GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BUNDA PUNYA ADIK LAGI SAJA



Hari ini aqiqahan Biru. Tentu saja semua personil tinggi  PT Alkavta Prima Maju ada di sana kecuali Sondang tentunya. Bahkan pak Eddy juga hadir.


“Ada apa dengan Sondang?” tanya Dinda.


“Kemarin dia pamit pulang cepat Bu,” jawab Ilham kepala cabang tempat Sondang bekerja.


“Ada apa?”


“Sepertinya pak Gultom kritis. Dia mencoba bu-nuh diri,” jawab Ilham lagi.


“Astagfirullah. Kenapa bisa seperti itu?” tanya Dinda tak percaya.


“Entah Bu. Saya tidak tahu. Mungkin teman-teman yang perempuan bisa mencoba bertanya pada Bu Sondang dan memperingan bebannya. Kasihan dia,” ucap Ilham bersimpati.


“Baik nanti saya akan bilang pada Ajeng dan Wika untuk bertanya kepada bu Sondang. Karena Santi tentu tak bisa diajak kompromi masalah ini. Dia masih belum bisa pergi-pergi. Untuk mencari info seperti ini tak bisa by phone. Harus pendekatan face to face,” jelas Dinda.


“Istri saya bisa kok. Istri saya free,” kata Ilham.


“Oke kalau begitu. Saya akan minta semuanya lah selain Santi. Takutnya Wika masih repot dengan si kecil yang sedang banyak bergerak,” kata Dinda karena anak Wika sudah 11 bulan dan sedang mulai jalan.


Pengajian aqiqah dari Biru sukses tentu saja Ajat baru satu kali ini merasakan acara tersebut. Kedua anaknya dulu tak pernah dilakukan pengajian. Ibunya yang memesan pada jasa aqiqah dan membagi-bagikan tanpa ada pengajian di rumah. Jadi hanya pesan di tempat pelaksanaan aqiqah saja tanpa ada pengajian di rumahnya lalu langsung dibagi-bagikan begitu saja.


“Terima kasih ya Mi, karena kamu aku bisa merasakan menjadi ayah yang seutuhnya. Tiga anak yang aku miliki, baru satu kali ini aku mengadakan aqiqah,” kata Ajat.


“Bersyukur lah Pi, masih diberi kesempatan seperti itu,” jawab Santi. Dia mengusap lembut pipi Biru. Santi bahkan tak percaya diberi kesempatan memiliki putra kandung setelah Ajat nekad melakukan vasektomi dulu.


“Belumlah. Nanti habis nifas aku langsung pakai kontrasepsi agar tak terlalu dekat jarak dengan adiknya,” jawab Santi.


“Ya pengalaman dari Ajeng membuat kita harus seperti itu,” kata Wika. Dia juga langsung memasang kontrasepsi begitu selesai nifas agar tidak seperti Ajeng.


“Itu mah karena pak Shindu aja yang kegatelan,” kata Puspa.


“Alah pasti sama aja sama suami kalian, kayak nggak ngerti aja,” jawab Ajeng membela suaminya.


“Ya lagian kamu juga sih nggak cegah,” kata Wika.


“Aku nggak berpikir seperti itu. Begitu Baim lahir aku langsung pasang pengaman jangan sampai terulang kembali,” kata Ajeng. Tentu saja semua tertawa mendengar itu.


Mereka tadi sudah diberitahu oleh Dinda masalah Sondang. mereka harus membantu agar beban pikiran Sondang berkurang itulah enaknya di PT Alkavta saling mendukung dalam kesulitan seperti ini.


Dinda membawa keenam putra dan putrinya di acara pengajian ini. Begitu pun yang lainnya tak ada yang ditinggal karena ini kesempatan juga untuk berkumpul.


“Bunda punya adik lagi aja,” pinta Biyya saat L=melinhat Dinda memangku Biru.


“Nggak Yang. Cukup … cukup,” kata Dinda sambil menggeleng. Dia merasa sudah tak sanggup lagi bila punya baby. Terlebih kalau Allah memberi lagi bagi kembar, bisa berabe untuk dirinya.


“Insya allah Bunda sudah cukup. Tapi kita juga nggak tahu yang penting Bunda sudah mencegahnya untuk punya adik lagi. Cukup kalian berenam yang menghiasi hari-hari Bunda,” ulas Dinda.


Adit juga rajin kontrol tentang kesuburannya sejak dia operasi, karena takut-takut nanti bocor bisa bahaya. Terlebih usia Dinda semakin tua, tentu dia tak mau repot dengan kondisi kesehatan. Bukan repot dengan bayi tapi kondisi kesehatannya juga harus dipertimbangkan. Terlebih sekarang mereka harus sangat fokus pada kesehatan Eddy jadi memang bukan lagi untuk mendapatkan bayi. Tapi mengurus yang sudah ada termasuk Eddy tentunya.