
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Selepas Dinda pulang Adit mengangkat dus berisi barang-barang miliknya untuk dia bawa ke ruangan Marketing Manager yang telah lama kosong. Adit menaruh barang-barangnya di ruangan marketing Manager miliknya. Tadi pagi dia sudah minta pada office boy untuk membersihkan dan merapikan lagi ruangan tersebut yang selama ini sudah lama kosong. Walau berkala dibersihkan tetap saja kalau tidak tiap hari akan terlihat kotor.
Adit membereskan beberapa file di mejanya lalu dia langsung ke ruangan Eddy.
“Dinda marah besar Pa,” lapor Adit
“Kenapa?” tanya ini
“Sepulang dari dia makan siang aku tegur Dinda baik-baik seperti biasa. Aku enggak perlihatkan kecemburuanku apalagi marah. Dia tetap tidak mau menjawab sama sekali. Dia malah marah dan langsung pulang.
“Aku tahu dia pulang karena aku tanya pada simbok, kata simbok Dinda sudah sampai di rumah.”
“Papa bilang apa? Kamu salah langkah. Dinda enggak salah kan terima telepon, kamu malah sengaja bikin dia marah. Jadi jangan salahkan Papa kalau dia tambah tidak mau kembali rujuk dengan kamu.”
“Papa enggak akan melarang bila pria itu melamar Dinda dan Papa akan terima pria tersebut sebagai suami Dinda. Karena itu adalah pilihan hati Dinda.” jelas Eddy enteng.
Mendengar itu tentu saja Adit berang. Bagaimana mungkin papanya akan menerima lamaran laki-laki lain untuk mantan menantunya sendiri? Mantan menantu yang masih sangat diharapkan oleh anak kandungnya?
Adit yakin pasti Dinda memang akan meminta siapa pun lelaki yang dipilihnya untuk melamar pada Eddy sebagai pengganti orang tuanya.
Adit menjadi tak berkutik, dia bingung mendengar kata-kata Eddy barusan.
Daripada bingung, akhirnya Adit kembali ke ruangannya, dia kembali membereskan barang-barang yang baru dia angkut dari ruangan Dinda.
Adit terus bergumam tak menentu. Entah apa saja yang dia katakan. Adit menyeracau sendiri.
“Aku harus bagaimana algi coba?”
“Apa aku paksa aja dia? Tapi kalau dipaksa pasti Dinda tambah marah padaku. Itu akan lebih gawat!”
“Aku ingin segera menikah dan mengikatnya lagi dengan kehamilan berikutnya.”
“Aaahhhhhhhh, aku harus bagaimana?”
Begitu terus Adit bicara, dia tambah galau mengingat-ingat bagaimana Dinda pernah bilang kamu mencubit aku akan balas dengan tindakan lebih besar yaitu menempeleng!
Adit juga ingat kata-kata Eddy bahwa papanya akan menerima lamaran laki-laki yang diterima Dinda sebagai calon suaminya kelak.
Sampai jam 05.00 sore Adit masih berkutat di ruangan kerjanya.
“Koq Adit belum pulang?” tanya Eddy begitu tiva dirumah dan dibukakan pintu oleh bu Siti.
“Belum Tuan. Yang sudah pulang mbak Dinda. Sejak jam dua siang tadi,” jawab bu Siti.
Adit tak sadar sudah jam 05.20 masih ada di ruangannya.
Adit baru sadar ketika terdengar adzan maghrib.
“Astagfirullah sudah magrib dan aku masih di kantor!” kata Adit tersadar. Dia tak percaya sampai lupa waktu. Padahal sejak ada anak-anak di rumah dia biasanya ingin cepat pulang agar bisa bermain dengan mereka.
Adit langsung mandi dan berwudhu serta menjalankan salat di ruangannya. Sesudah itu dia berzikir sejenak menyerahkan segala kegalauan hatinya pada sang pencipta.
“Hai Dit!” sapa seorang perempuan menghampiri adit yang sedang menunggu makanannya.
“Hai,” jawab Adit. Adit kaget melihat siapa yang menyapanya salah satu adalah teman tidurnya saat di SMA!
Adit pucat pasi takut ada yang melihat dirinya makan dengan perempuan tersebut. Dia takut Dinda salah paham bila melihat dirinya makan malam bersama Angelica, salah seorang perempuan masa lalu yang berkali-kali menjadi WC umum tempat dia membuang sper-ma.
“Kok pulang kerja sendirian?” tanya Angel. Dia kesitu bersama teman perempuannya.
“Aku baru pulang rapat. Kasihan istriku kalau aku harus merepotkan dia menyiapkan makan, jadi aku makan dulu baru pulang,” jawab Adit sengaja menyebut kata istri agar ada pagar.
“Tapi istrimu kan orang baik, aku lihat kok kemarin dia di postinganmu yang heboh itu,” kata teman SMA Adit tersebut.
“Ya dia sangat baik, dan yang terbaik,” jawab Adit.
“Aku numpang makan di sini boleh?” tanya Angelica.
“Kan kita bertiga jadi enggak akan membuat curiga siapa pun. Kenalkan ini Dewi temanku,” Angelica langsung duduk satu meja dengan Adit sebelum Adit sempat menjawab.
Adit juga tak mungkin mengusir kan orang yang sudah duduk di mejanya? Dia pun makan lebih dulu saat makanannya tiba. Saat itu Dewi izin ke toilet setelah memesan makanan. Jadi makanan di meja hanya satu porsi karena makanan Angel dan Dewi belum datang.
Mereka makan bertiga dengan pembicaraan ringan. Adit tak minta nomor telepon Angel dan Angel juga tak memintanya. Benar-benar hanya makan malam yang kebetulan tanpa niatan ingin bertemu kembali.
“Maaf aku pulang lebih dulu ya aku sudah selesai,” pamit Adit.
Adit langsung menuju kasir dan membayar semua makanan yang ada di mejanya termasuk yang dimakan Dewi dan Angel. Tak enak kan kalau dia bayar untuk dirinya sendiri. Adit mengantongi bill dan kembaliannya lalu pulang tanpa pamit lagi pada Angel.
Tiba di rumah, anak-anak sudah tidur sehingga Adit tidak bisa menemui mereka. Dinda juga sudah menutup kamar sehingga tak mungkin mengetuk kamar untuk melihat anak-anak. Adit pun masuk ke kamar yang dia tempati.
“Ayo Mbok berangkat,” kata Dinda. Saat itu Adit keluar hendak sarapan. Dia pagi ini kesiangan sehingga tak sempat memandikan anak-anak seperti biasa. Semalam dia tak bisa tidur memikirkan Dinda marah padanya.
Pagi-pagi sekali Dinda sudah menyiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah. Hari ini hari pertama anak-anak kembali sekolah di lingkungan baru.
Yang ikut hari ini Mbok Asih, Dinda akan mengganti mereka tiap hari jadi Mbok Asih hari ini lalu lusanya Mbok Marni biar anak-anak tak terlalu bergantung pada satu orang pengasuh.
“Loh kalian mau ke mana?” tanya Adit.
“Oyah,” kata Ghibran, artinya dia mau sekolah.
“Kamu enggak kasih tahu aku sudah daftarin anak-anak sekolah,” protes Adit menegur Dinda.
“Mereka anakku,” jawab Dinda dengan pelan. Hanya Adit yang mendengar kata-kata itu.
Adit diam, dia tak bisa berkutik lagi.
“Ayo salim dulu sama kakek dan ayah kita mau berangkat,” kata Dinda pada kedua putranya.
Adit tak bisa memaksa ikut karena sudah dikatakan bahwa mereka akan berangkat bukan mengajak dirinya. Adit hanya bisa bersikap hangat di depan anak-anak bahwa Adit baik-baik saja.
“Belajar yang benar ya Ayah nggak anter hari ini,” kata Adit. Eddy melihat ada kekakuan antara Dinda dan Adit.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok