
“Ada apa Yah?” tanya Dinda ketika Adit kembaali datang ke teras belakang membawa ponselnya.
“Detektif bilang tetangga saudaranya Wiwik di Ciranjang cerita kalau Wiwik datang ke Ciranjang di Cianjur. Wiwik datang dengan dua orang lelaki tapi tidak bersama ibunya maupun Farouq. Dua lelaki itu entah siapanya.”
“Wiwik menginap di sana satu malam. Tapi esoknya langsung bergegas pergi. Mungkin karena diberitahu oleh saudaranya melalui Rustam bahwa siapa pun yang menampung Wiwik pasti akan terkena dampak sebagaai pelaku tindak pidana. Akan disebutkan berperan serta dalam tindak pidana penculikan.”
“Lalu di mana Farouq?” tanya Dinda tak sabar.
“Ini sedang diselidiki lagi, tapi setidaknya sudah ada perkembangan seperti itu.”
“Kalau begitu, Ayah sekarang langsung telepon ke Ajat agar dia sedikit lega nanti kita akan telusuri lagi mencari Farouqnya dan kasih tahu tim detektif lainnya untuk cepat-cepat mencari Farouq karena kondisi Santi semakin rawan.”
“Katakan pada Ajat jangan beritahu Santi dulu bahwa sudah menemukan Wiwik tanpa Farouq. Nanti Santi malah semakin stress memikirkan di mana keberadaan Farouq.”
“Iya sebentar ya. Ayah telepon lagi. Sebenarnya Ayah nggak enak sama anak-anak, lagi acara begini kita malah fokus pada yang lain,” bisik Adit.
“Ya, kita juga tahu hal begini nggak bisa ditunda lah Yah. Sudah Ayah telepon sana sebentar, aku menemani anak-anak lagi,” kata Dinda. Mereka seperti selingkuh dari anak-anak mereka saja.
Dinda memberitahu hasil detektif kepada five little star juga kepada Velove dan Puspa. Walau bisa saja Puspa sudah tahu dari suaminya. Tapi tetap saja Dinda mengabarkan itu melalui chat. Lalu dia letakkan lagi ponselnya. Dia tidak mau mengganggu acara dengan anak-anak yang membutuhkan fokus dari dirinya. Walau hanya acara bebakaran tetap sebagai ibu Dinda harus fokus. Tak boleh menomor duakan anak-anak.
Ajat tentu senang mendengar kabar Wiwik diketahui keberadaannya. Ajat juga tahu sekarang sedang ditelusuri ke mana Farouq berada beserta neneknya.
Detektif tidak menghubungi nomor mereka, dia hanya melaporkan pada Adit dan nomor itu nanti akan dilacak oleh polisi.
Tentu saja detektif juga melacak sendiri. Mereka ingin tahu keberadaan Farouq terutama dari posisi ponsel ibunya Wiwik.
“Apa sih motivasinya Wiwik, mengambil Farouq?” ucap Ajat saat ngobrol dengan Adit.
“Kamu yang mantan suaminya nggak tahu, lebih-lebih aku lah,” jawab Adit.
“Iya Bang, itu yang bikin aku nggak habis pikir. Kalau dia kondisinya sedang minus kenapa dia malah ngambil Farouq? Kecuali dia ngambil Farouq buat minta tebusan. Aku bisa mengerti lah kalau seperti itu. Tapi kalau dia cuma mau bawa Farouq ,sedang dia lagi minus kan berarti bikin dia sengsara. Sudah miskin tambah lagi harus membiayai Farouq.”
“Mungkin dia ingin membuat Santi sengsara. Wiwik nggak senang Santi bahagia. Pasti dia berpikir Santi akan disalahkan dengan hilangannya Farouq. Wiwik pasti berpikir orang tuamu dan kamu memarahi Santi habis-habisan karena Farouq hilang. Wiwik tidak tahu Santi bukan stres karena dimarahin oleh kamu dan mertuanya tetapi dia stres karena kehilangan cinta anaknya,” kata Adit.
“Bisa jadi Bang. Wiwik ingin menyakiti Santi seperti pola pikir orang bahwa Santi akan aku dan mama maki-maki habis-habisan,” Ajat setuju dengan dugaan Adit.
“Eh tapi nggak juga. Kan kataamu Wiwik tahu tanpa menikah dengan kamu pun Santi mau adopsi anakmu. Berarti memang dia ingin menyakiti Santi dengan menjauhkan Santi dari Farouq,” kata Adit lagi. Dia meralat sendiri pikirannya.
“Ah benar Abang! Abang nih sudah bikin bingung, tapi memang benar. Rupanya Wiwik ingin menyakiti Santi karena Santi mencintai Farouq sejak awal sebelum menikah dengan aku. Mungkin dia sudah dapat info juga dari Bibi Marini dan Paman Rustam bahwa kalau pun kami -aku dan Santi- bercerai anak-anak akan ikut Santi. Itu karena Santi mencintai mereka,” kata Ajat lagi.
“Wiwik ingin membuat Santi terluka dengan Farouq sebagai peluru,” Ajat bisa menarik kesimpulan seperti itu.