GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MELIHAT MELIANA DI RUANG BAYI



“Nanti papa bilangin mulai besok pagi Pak Pujo akan antar sarapan, makan siang juga makan malam dan mengantar baju bersih untuk kalian,” ujar Eddy.


“Terima kasih Pa,” jawab Dinda lebih dulu dari Adit.


“Papa kembali ke kantor ya, dan pulang kantor enggak balik ke sini lagi. Kalau malam nanti anak-anak ngomel bila sering ditinggal,” jelas Eddy.


“Kami mengerti Pa. Enggak apa-apa,” balas Adit.


“Terima kasih ya Pa sudah jagain anak-anak,” ucap Dinda.


“Terima kasih buat apa? Wong mereka itu cucunya Papa kok. Masa jagain cucu sendiri kok mengharap ucapan terima kasih,” Eddy merasa tidak terbebani dengan tugasnya menjaga anak-anak. Dia malah bahagia, niat dia dan almarhumah Ina punya anak banyak malah dipenuhi oleh menantunya. Tak terbayang bila Adit juga hanya punya satu anak. Sepi dunianya.


“Bu, Ini sudah waktunya memberi ASI, sebaiknya Ibu yang ke ruang bayi saja biar lebih enak,” seorang suster memberitahu Dinda jadwal bayinya menyusu.


“Baik suster,” Adit yang menjawab. Dia segera mengambil kursi roda untuk mendorong Dinda. Adit segera mendorong Dinda menuju ke ruang bayi.


“Yah, itu bukannya Meliana ya?” bisik Dinda saat sedang menyusui si bungsu Ghaylan.


“Aduh kamu kok ngeliat dia terus sih. Mana? Ayah sih enggak pernah peduli sama dia,” jawab Adit sambil menimang Ghazanfar yang sudah lebih dulu menyusu dan dibuang anginnya.


“Itu yang sedang ada di dalam ruang bayi dan memperhatikan bayi yang sedang di infus dan ada banyak alat di tubuhnya,” balas Dinda. Dia mengusap lembut punggung Ghaylan agar bersendawa. Ghaylan diletakkan di bahu kiri Dinda.


Adit pun menoleh arah yang ditunjuk oleh Dinda.


“Ya ampun kasihan banget bayinya. Semoga anak-anak kita selalu sehat,” ucap Adit yang lebih fokus pada bayi yang terhubung alat daripada ke Meliananya.


Sedang bayinya Meliana terpasang banyak alat. Bayi perempuan Meliana memang sangat buruk kondisinya.


Dokter sudah tahu alasan mengapa bayi tersebut lahir seperti itu. Semua akibat Meliana berupaya menggugurkan kandungan ketika bayi itu sudah berusia 4 bulan dengan meminum aneka obat dan ramuan. Tapi usahanya gagal sehingga bayi tersebut terus tumbuh walaupun kondisi hidup lemah. Sejak lahir bayi tersebut selalu sakit-sakitan.


Meliana sekarang cukup merasa bersalah terhadap kondisi bayinya. Apa mau dikata itulah yang dia alami sekarang. Putri kecilnya malah selalu sakit-sakitan akibat pernah ingin digugurkan.


Meliana melahirkan di Singapura tapi ketika anaknya usia 2 bulan dia kembali ke Indonesia, saat itulah bayinya mulai bermasalah. Dokter menemukan titik awal penyakit bayi tersebut.


Dinda tentu saja tak ingin bikin masalah di ruang bayi, dia menyusui ketiga bayinya bergantian dengan tenang dan tak mempedulikan lagi masalah Meliana. Dia kasihan terhadap seorang ibu yang sedang memikirkan penyakit anaknya.


“Anaknya sakit apa ya Yah?” tanya Dinda.


“Mana Ayah tahu dan ayah juga enggak kepengen tahu,” balas Adit. Mereka sedang menuju apotik.


“Bunda sih penasaran, tapi ya sudah sih. Bunda juga enggak ingin berpapasan dengan dia. Yang pasti akan membikin ribut. Kalau lihat muka dia Bunda tuh masih kesel aja.”


“Makanya sudahlah enggak usah dideketin dan enggak usah bertemu. Kita ke apotek sebentar ya, tembus obat yang pagi tadi dikasih dokter.”


“Iya,” katanya Dinda.