GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PASPOR BUKAN PASSWORD



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“Jadi Bun?” tanya Adit melihat Dinda membawa satu map data yang akan digunakan mereka hari ini.


“Insya Allah jadilah,” jawab Din da tersenyum manis. Ibu 3 jagoan ini makin hari makin memikat. Terlebih di mata Adit.


“Apa hari ini enggak usah sekolah aja? Kita langsung urus surat itu?”


“Enggak, nanti pulang sekolah aja. Kalau Ayah enggak bisa nemani biar Bunda urus sendiri dengan anak-anak,” Dinda takut suaminya harus ke kantor pagi-pagi.


“Ayah bisa nemani koq. Ya sudah pulang sekolah aja urusnya,” Adit menduga kalau Dinda salah tangkap akan sarannya tadi. Padahal dia takut anak-anak terlalu lelah pulang sekolah mereka ajak pergi.


Sekarang jam sekolahnya Ghaidan dan dua kakaknya itu beda. Ghifari dan Ghibran sudah mulai lebih lama jam belajarnya. Mereka belajar sampai jam 11.00 sedang si bungsu hanya sampai jam 10.00.


Kadang Adit harus membagi waktu untuk menemani Ghaidan di lapangan lebih dulu sambil menunggu kakaknya karena satu jam itu nanti dia rewel bila tidak ditemani oleh Adit atau Dinda.


Ghaidan sangat aktiv, dia lebih dekat dengan Adit daripada Dinda. Dan sepertinya sifatnya jauh beda dengan dua kakak kembarnya. Terlihat dia lebih berani berekspresi, suka meledak-ledak seperti Adit kecil dulu. Dia juga tak kenal takut.


“Memang kita mau ke mana?” tanya Fari melihat mobil tidak mengarah ke rumah.


Sehabis sekolah hari ini Adit dan Dinda membawa si bungsu untuk membuat paspor. Mereka ingin liburan ke luar negeri bersama keluarga.


Sejak kelahiran Ghaidan, Dinda belum menggunakan kontrasepsi karena memang Adit kan agak sulit membuahi. Buktinya sampai sekarang sudah 1 tahun tetap aja belum ada calon bayi lagi. Terjadinya pembuahan Ghaidan memang suatu hal yang tak terduga. Mungkin karena lama tak melakukan sehingga bibit Adit langsung jadi setelah pernikahan kedua mereka di Sydney dulu.


Rencananya ulang tahun Ghaidan mau diadakan di Bangkok sekalian Dinda dan Adit belanja. Makanya mereka buat paspor hari ini.


“Kenapa harus pakai password?” kata Iban.


“Paspor bukan password sayank,” ralat Adit.


“Itu sama aja kita punya tiket kalau naik kereta, jadi harus ada surat jalannya yang disebut paspor bila ingin ke luar negeri,” kata Dinda


“I see,” Fari langsung mengerti apa yang disebut paspor.


“Kayak Mamas ngerti aja,” Iban tak percaya Fari langsung bilang dia mengerti.


“Mamas mengerti koq, kan kita sudah punya,” jelas Fari.


“Mamas pernah lihat kok paspor aku, sama paspor kamu, paspornya Bunda sama Ayah ada kok semuanya. Mamas pernah lihat,” kata Fari.


“Mamas lihat di mana? Tanya Adit sambil mengemudi. Dinda memangku Ghaidan dan kedua anak kembar di kursi tengah.


“Kan waktu Bunda cari apa itu namanya, lahir, surat lahir apa itu namanya, waktu mau daftar sekolah ade Idan kan aku tanya itu buku kecil apa?”


“Oh iya, Bunda ingat waktu itu Bunda lagi cari akte kelahiran buat daftar sekolahnya ade. Iya Bunda ingat kamu tanya tentang buku kecil yang disebut paspor.” Dinda menyimpan semuanya dalam satu album dokumen. Saat itu Fari masuk dan bertanya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.