
“Semua sudah siap?” tanya Adit sebagai pemimpin kegiatan liburan kali ini. Setiap liburan memang ditentukan siapa penanggung jawab sekaligus pemimpin perjalan. Semua agar tak ada keributan selama liburan. Dulu ketika ke Solo, pemimpinnya Eddy. Ke Bandung dipimpin Dinda dan ke Semarang juga di pimpin Eddy.
“Siaaaap!” kata anak-anak yang memang sengaja dikumpulkan oleh Adit.
“Ingat, kita mau ke villa di Bogor. Mungkin Abang sama Mamas ingat kemarin baru ke villa sama kakek. Tapi ke villa kali ini kita beda sedikit. Kita akan pasang tenda di halaman villa. Yang mau tidur di tenda harus siap. Kalau yang tidur di tenda itu mandiri, semuanya kita kerjakan sendiri. Tidak ada bantuan dari kakek dari bunda dari ayah atau pun dari para simbok. Anggap aja kita lagi camping Pramuka jauh dari orang tua. Jadi ingat ya yang mau ikut camping harus siap jadi tim survival yang handal,” kata Adit.
“Aku mau ikut! kata Gathbiyya dengan cepat.
“Wait and see Nona. Kita lihat di lapangan. Kamu benar-benar siap apa enggak,” kata Adit sambil tersenyum.
“Aku pasti siap dan akan siap di mana pun,” kata Biyya, dia memang tekadnya sangat kuat persis seperti Dinda.
“Nanti kita akan belajar bikin api unggun ya. Sepertinya mudah tetapi kita belajar dengan cara yang sesuai kondisi di lapangan. Biasanya kayu itu belum terlalu kering jadi kita memang harus benar-benar mencari kayu yang kering,” ujar Adit.
“Di sana sudah Ayah sediakan juga kayu bakar yang beli tapi kita harus cari buat awal api unggun. Jadi kita benar-benar melihat potensi yang ada di alam. Nanti kita benar-benar main yang real bukan yang bikinan,” jelas Adit. Semua anaknya memperhaatikan wajah hero mereka dengan mata berbinar.
“Oke siap Ndan,” kata Iban. Dia sudah exciting untuk liburan kali ini.
“Ayo kita baca doa dulu supaya perjalanan kita nanti selamat,” Adit pun memimpin doa perjalanan hari itu.
“Mi, Papi ada dinas dadakan keluar kota 3 hari, bisa tolong siapin pakaiannya?” pinta Ajat sambil meletakkan dompet dan kunci mobil di meja rias Santi di kamar mereka. Ajat membuka jas dan dasinya bersiap membersihkan diri. Dia melihat sudah ada baju bersih di ranjang mereka. Hanya Santi yang berlaku seperti itu, padahal Santi juga bekerja dan urus anak. Dua istri sebelumnyaa, tak bekerja dan tak urus anak taapi juga tak urus suami!
“Dan juga bawain dua sarung ya Mi,” pinta Ajat.
“Kenapa harus dua Pi?”
“Di kamar hotel nggak ada sajadah jadi Papi pakai yang satu buat sajadah karena kalau bawa sajadah kan lebih lebih tebal lebih berat,” balas Ajat sebelum masuk kamar mandi. Dia tak mau menatap mata teduh Santi. Dia sangat takut berbohong pada perempuan yang sangat baik itu.
“Oke,” kata Santi tanpa curiga.
“Nanti kalau HP Papi nggak aktif Mami jangan curiga ya, mungkin pas lagi meeting Papi matiin sebentar tapi pasti langsung Papi nyalain kok. Atau mungkin enggak ada signal.” Ajat teringat dia harus mempersiapkan mental Santi bila tak bisa menghubungi dirinya bila dia tak aktif ponselnya. Ajat baru selesai mandi.
“Anak-anak lagi ulangan umum Pi. Nggak mungkin Mami tinggal. Kalau pun Mami ikut mereka harus ikut. Mami nggak bisa lepasin anak-anak 3 hari,” kata Santi sambil balik badan. Dia kecup bibir suaminya agar tak kecewa. Buat Santi anak-anak adalah segalanya.
‘Aku terlalu bodoh bila melepas kamu, aku terlalu bodoh bila meninggalkan wanita sebaik kamu. Mereka bukan anak kandungmu aja kamu sebegitu besarnya cinta pada mereka.’ Ajat sadar siapa istri ketiga nya ini. Tak seharusnya disakiti dengan kebohongan.
“Tapi Mami bisa kan antar Papi ke bandara?” pinta Ajat pada Santi. Dia peluk erat dan ciuman panjang pun dia lakukan.
“Nggak bisa Pi. Mami besok pagi ini ada meeting. Papi bilangnya ngedadak seperti ini. Enggak enak dong sama konsumen kalau tiba-tiba batalin meeting,” Santi menjawab setelah terengah akibat perbuatan suaminya.
“Iya sih, Papi juga perjalanannya ngedadak. Ya udah deh kalau Mami nggak bisa anterin ke bandara. Asal malam ini dapat bekal dulu,” Ajat memberi kode minta jatah.
“Tiketnya mana Pi? sudah di print atau masih barcode?”
“Coba lihat di dompet, tadi sudah Papi print dan ada di dompet,” jawab Ajat membuka pintu karena Farouq mengetuk pintu sambil memanggil maminya.
Santi membaca jam keberangkatan di tiket untuk besok.
“Iya Pi, jam segini kita harus berangkat 2 jam sebelumnya kayaknya Mami nggak bisa. Maafin ya?”
“Iya nggak apa-apa.” kata Ajat.
“Kamu sudah cancel tiketnya?” bisik Ajat.
“Sudah sejak siang tadi Pak?” jawab orang yang dihubungi Ajat.
“Ya sudah, pokoknya begitu sudah saya print udah nggak ada masalah kalau di cancel. Dia sudah lihat prit an tiket. Itu yang penting,” jawab Ajat.
Rupanya Ajat berbohong kepada Santi dia tidak pergi ke Tomohon dia dan sekretarisnya punya rencana lain hanya mereka berdua yang tahu.