GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
NGEMIL SATE



“Saya bisa lihat kelengkapan suratnya tidak Pak termasuk pembayaran PBB, PAM dan PLN?” tanya Dinda malam ini. Karena ternyata pemiliknya baru bisa ditemui malam-malam sepulang kerja dan dia tidak tinggal di sekitar sini jadi tadi mereka janjian. Adit dan Dinda tak mau janjian di rumah.


“Silakan Bu. ini copy-nya Ibu bisa cek ke kantor agraria, RT hingga  kelurahan dan ke mana pun yang bersangkutan dengan surat tersebut,” jawab pemilik tanah.


“Harganya nggak bisa turun?” tanya Adit.


“Itu tadi Ibu sudah minta turun banyak banget Pak, dan saya sudah setuju,” balas pemilik tanah sambil tersenyum.


“Oke kalau begitu saya cek ke agraria dulu ya Pak. Kalau memang nomor ini benar tak ada bersengketa maka saya akan ambil dan kita langsung bayar di notaris karena langsung pindah nama. Saya tidak mau terjadi kesulitan di tahap berikutnya,” kata Dinda.


“Silakan Ibu. Saya tunggu kepastiannya dua hari dari sekarang ya Bu. Karena bila Ibu tidak memberi kabar setelah dua hari, saya bisa menerima peminat yang lainnya. Selama dua hari itu saya akan tidak menerima peminat mana pun,” kata pemilik tanah itu lagi.


“Baik saya akan cek ke BPN ( badan pertanahan nasional ) dulu bila sudah fix pasti saya ambil karena kebetulan hanya di depan rumah saja,” kata Dinda.


“Ya Bu, saya tunggu kabar baiknya,” jawab pemilik tanah.


“Kalian dari mana?” tanya Eddy melihat pasangan suami istri itu masuk rumah hanya menggunakan motor milik Adit dan tidak menggunakan helm. Artinya tidak jauh perginya.


“Iseng main saja ke depan Pa. Cari sate kambing tapi sudah habis,” kata Dinda.


“Bukannya sate ujung situ masih banyak sampai malam?” tanya Eddy.


“Kok hari gini sudah habis?” tanya Eddy.


“Aku ingin itu cuma lemaknya saja Pa. Yang tinggal tadi daging dan hatinya saja. Aku kepengen bagian lemaknya saja seperti biasa aku beli,” jawab Dinda.


“Oh begitu,” jawab Eddy.


“Aku beli sih Pa sedikit. Cuma yang aku kepengen nggak ada,” kata Dinda. Memang sebagai alasan tadi dia tetap membeli sate kambing.


“Oke siapa takut kalau kambing mah,” kata Eddy.


Tadi Dinda hanya beli dua lontong saja karena untuk ngemil. Anak-anak sudah tidur tentunya.


Mereka bertiga pun ngemil sate kambing. Punya Dinda dan Adit tentu beda piring dengan punya Eddy karena punya Dinda dan Adit pakai irisan cabe yang banyak.


“Tuh enak banget kalau bagian lemaknya nih Pa. Aduh sudah kebayang deh rasanya,” kata Dinda.


“Ya kamu beli saja di pasar. Pesan mbok beli bagian sandung lamurnya kambing. Bikin sate sendiri,” kata Eddy.


“Nggak kepengen Pa. Cuma kepingin beli sesaat saja kalau harus bikin males,” kata Dinda lagi.


“Jangan-jangan kamu hamil lagi,” kata Eddy.


“Wah nggak Pa. Nggak. Papa kan tahu juga mas Adit sudah di vasektomi. Masak masih juga kecolongan sih?” kata Dinda.


“Siapa tahu ada sper-ma yang nakal?” jawab Eddy sambil mengunyah sate lontong.


“Semoga enggak Pa. Walau bila di kasih kami tak akan pernah membuangnya. Tapi kasihan anak-anak kalau harus tambah saudara lagi. Aku takut mereka malu.”


Adit juga setuju, bukan dia menolak rezeki tetapi kasihan Dinda kalau harus hamil lagi dan punya bayi lagi tapi ketentuan Allah itu pasti bisa terjadi walau dia sudah steril. Steril itu kan buatan manusia.


“Semoga saja nggak sih Pa, dan rasanya ini sudah mau menstruasi kok jadi mudah-mudahan tidak,” ujar Dinda lagi.


Dinda jadi ketakutan sendiri bila memang dia hamil. Kasihan anak-anak bila itu terjadi, tentu mereka malu punya saudara banyak.


Dinda dan Adit memang tidak memberitahu Eddy masalah rencana pembelian tanah tersebut nanti kalau sudah fix baru dia akan beritahu. Kalau sekarang diberitahu tentu Eddy jadi berpikir untuk segera merealisasikannya padahal mereka belum mengecek keabsahan tanah juga dalam sengketa atau tidak.