GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TERIMA KASIH ATAS KEBODOHANMU



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



‘*Selamat ya, aku memang enggak ngecek kopi pertama. Tapi reaksi pengecekan live steaming kopi kedua lebih yahud kan*?’



‘*Kamu salah cari lawan! Aku bukan bela Adit untuk diriku, tapi aku memperjuangkan Adit untuk anak-anakku dari perempuan buruk seperti kamu*!’



‘*Karena aku yakin kalau aku tidak ada, anak-anakku akan kamu sia-siakan. Karena yang kamu butuhkan hanya Adit, bukan anak-anakku,  jadi aku melakukan semua ini demi anak-anakku*.’



‘*Terima kasih atas kebodohanmu dari istri Adit, Adinda Suryani*.’  itu WA dari nomornya Adit tapi atas nama Dinda



Meliana membaca di nomor ponselnya. Tapi dia tak bisa apa-apa lagi karena pesan itu juga di screenshot dan dikirimkan di media sosial oleh Adit, tentu dengan mencolek akun media sosialnya juga beberapa teman SMA mereka.



Semua pun membela Adinda Suryani istrinya Adit karena memang benar yang diinginkan Meliana hanya Adit semata. Kalau Adinda tidak ada tentu Meliana tidak akan ngurusin Ghibran dan Ghifari anak anaknya Adit.



Para orang tua di sekolah yang Meliana pimpin juga membenarkan hal itu. Sebagai pimpinan sekolah anak-anak, tak pernah satu kali pun Meliana menegur anak-anak asuh yang masih sangat lucu. Jiwa keibuan Meliana sama sekali tak terlihat, semua lebih membela Adinda.



“Aku nggak nyangka Dinda sampai seperti itu,” kata Eddy ketika dia kembali ke kantor bersama Bagas dan 2 orang pegawai kantor beserta pak Pujo.



“Iya Pak, sejak hari pertama Bu Dinda tahu soal kopi, Bu Dinda memang sudah bilang dia nggak akan pernah membiarkan Bu Meliana bebas begitu saja.” balas Bagas.



“Kok tahu?” kata seorang teman Bagas.



“Kan bersama pak Adit dan  Bu Dinda waktu bu Meliana minta bertemu berdua dengan Pak Adit. Saat itu Bu Dinda sudah punya feeling enggak bener makanya dia ngajak aku dan dia sudah bawa gelas tupperware buat bawa sampel kopinya,” kata Bagas.



“Siapa sih yang bisa ngalahin Bu Dinda?” kata pegawai lainnya yang sudah tahu sepak terjangnya Dinda di kantor.



Eddy ingat kasusnya Tasih juga Dinda yang membongkar.



Untungnya Dinda tidak perlu menggeret-geret polisi atau sebagainya. Kasus langsung dibuka lantang di media sosial oleh ibu-ibu.



“Saya yakin besok 90% orang tua akan mundur. Begitu pun 50% para karyawan akan mundur karena malu bekerja di Yayasan yang ketua yayasannya cabul seperti itu,” kata Eddy pada saat mereka akan makan siang di rest area jalan tol.




“Pasti Yayasan itu hancur,” jawab yang lain.



“Ya sudahlah kita ngilangin uang proyek enggak apa apa yang penting keluarganya Adit dan Adinda selamat,” kata Eddy.



Meliana memperhatikan data para guru yang minta mengundurkan diri. Selain guru ada resepsionis dan juga beberapa orang tata usaha yang mundur. Kebanyakan yang mundur adalah para perempuan. Kalau yang laki-laki mereka masih bertahan karena berpikir ulang mereka harus membiayai hidup rumah tangga keluarganya.



Walau pasti yang sudah beristri juga akan dimonitor oleh para istrinya mengingat ketua yayasannya sangat buruk kelakuannya seperti itu. Kemungkinan suami mereka bisa aja kan jadi korban untuk pemuas nafsu ketua Yayasan.



Mungkin mereka juga bertahan sambil cari kerja tempat lain dulu bila sudah tak dapat tempat baru baru mereka akan mengundurkan diri.



Kalau dari siswa itu mayoritas tak ada yang mengundurkan diri secara resmi, tapi hari ini 90% siswa sudah tidak hadir lagi di sekolah.



Tak ada yang mau lagi sekolah di tempat yang seperti tersebut. Selain gurunya juga memang sudah tidak ada jadi orang tua siswa tidak ada yang mau menyekolahkan anak-anaknya di situ lagi



Meliana melihat kondisi kelas yang kosong baru dia merasa semuanya sia-sia setelah kelakuan dia terobsesi pada Adit.



Andai setelah kasus pertama kopi yang diketahui Dinda dia diam, tentu Yayasan masih aman tapi karena dia tak mau kalah dia harus menjadi pemenang, maka dia berupaya agar bisa memenangkan Adit dengan cara apa pun.



“Anak-anak enggak sekolah hari ini?” tanya Adit saat menyiapkan air hangat buat mandi para jagoan yang baru selesai makan pagi dan belepotan wajah serta pakaiannya.



“Kalau aku lihat 90% dari para orang tua sudah mundur Yah. Enggak mungkin anak-anak sekolah di sana lagi, gurunya pun sudah pada mundur,” jawab Adinda sambil menyiapkan baju ganti anak-anak juga perlengkapan lain semisal minyak telon dan colonge anak-anak.



“Enggak apa apa lah anak seumur itu masih mudah cari sekolah lain tanpa perlu surat pindah dari sekolah lama,” jelas Dinda.



“Bagaimana kalau sekalian cari sekolah dekat rumah Ayah aja? Kamu tinggal di rumah Papa, kita kembali ke sana,” usul Adit walau dengan agak ragu.



“Sepertinya itu harus dipikir ulang,” jawab Dinda sambil meninggalkan lantai atas.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok