GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK MAU AYAH NGAMBEG



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Cukup lama Eddy bermain dengan Ghifari dan Ghibran dia juga sempat diberi kesempatan buat menyuapi Ghibran dan Ghifari. Sebenarnya bukan menyuapi tapi membantu agar mereka makan dengan benar.



Di rumah ini masih ada high chair milik Ghibran dan Ghifari yang lama saat pertama mereka masih berusia 6 bulan saat persiapan belajar makan dulu.  High chair sudah dibelikan duluan oleh Dinda ketika usia mereka 4 bulang, sehingga ada high chair di sini.



Tentu saja Eddy bingung belum 2 tahun cucunya sudah mulai bisa menyuap makan sendiri. Begitu pun dengan mbok Marni dan Mbok Asih Mereka melihat perkembangan anak-anak memang jauh di atas rata-rata anak pada umumnya karena pola asuh Dinda memang berbeda.



Adit membasuh keduanya dengan air hangat lalu akan menggantikan mereka dengan baju tidur.



“Kalian menginap kan Bun?” tanya Adit. Dia tidak ingin salah duga atau berharap terlalu banyak.



“Nginep lah. Kasihan anak-anak kalau harus pulang. Sampai rumah juga sudah malam dan tinggal tidur,” balas Dinda sambil menyiapkan handuk dan piyama anak-anak.



Adit memakaikan baju anak-anak yang sudah berlarian kesana kemari saat badannya dihanduki. Adit tak mau mengejar mereka. Dia hanya duduk diam memegang minyak telon dan pakaian ganti.



Sadar ayahnya hanya diam, kedua bocah itu malah menghampiri Adit dan memberi kecupan di hidung Adit agar ayahnya tidak marah.



Adit menahan senyumannya sementara Dinda menutup mulutnya agar tak pecah tawanya melihat kelakuan dua jagoannya yang berhenti berlari saat ayahnya tak meladeni kelakuan mereka.



“Nah selesai. Ayo bobok dulu,” ajak Adit.



“Bun, kalian tidur aja di kamar-ini. Nanti biar Ayah tidur di kamar anak-anak,” Adit memberitahu Dinda biar dia tidur di kamar anak-anak yang dulu Eddy pernah siapkan. Terletak di sebelah kamar mereka.



Adit tentu sadar diri, tak ingin langsung tidur bersama Dinda karena sudah bukan muhrimnya.



“Kalau Ayah mau tidur dengan mereka enggak apa apa kok, nanti Bunda tidur di bed tambahan aja,” Dinda tahu anak-anak nanti rewel bila malam terbangun tak ada Adit.



“Mas enggak usah tidur terpisah di kamar anak-anak. Biar aja kita satu kamar toh tidak satu bed,” kata Dinda seterusnya.



Memang di kamar mereka ada satu bed kecil yang dipersiapkan oleh Adit.



Dulu bila anak-anak imunisasi kadang mereka rewel sehingga Dinda meminta Adit untuk tidur sendiri agar tidak terganggu.



“Baiklah kalau memang kamu mengizinkan seperti itu,” jawab Adit. Tentu dia senang kalau boleh tidur bersama dengan kedua putranya.




“Ayo kita makan duluan Pa, enggak usah tunggu Mas Adit. Dia lagi tidurkan anak-anak,” ajak Dinda pada papa mertuanya.



Mbok Marni Bu Asih dan Bu Siti sudah menyiapkan makan malam untuk majikannya.



“Ya sudah ayo, kalau memang Adit ditinggal enggak apa apa,” Eddy tak menolak ajakan Dinda.



“Enggak apa apa kok Pa. Mereka tidurnya juga cepat enggak akan lama,” kata Dinda.



“Terlebih mereka sudah kenyang biasanya langsung merem tanpa rewel,” jelas Dinda.



“Oh gitu?” kata Eddy.



“Iya Pa, mereka tuh enggak rewel, mungkin mereka mengerti keadaan Bundanya seperti apa. Sehingga begitu habis makan ganti baju ya langsung merem,” kata Dinda kalem. Mereka pun menuju ruang makan.



Dinda langsung mengambilkan Eddy porsi nasi sesuai dengan kebiasaannya, Dinda juga menyiapkan lauk yang sudah tersedia di meja.



“Wah simbok masak buntil,” Dinda kangen makan buntil. Sekarang dia karena hanya masak untuk diri sendiri kadang hanya rebus sayuran, makan dengan sambal ditambah satu jenis lauk misal tempe atau ikan goreng saja.



Bukan tak mampu, tapi tak ada waktu untuk masak bagi diri sendiri. Jadi dia memilih yang praktis saja menyiapkan aneka sambal. Dinda tak suak lauk beli. Jadi karena untuk sendirian dia memilih yang praktis. Fokusnya hanya untuk anak-anak. Bagi anak-anak dia masak sayur dan lauk yang bergizi walau ribet sekali pun.



“Iya Non Dinda. Padahal saya nggak tahu non akan ke sini. Jadi saya bikin buntil pare cuma nggak pedas karena buat Bapak,” Mbok Asih tahu Dinda suka buntil dari pare, daun talas mau pun daun pepaya tapi tak terlalu suka bila dari daun singkong.



“Pakai udang Mbok?” tanya Dinda.



“Enggak Den, itu isinya cuma teri aja. Teri basah bukan teri asin jadi enggak berbahaya buat kesehatan Bapak,” kata mbok Asih lagi. Dia mengerti kalau tuannya tidak boleh makan udang atau teri asin.



“Segini Pa?” tanya Dinda.



“Harus habis lho.” ancam Dinda.



“Iya Papa akan habiskan,” jawab Eddy.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok