GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SEMUA SALAH AYAH



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Kali ini yang membantu Ghibran dan Ghifari adalah para mbok. Mereka kadang membantu mengambilkan sesuatu agar terbiasa dengan si kembar. Mbok Asih dan mbok Marni tentu senang kembali mengurusi kedua jagoan Alkav.



“Habis ini bawa ke halaman belakang aja Mbok, buka bajunya biarkan cuma pakai diapers. Biarkan mereka main bola di rumput,” kata Dinda.



“Biasanya mereka dibiarkan untuk berjemur. Sehabis itu basuh aja kalau tubuh mereka sudah agak dingin dan siap menonton atau main menjelang tidur,” Dinda menjelaskan rincian kegiatan mereka pagi hari.



“Injih,” jawab Mbok Marni.



“Nanti sehabis makan kami bawa mereka main bola tanpa pakaian di halaman belakang.”



Dinda bergegas menyiapkan makanan buat dibawa oleh Adit dan Edi ketika si kembar dibawa oleh para simbok ke belakang untuk bermain sekalian berjemur



Eddy dan Adit tentu saja tak mau melepas kesempatan itu, mereka melihat bagaimana si kembar berlarian di halaman belakang sambil tertawa dan berteriak senang.



\*‘Alhamdulillah, aku masih bisa melihat mereka tertawa seperti itu,’ \*batin Eddy terharu mengalami kesempatan berbahagia ini.



‘*Maafkan Ayah ya Nak. Ayah melewatkan masa-masa pertumbuhan kalian semua karena kesalahpahaman dari Bunda. Tapi bukan salah Bunda kalian, memang awalnya kesalahan karena Ayah mempunyai perempuan selain Bunda, sehingga Bunda langsung terluka kembali ketika ada perempuan lain mendekati Ayah. Semua salah Ayah*,’ batin Adit.



‘*Alhamdulillah semua siap. Biar mereka berangkat kerja, habis itu aku pulang saat jam tidur anak-anak agar enggak rewel dan jalan belum macet*,’ kata Dinda dalam hatinya.



Seperti tadi yang Dinda beritahu, sehabis mereka bergerak anak-anak dibiarkan cooling down dulu, mereka dibiarkan tidak panas badannya baru dibasuh dan digantikan baju oleh para simbok.



Sehabis itu mbok membawa mereka ke ruang bermain yang memang sejak dulu sudah disiapkan oleh Eddy dan Adit



“Nanti aku langsung pulang ya setelah anak-anak makan siang,” Dinda memberitahu Adit di ruang main anak-anak. Tentu Dinda tak mau berada dalam kamar hanya berdua dengan mantan suaminya itu.



“Biar aku yang antar aja,” tolak Adit melarang Dinda pulang sendirian.



“Kamu kan repot bawa dua anak ambil nyetir mobil,” Adit masih bersikeras dengan argumennya.



“Aku enggak sambil menggendong mereka atau memangku mereka. Mereka juga enggak akan rewel karena sehabis makan siang saat jam mereka tidur. Mereka enggak akan rewel karena kan tidur di car seat mereka masing-masing,” jawab Dinda dengan santai. Tak ada beban mengasuh dan menjaga dua anak sekaligus.



“Kenapa enggak bareng aku aja sih? Aku enggak akan ngapa-ngapain kok. Bisa aja antar kalian,” desak Adit lagi.



“Bukan soal itu, tapi kamu kan harus kerja. Nanti pulang kerja aja kamu ke rumahku,” kata Dinda menawarkan Adit datang ke rumahnya.




Adit diam, dia tak bisa membendung kemauan Dinda. Kalau Dinda sudah punya mau sejak dulu memang seperti itu, harus terjadi.



“Tapi aku khawatir karena kamu bawa dua anak,” masih saja Adit beralasan dengan dua anak yang Dinda bawa.



“Enggak apa-apa aku bisa kok, sejak dulu aku kan memang sendiri bahwa mereka. Jadi enggak masalah. Terlebih mereka ada di car seat. Jadi enggak problem,” jawab Dinda masih dengan penuh percaya diri.



“Mau ditemani simbok?” Radit menawarkan wacana lain.



“Enggak perlu jangan merepotkan siapa pun. Aku bisa sendiri kok. Itu sudah risiko punya anak kembar. Memang tidak semudah ibu dengan satu anak.”



“Terserah lah kalau memang kamu tidak bisa saya larang,” akhirnya Adit menyerah.



“Iya, lagian kan kamu butuh mobilmu untuk mobilitas.”



“Kalau soal mobil ku gampang, aku bisa aja kan menyuruh sopir bawa mobil. Bukan soal itu, tapi aku enggak tega aja kamu pergi bawa dua anak.”



“Sudah enggak usah dipermasalahkan, take it easy,” kata Dinda.



“Baiklah,” kata Adit menyerah.



“Pa, nanti saat jam tidur anak-anak, aku akan pulang agar tidak terlalu repot dan jalanan sudah sepi dari orang berangkat kerja ya,” Dinda pamit pada Eddy sebelum mertuanya berangkat kerja.



“Kenapa enggak tunggu bareng Adit aja?” tanya Eddy.



“Enggak apa-apa biarin aja kalau Mas Adit mau ke sana ya ke sana aja. Kalau mau menginap kan dia juga butuh bawa baju dan segala macam nya, dia kan belum siapin,” kata Dinda.



“Aku bisa siapin sekarang, lalu langsung berangkat,” kata Adit.



“Enggak usah, biar aku sendiri aja,” tegas Dinda tak mau diantar Adit sehingga Eddy dan Adit tak berani mendebat nya lagi.



Adit dan Eddy pun berangkat kerja diantar dengan iringan lambaian tangan kedua jagoan kecilnya Dinda. Ada kebahagiaan membuncah di d@da dua senior Alkav itu. Kebahagiaan seorang kakek dan seorang ayah yang mendapat support dari Alkav muda.



Adit dan Eddy sesungguhnya sama-sama berat meninggalkan kedua jagoan di rumah, tapi mereka memang harus kerja jangan karena adanya Ghibran dan Ghifari mereka jadi mbolos kerja. Kalau itu terjadi bisa-bisa Dinda melarang mereka bertemu kembali. Adit dan Eddy yakit Dinda akan memberi sangsi bila mereka membolos kerja walau perusahaan milik sendiri.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok