GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
DUA OPTION



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Jadi maunya ibu Dinda bagaimana?” tanya Taufik. Dia butuh kepastian agar tak salah langkah.



“Saya akan membebaskan dari tuntutan hukum bila tante Lilis mengakui semuanya latar belakang dia bercerita pada ibunya Shalimah. Itu pun akan saya krosscek dulu, kalau ada kebohongan dua-duanya akan saya tuntut.”



“Tuntutan saya enggak berat-berat kok tuntutannya perbuatan tidak menyenangkan karena ingin merusak rumah tangga saya mungkin bisa 2 sampai 3 tahun, lumayanlah tinggal makan tidur gratis di dalam penjara,” kata Dinda.



“Silakan Ibu Lilis dipikir dulu mau jawab sekarang atau langsung kita bertemu di kantor polisi lusa jam 10.00 pagi. Saya akan hubungi Ibu. Nomor telepon Ibu sudah saya dapat dari Pak Adit barusan tanpa saya minta dia sudah mengirimkan nomor telepon Ibu,” kata Taufik.



Padahal Radite dan Taufik aja baru kenalan. Bagaimana bisa Radite mengirim nomor teleponnya ke Taufik?



Sayangnya Lilis sudah tidak cermat karena sudah ketakutan. Biar bagaimana pun bersinggungan dengan hukum tentu dia tidak berani macam-macam.



Terlebih Eddy tadi bilang bahwa Eddy sudah menghubungi kakaknya dan memberitahu bahwa Lilis dipanggil karena ada sesuatu hal yang membuat menantu Eddy merasa terganggu.



Lilis menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan tapi berbohong pun sudah tidak mungkin karena sudah jelas Jasmine ibunya Shalimah mengakui bahwa yang menyuruh adalah dirinya.



“Maaf saya permisi dulu. Saya ingin lihat anak-anak,” kata Dinda. Tanpa menunggu jawaban Dinda pun masuk meninggalkan tiga laki-laki itu bersama Lilis.



“Sekarang kamu sudah jelaskan? Menantu saya itu tidak pernah main-main. Jujur saya tidak tahu kalau yang dia bilang mau panggil pengacara itu adalah serius. Saya pikir dia hanya menggertak kamu,” kata Eddy.



“Dinda itu tidak bisa diprediksi, pikirannya sangat tajam, dalam hal apa pun terlebih dalam bisnis. Dalam urusan kantor, saya enggak pernah memutuskan apa-apa tanpa sepengetahuan Dinda. Karena perhitungan dia itu sangat akurat.”



“Kalau dia bilang belum waktunya cerita dia tak akan cerita seperti saat dia lihat kamu. Dia pasti sudah curiga,  tapi dia tak bilang sama saya kejadian 2 tahun lalu. Kalau dia punya feeling kamu bergerak dia pasti langsung cerita.”



“Kemarin saat ada tamu ibunya Shalimah, saya enggak tahu kalau dia keluar kamar sudah bawa uang di sakunya. Jadi benar-benar tidak ada yang tahu bagaimana cara pola pikir Dinda bergerak.”



“Intinya kalau sekarang kamu sudah diberi kesempatan buat mengakui semuanya atau pilihan kedua kamu mau di proses hukum kamu tinggal pilih aja. Dinda masih baik hati dia kasih kesempatan kamu untuk dibebaskan bila kamu bercerita.”



“Tapi saya enggak yakin kamu akan bebas begitu saja dari sangsi yang dia buat. Mungkin sangsi hukum dia tak akan proses seperti janjinya. Tapi sangsi sosial pasti dia bikin, saya kasih tahu aja itu.




“Dia tidak melaporkan ke ranah hukum tapi dia bisa menghancurkan yayasannya tak bersisa. Benar-benar tak bersisa, sekarang Yayasan tersebut sudah bangkrut.”



“Dan kemarin sudah dibeli oleh Adit melalui kuasa hukum. Jadi Adit pun tidak bertemu dengan pemilik yayasan. Yang penting izin yayasan tersebut dan tanahnya sudah kami beli.”



“Iya Pak, Saya dengar kasus itu. Saya tak menyangka Bu Dinda bisa bergerak seperti itu sampai menyiapkan tissue dan segala macamnya.”



“Dia cermat sampai hal kecil sekali pun.  Dia yang menyuruh saya menaruh CCTV portable,” kata Adit.



“Padahal di dalam ruangan situ kan ada CCTV-nya tapi tak bisa kita akses bebas.  Tak hilang akal Dinda menaruh CCTV portable sehingga semua terekam dengan jelas. Itu enggak akan orang tahu kalau memang bukan orang teliti seperti Dinda.”



“Kamu tahu kasus itu?” tanya Eddy pada Lilis.



“Enggak,” jawab Lilis, karena memang dia tidak tahu.



“Kasus itu kemarin viral. Ada seorang perempuan dari Radit SMA sudah naksir. Ketemu lagi dia pemilik Yayasan sekolahnya anak-anak. Lalu sejak pertemuan itu, ketua yayasan tersebut ingin memiliki Adit dengan cara memberi perangsang di kopinya agar dia bisa membuat rekaman CCTV. Rekaman saat mereka berdua melakukan hal tidak baik.”



“Tapi sebelum itu terjadi, rekaman dia memberi sesuatu di dalam kopi juga rekaman dia membuka baju Adit dan semuanya itu langsung Dinda sebar di media sosial sehingga nama yayasannya hancur. Semua guru juga wali murid dan pegawai malu sekolah di situ dan langsung keluar.”



“Itu yang saya bilang, kamu memang tidak akan dihukum secara pidana atau perdata saya nggak tahu, tapi kamu pasti akan kena  sanksi sosial dari Dinda. Itu tidak bisa kamu hindari . Walaupun kamu memilih jalur hukum sekali pun kamu tetap akan kena sanksi sosial. Dinda tidak pernah main-main pada orang yang merugikannya.”



“Beberapa kali dia bilang dia tidak akan mempertahankan Adit untuk keutuhan rumah tangga mereka. Dia mempertahankan Adit untuk menjadi ayahnya anak-anak. Jadi bukan kepentingan dirinya yang dia perjuangkan, tapi kepentingan anak-anaknya.”



“Seperti induk ayam yang marah kalau anaknya terusik, seperti induk harimau yang menerkam bila anaknya terganggu, itulah Dinda.”



“Kamu mengganggu anak-anaknya secara tidak langsung karena membuat Dinda dan Adit tidak nyaman, sehingga anak-anak seperti sekarang. Harusnya mereka seharian bersama ayah dan bundanya jadi terpotong karena kamu membuang waktu mereka. Itu Dinda tidak suka,” kata Eddy



“Sekarang silakan kamu bicara dengan Pak Taufik. Saya hanya akan menunggu dan mendengarkan saja.”


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.