GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SEMUA TUKANG NGOBROL



‘Bagaimana perkembangannya?’ tanya Dinda pada Sondang di grup emak rempong agar semua bisa langsung mendapat info terkini soal pak Gultom. Tak perlu dia forward seperti bila dia japri.


‘Puji Tuhan, dia sudah mulai ada pergerakan denyut jantung. Sudah tidak datar lagi tapi masih belum sadar dan denyutnya juga lemah. Tapi setidaknya dia bertahan,’ tulis Sondang.


‘Baik kamu selalu report kondisi terkininya di grup ini saja, jadi semua langsung tahu,’ kata Adinda.


‘Baik Bu,’ jawab Sondang


‘Pengumuman untuk yang berkunjung besok, ruang rawat sementara di ICU ya,’ Ajeng memberi pengumuman seperti itu di grup emak rempong.


‘Siap,’ kata Wika karena besok adalah jadwalnya dia pagi bersama Velove. Ajeng sama Ratih giliran sore.


“Kalian sukanya apa?” kata Santi.


“Kami apa saja suka kok,” jawab Rida.


“Kalau untuk sarapan besok, mau request apa?” tanya Santi.


“Aku nasi goreng yang kita masak bersama,” ucap Mischa cepat.


“Ada Rida dan Icha. Bagaimana kalau besok kalian bertiga yang masak nasi goreng?” lempar Santi.


“Yeeeaay, aku mau,” seru  Icha yang memang hobby masak. Rida hanya tersenyum.


“Ya besok kalian yang masak ya. Mami yang siapkan semua bahan dan bumbunya.” ujar Santi.


“Oke siap,” kata Icha dan Mischa bersamaan.


Santi menilai Tarida masih galau dia tidak mau menekan


“Kalian habis makan jangan lupa sikat gigi, perintah Ajat.


“Jangan kebanyakan ngobrol, langsung tidur.”


“Papi kayak nggak tahu, Mischa kalau ada temennya pasti ngobrol terus,” ucap Santi.


“Jangan ya Kak Mischa.  Kak Rida dan Icha juga mau istirahat,” pesan Ajat pada putrinya.


“Nggak apa-apa. Kami suka ngobrol koq,” kata Rida.


“Kak Rida juga suka ngobrol Pi. Jadi enggak masalah,” jawab Mischa senang karena sekutunya menjawab langsung.


“Kalau begitu Kak Rida dan Kak Mischa yang harus jadi contoh buat Icha. Kalian jangan banyak ngobrol,” Ajat masih saja berupaya anak-anak cepat tidur.


“Mana bisa? Icha kan lebih banyak ngobrolnya,” kata Rida. Ajat dan Santi berpandangan dan tersenyum. Mereka memang hanya ingin interaksi saja agar Rida dan Icha tak merasa asing di rumah mereka.


“Betul Kak Rida bobo di kasurnya Biru saja. Kan Biru pindah ke kamar Mami,” jawab Icha.


“Aku mendingan tidur di kamarnya Mischa, tapi di kasur lantai jadi aku nggak jatuh,” ucap Rida santai.


“Oke Mami taruh kasur lantai yang besar untuk kamu di bawah. Jadi kalian tetap bisa satu kamar dan bisa tetap ngobrol. Daripada Kak Rida tidur sendirian di kamar Biru,” ucap Santi sambil tangannya memanggil pembantunya untuk menaruh kasur besar dan diberi sprey untuk Rida.


“Aku juga tidur di lantai,” kata Mischa.


“Lebih enak kita ngobrol berdua ya Kak.”


“Ih aku juga mau di lantai,” tukas  Icha. Walau satu kamar, tentu tak enak bila dia di atas sendirian.


“Yah kalau semua di kasur lantai nggak cukup lah,” kata Rida.


“Cukup. Nanti Mami taruh dua kasur besar di lantai jadi cukup untuk 5 orang.”


“Yeaaay asyik,” jawab ketiganya.


“Habiskan dulu makan kalian,” kata Ajat sambil tersenyum. Ajat tak menyangka punya banyak anak seperti ini menyenangkan.


‘Pantas Bang Adit seneng banget anaknya banyak,’ kata Ajat dalam hatinya. Kadang kalau seperti ini dia jadi ingat kesalahannya masa lalu tak pernah melakukan kebersamaan apalagi mencintai anak-anaknya. Semua terjadi sebelum bersama Santi.


‘Alhamdulillah aku bertemu dengannya sehingga mata batinku terbuka. Aku bisa mengetahui kesalahanku. Semoga Farouq mau memaafkanku. Memaafkan kebodohanku, memaafkan semua yang dia harap dariku tapi tak pernah kuberikan untuknya.’


“Besok anak-anak di rumah Santi suruh ke sini saja Bun main di green house,” usul Adit.


“Ayah saja kasih tahu Ajat. Mau nggak dia nganter anak-anaknya ke sini dan bawa Biru sekalian. Biru nanti main di rumah kalau tak mau seharian di green house.


“Oke kalau begitu aku akan hubungi Ajat saja. Kali saja mereka mau daripada ke rumah sakit. Kasihan, tentu jadi kepikiran.”


Adit langsung menghubungi Ajat.


“Kamu jangan langsung bawa ke sini. Lempar dulu wacananya ke anak-anak mereka mau nggak?” kata Adit.


“Ya Bang, aku mengerti kok. Sekarang aku juga nggak mau maksain kehendak aku.”


“Ya lempar dulu ke mereka. Kalau mereka setuju baru kamu bawa. Nanti di sini kita bikin mereka untuk masak untuk makan siang mereka sendiri.”


“Oke aku akan bilang mereka. Makan siang masakan mereka sendiri pasti mereka suka. Esok pagi mereka juga akan masak untuk sarapan.”


“Oke aku tunggu infonya. Karena kami harus nyiapin bahan masakannya,” kata Adit.


“Siap Bang. Nanti aku kabari.”