
“Mama, Papa, Ibu, Ayah, hari ini kami mau pergi bertiga,” kata Ajat saat sarapan.
“Lho kalian mau ke mana? Katanya hari ini mau di rumah saja,” kata ibunya Santi.
“Kami ada perlu bertiga Bu. Biarin kami pergi dulu,” kata Santi.
“Oke terserah kalian. Nanti kalau ada tamu kami harus bilang apa?”
“Bilang kami pergi sebentar saja. Suruh telepon saja bila penting. Karena kan memang Farouq meninggalnya kemarin dulu dan sudah dimakamkan kemarin juga. Kalau dia datang hari ini lalu nggak ketemu kami, bukan salah kami kan? Apa karena anak kami meninggal lalu kami harus diam di tempat nungguin semua tamu? ‘Kan nggak juga. Jadi bukan kesalahan kami kalau mereka nggak ketemu kami,” kata Santi.
“Ya sudahlah terserah kalian. Biar mama sama Ibu yang jaga rumah. Jadi kalau ada tamu dari keluarga kamu atau keluarga Santi kami bisa terima karena ada perwakilan dari kami,” kata ibunya Santi.
“Memang nya kita mau ke mana Mi?” tanya Mischa saat mereka masuk mobil.
“Tadi malam Mami sama Papi punya pikiran bagaimana kalau kita pindah rumah Kak. Karena kalau di rumah ini terus di setiap sudut itu ada bayangannya adik Farouq. Bukan kita nggak cinta adik Farouq tapi hidup kita kan harus terus berlanjut. Kita akan sedih terus kalau kita seperti ini. Jadi lebih baik kita pindah ke rumah baru. Nanti di sana barang-barang adik Farouq tetap ada cuma nggak ada kamarnya lagi. Kita siapkan satu space buat barang-barang adik tentu tidak satu kamar semuanya. Kakak Mischa ambil satu barang Farouq yang paling Kakak sukai, Mami juga ambil Papi juga ambil. Selebihnya kita bagikan kepada orang yang membutuhkan itu lebih baik menurut kami. Tapi terserah kalau menurut Kakak bagaimana?”
“Aku setuju aja, sih Mi! Kalau memang kita harus pindah karena sebenarnya aku ingin pindah sejak dulu. Sejak Mami jadi maminya aku karena di rumah itu aku ingat bagaimana aku sering dicuekin sama Bu Wiwik yaitu orang yang culik Farouq.
“Dari aku kecil dia selalu diam kalau nggak ada Papi, tapi begitu ada Papi dia manis banget. Aku benci banget sama dia,” kata Mischa karena saat itu dia sudah besar tentu saja dia sudah punya ingatan saat itu dia sudah berusia lima tahun pasti sudah ingat.
“Alhamdulillah kalau Kakak setuju. Jadi hari ini kita bertiga mau keluar cari rumah baru ya Kak. Kita memang sengaja ajak Kakak biar Kakak ikut memilih tidak asal kita beli saja,” kata Santi.
“Nanti Kakak juga yang tentuin semua barang-barang di kamar Kakak. Kalau yang di rumah lama mau dibawa silakan. Tapi kalau mau beli baru kita beli baru saja. Yang lama nanti kita jual-jualin aja biar nggak menambah beban ingatan kita dengan memori yang buruk.”
“Iya Pi aku setuju. Paling yang dibawa ya hanya baju-baju saja. Yang lainnya nggak usah dibawa. Ya paling buku-buku kali sama boneka. Paling barang yang dari Mami yang aku bawa. Yang lainnya buang aja lah. Nggak apa-apa dijual atau diberikan kepada orang yang membutuhkan,” kata Mischa. Dia pun setuju pindah rumah baru tentu saja langkah itu membuat Santi menjadi senang.