opung dan sebagainya itu?” Gultom miris mendengar pertanyaan putrinya yang sangat akrab dengan Bagas.
“Coba tanya papimu. Apa jawaban papi. Lalu kamu tanya ayah Ilham. Tapi jangan kamu tanya ke ayah Adit. Dia lagi sibuk mengurusi para oma,” balas Bagas.
“Daddy saja yang jawab,” rengek Icha.
“Daddy mau bikin foto dulu untuk dokumentasi. Itu ada papimu, tanya dia ya,” bujuk Bagas.
“Kenapa kita nggak makan siang di sini saja. Kenapa harus nanti makan siang di luar?” tanya Icha.
“Itu pertanyaannya mudah Sayang. Jawabannya yang sulit,” jawab Ajat.
“Papi jangan bercanda begitu deh,” protes Menur yang juga menunggu jawaban Ajat.
“Anak-anak cantik Papi ini tukang ngambek ya,” goda Ajat.
“Beberapa penghuni panti ini menu makannya beda-beda Sayang. Bukan karena mereka tidak suka, bukan karena mereka tidak doyan. Bukan! Tapi karena kondisi kesehatan mereka yang sudah semakin menurun.”
“Misalnya oma yang itu, dia tidak boleh sama sekali makan garam. Jadi kalau kita bawakan makanan tentu oma tersebut nggak bisa makan. Lalu opa yang itu, opa itu nggak boleh makan makanan yang mengandung kolesterol tinggi. Sehingga dia nggak makan ikan, daging, ayam dan yang dimasak dengan digoreng. Dia harus hanya sayuran dan oma cantik yang di sana itu nggak boleh makan karbohidrat. Masing-masing berbeda, itu sebabnya sejak awal kita diberitahu kita akan makan siang di luar panti ini,” jelas Ajat.
“Oh begitu kirain seperti biasa, kita family gathering apa saja kita makan bareng,” kata Biyya.
“Beda Sayang. Family gathering kita buat refreshing. Untuk penyegaran otak dan penyegaran otot tubuh. Kalau kunjungan ini untuk membangun rasa empati kita terhadap sesama,” kata Ilham.
“Empati itu apa Yah?” kata Ghaylan.
“Coba kamu lihat di Google apa arti kata empati yang lebih tepat. Tapi maksudnya itu menggali perasaan sayang kita, perasaan apa ya? Ayah susah neranginnya. Sudah kamu lihat Google deh. Ayah jadi bodoh jadinya ya?” jawab Ilham.
“Ayah nggak bodoh kok. Ayah cuma nggak pintar,” jawab Mischa santai.
Gultom benar-benar terpukul. Ternyata setelah dia meninggalkan PT Alkavta Prima Maju perkembangan persaudaraan mereka jauh berbeda. Semua anak punya ayah, punya papi, punya daddy, punya papa dan para lelaki itu juga tak membedakan anak-anak itu anak siapa.
‘Benar-benar hebat Bu Dinda. Semua anak-anak berada dalam lingkungan kehangatan keluarga besar. Pantas Tarida dan Theresia tak takut kehilangan aku. Karena mereka mendapat banyak pengganti. Aku yang rugi kehilangan anak-anakku.’