
“Aku mau bicara kapan kita bisa?” tanya Gultom pada Sondang seakan sambil lewat karena saat itu mereka mau naik bus ketika hendak pulang. Semua memang berkumpul di kantor cabang Fahrul. Mobil pribadi ada di sana dan berangkat ke lokasi naik satu bus saja.
Saat itu Sondang tak bisa menjawab apa pun. Dia tidak bisa mengelak atau membantah dia hanya mengangguk lalu dia naik ke dalam bus. Gultom langsung mengangkat barang-barang inventaris yang tadi diturunkan dari bus.
Sondang naik belakangan karena dia harus mengurus sisa konsumsi. Box box yang masih utuh dia bagikan kepada keluarga para karyawan. Tentu saja tak ada yang menolak rezeki seperti itu. Karena itu bukan makanan bekas. Itu sisa konsumsi yang masih utuh. Tidak ada yang ngacak-ngacak. Karena anak-anak pun tidak diperbolehkan ngacak-ngacak lauk atau nasi. Mereka diajarkan harus habis sesuai dengan porsi yang ada.
Seperti biasa kalau barang-barang para emak rempong tentu mudah bila kebawa oleh yang lainnya misal tupperware Puspa kebawa oleh Ajeng itu hal biasa dan akan dikembalikan saat pertemuan mereka berikutnya atau dititip via suami mereka. Jadi sudah hal yang tak perlu dibahas lagi.
Masih ada yang ketinggalan nggak?” tanya Adit.
“Coba OPERASI SISIR dulu, takut ada barang terjatuh,” saran suami Wika yang sangat pendiam.
Para bapak pun melakukan operasi sisir atau OPERASI SEMUT, takut ada sampah yang belum dibuang pada tempatnya atau barang terjatuh. Ternyata benar Ajat menemukan satu set kunci entah itu kunci motor atau rumah atau apa pun. Nanti akan diumumkan di dalam bus.
“Nggak ada lagi?” tanya Bagas.
“Ini sudah nggak ada bos. Kita kan sudah dua kali sisir artinya sudah aman,” jawab Ilham.
“Ada perlu apa?” tanya Sondang. Hari ini hari Minggu dan Sondang mempersilakan Gultom datang ke rumahnya bersama inang. Mungkin inang ada sesuatu yang dibutuhkan lagi di rumah ini.
Gultom tentu saja tidak menolak kesempatan untuk kembali datang ke rumahnya. Dia berjanji pada Sondang akan datang sepulang gereja.
Tarida dan Theresia tahu, pasti orang tuanya ingin bicara karena tak mungkin papanya datang tanpa persetujuan mama. Seperti pembicaraan semalam, Gultom memang datang setelah pulang gereja, jadi sekalian keluar dari rumah. Dia datang bersama inang tentunya.
“Kemarin saya ikut acara bakti sosial PT Alkavta itu karena pak Adit yang mengajak, bukan saya meminta. Walau itu awalnya karena saya memang mendatangi Bu Dinda dan pak Adit,” kata Gultom menceritakan kronologis mengapa dia bisa ikut acara bakti sosial hari Sabtu kemarin. Gultom tentu tak mau dituduh oleh Sondang ingin merusak reputasi Sondang di PT Alkavta.
“Ngapain kamu ketemu pak Adit dan Bu Dinda?” tanya Sondang.
“Saya jujur ingin kembali bekerja di perusahaan itu. Perusahaan yang mempekerjakan saya sejak NOL, perusahaan yang membesarkan saya. Dulu alasan saya keluar saya ceritakan pada Bu Dinda dan pak Adit. Saya terpaksa keluar dari PT Alkavta karena saya butuh makan. Saya butuh tempat tinggal. Kalau saya tetap bertahan di sana, saya bekerja tapi tidak punya penghasilan. Saya isi perut bagaimana, karena gaji saya kan langsung masuk rekening istri. Itu alasan saya dan pak Adit pun mengerti.”
“Sekarang saya ingin kembali itu juga tidak dipermasalahkan oleh bu Dinda. Hanya dia tidak mau ada bentrokan karena kita dalam satu perusahaan. Sehingga beliau minta saya minta izin kamu dulu boleh atau tidak saya kembali bekerja di sana. Kalau dari Bu Dinda dan pak Adit tidak ada masalah.”
“Saya akan mendaftarkan rekening opung untuk penerima gaji saya. Karena saya juga tidak mau kembali salah langkah. Semua gaji maupun fee akan masuk langsung ke rekening opung. Saya tidak mau pegang uang lagi, sehingga berakibat saya akan berjalan miring. Kalau kamu mau rujuk tentu gaji akan langsung masuk rekeningmu kembali,” ucap Gultom.