
Sehabis makan mereka semua langsung menuju green house tidak ada yang mau turun di rumah.
Tadi akuarium serta ikan mas koki saja yang dibawa pulang ke rumah. Semua hewan termasuk owl atau burung hantu dibawa ke green house. owl masih tidak apa-apa dilepas di green house untuk satu minggu ini atau mungkin malah satu bulan. Karena dia belum bisa menangkap mangsa atau buruan sendiri. Dia masih harus disuapi, karena memang masih kecil. Untuk itu masih aman ditaruh di sini. Tapi tetap mulai malam ini akan Dinda bawa pulang.
Tentu saja semua heboh di dalam green house.
“Ini Ayah beli kura-kura banyak banget sih?” seru Ghibran saan membuka kotak berisi kura-kura brazil yang Adit beli tadi.
“Nggak apa-apa lah. Kan yang empat beda size, itu agak gedean. Yang 6 yang kecil,” ucap Adit.
“Langsung dilepas saja di saluran air. Nanti biarin saja, dia bisa kok cari air sendiri. Karena dia ada insting, yang penting saat awal dimasukkan di pinggir kolam,” kata Eddy.
Tentu saja semua tak ada yang tidak senang melihat bagaimana hewan peliharaan mereka dilepas satu persatu.
“Bun, aku kayanya mau request lagi deh,” kata Fari saat semua sudah dilepas bebas.
“Mau request apa Sayang?” Dinda menoleh pada Fari, sejak tadi dia sedang memperhatikan kura-kura yang jatuh terbalik saat manjat batu.
“Kayanya burung ocehannya tambah lagi, biar makin ramai. Burung apa pun yang penting rame,” kata Fari.
“Iya, liburan hari Sabtu depan eh hari Minggu kita ke pasar Jatinegara. Cari burung yang murah-murah untuk bikin rame saja, tidak cari hewan yang lain. Paling mungkin marmut yang kalian cari di sana ada, tapi kayanya nggak sih. Nanti kita cari lagilah pokoknya,” kata Dinda.
“Kenapa nggak hari Sabtu?” tanya Adit.
“Hari Sabtu Bunda mau undang teman-teman untuk makan siang di sini. Kalian juga boleh ajak teman-teman ke sini, biar tahu laboratorium kalian. Kalian bisa ajak teman-teman bikin percobaan di sini,” ucap Dinda pada anak-anaknya sekalian menjawab pertanyaan Adit.
“Aku siapa yang mau diundang ya?” kata Fari.
Adit dan Dinda hanya tersenyum, memang beberapa anak ada yang tidak mengerti. Dikira hewan itu buat mainan, bukan buat disayang seperti anak-anak mereka. Benar apa yang Ghibran bilang, bisa-bisa hewan mereka jadi stres kalau dikejar-kejar anak-anak.
“Iya, Bunda rencananya ajak mereka bawa anak-anaknya semua, karena kita mau makan siang di kebun sini,” Dinda membenarkan rencananya mau family garden party.
“Papa kalau mau undang teman-teman boleh Pa, sekalian anggap saja kita opening green house-nya baru mulai hari Sabtu depan,” ucap Dinda.
“Oke, Papa akan undang teman-teman mancing Papa saja. Pasti mereka suka,” jawab Eddy.
“Oh iya, anggrek-anggrek Papa boleh loh taruh sini. Beberapa digantung di pohon-pohon buah juga di kawat-kawat itu,” ujar Dinda.
“Papa kemarin pikir juga begitu. Pohon bunga dari rumah lamamu itu kan sudah terlalu banyak. Nanti biar Papa pecah-pecah. Besok Papa belikan medianya buat dipecah lalu digantung-gantung di sini,” kata Eddy. Maksud Eddy rumah lama Dinda adalah rumah yang Dinda gunakan bersama Adit saat mereka masih berdua. Kemarin rumah itu di jual karena yang kontrak telah selesai. Dinda bilang uangnya buat invest di usaha dia saja.
“Wah asik dong Papa punya banyak kegiatan kalau mulai berkebun lagi,” kata Adit. Dia tentu senang papanya mulai aktif.
“Iya, Papa sudah pikir mau gantung-gantung di setiap kawat sini. Burung nggak akan ngerusak kok. Tenang saja, tanaman malah akan terlihat segar,” sahut Eddy.
“Aku malah kepikiran kita tanam pohon merambat. Bisa pohon bunga bisa juga pohon buah. Misalnya seperti oyong, labu atau anggur,” ucap Dinda.
“Pare juga bisa, atau melon dan semangka serta timun,” kata Eddy.
“Ya pokoknya kita tanam beberapa pohon rambat untuk merambat di kawat,” tentu saja Dinda juga setuju.