GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MENEBAR DURI



“Kau pikir mudah bicara dengan anak-anakmu seperti itu? Kau pikir kau bisa menarik hati dan cinta mereka? Mereka malah benci sama kau tahu!” kata inang mencak-mencak. Dia minta Gultom hari ini menemui dirinya di sebuah tempat minum kopi yang dimiliki oleh orang dari suku mereka sehingga suara keras buat sesama pengunjung itu sudah biasa/ Karena memang suara keras itu belum tentu marah buat orang Medan. Kalau yang tak biasa mendengar nanti dikira mereka sedang bertengkar walau saat itu memang opung sedang menasehati Gultom dengan keras dan menggunakan bahasa Batak.


“Ada apa Inang?” jawab Gultom tak mengerti, baru datang sudah disemprot ibunya.


“Kau bilang pada Butet bahwa kau hanya mencintai mamanya juga hanya mencintai mereka berdua itu.” Ucap inang Gultom


“Awak jujur, mereka malah benci?” tanya Gultom bingung.


“Ya mereka benci karena mereka merasa kamu tukang bohong!”


“Tolong jelaskan Inang. Bohongnya di mana?” Gultom masih tak mengerti apa kesalahannya.


“Kalau kau hanya mencintai mereka dan ibunya, kenapa kau punya dua istri lain dan kenapa ada anakmu si Marry itu. Itu kata Icha, bukan kata Tarida. Kau bisa bayangin anak sekecil itu sudah benci sama kau karena kau bohong!”


“Aku tidak mencintai kedua mantan istriku itu dan aku juga tak pernah peduli pada Marry,” jawab Gultom jujur.


“Itu yang mereka tidak mengerti, yang mereka tahu menikah itu karena cinta lalu kamu bilang kamu hanya mencintai mereka ternyata punya istri lain dan  punya anak lain. Berarti kan kamu cinta juga sama orang-orang itu. Berarti kan kamu bohong!”


“Baik aku akan katakan pada Tarida dan Theresia bahwa aku menikah dengan Pricilla dan Niken itu tanpa cinta!” kata Gultom ringan tanpa beban.


Gultom mati langkah. Baru kali ini dia salah karena biasanya selalu didampingi oleh Sondang kalau bicara dengan anak-anak. Sekarang dia bicara sendiri malah anak-anak menangkapnya dengan kepolosan mereka.


“Kau sudah merusak kepercayaan mereka terhadap cinta seorang laki-laki. Sondang akan membawa mereka ke psikiater karena mereka tak percaya ada seorang hamba Tuhan yang mempermainkan ikatan pernikahan. Mereka tak percaya ada orang yang bersumpah setia dihadapan Tuhan tapi dengan kebohongan! Dan sedihnya orang itu adalah ayah mereka sendiri.”


“Kalau kau lihat wajah marah dan terluka mereka, aku yakin sampai kapan pun wajah itu akan menghantui hidupmu. Ingat kau punya 4 anak perempuan. Tuhan pasti akan membalasnya pada keturunanmu!” ucap inangnya.


“Psikiater?” tanya Gultom tak percaya. Dia telah menulis jalan penuh duri untuk putri-putrinya sendiri. Sungguh tak dia sangka, perbuatannya sangat melukai dua gadis kecilnya.


Opung meninggalkan putranya. Dia sangat menyesalkan perbuatan Gultom yang mencederai batin kedua cucunya.


Gultom langsung ingat pesan terakhir Sondang ketika mereka berpisah di pengadilan setelah hakim mengetuk palu kalau mereka telah resmi bercerai.


“Jangan menaruh duri di jalanku, siapa tahu suatu hari kau akan datang mencariku tanpa alas kaki!”


Dulu Gultom tak mengerti apa maksud kata-kata mantan istrinya itu. Sekarang dia sadar. Dia kena akibat dari perbuatannya menaruh duri sepanjang jalan. Saat ini semua onak itu menusuk telapak kaki dan menembus ke jantungnya.”


PEDIH!