
“Saya lemah jantung,” kata Gultom. Tentu dia tidak bercerita apa penyebab utama dia masuk rumah sakit. Gultom bercerita bahwa dia pingsan di kantor dan di bawa oleh anak buahnya ke rumah sakit terdekat dengan kantornya.
“Mohon maaf Pak saya tidak memberi kabar pada Bapak, karena saya benar-benar blank dan baru sadar kemarin, tapi dokter langsung memberi izin pulang setelah dua hari sadar,” ungkap Gultom.
“Yang penting saya masih istirahat di rumah, biar tidak terbebani di biaya.”
Saat mengantar keluar para tamu, inang minta waktu bicara sebentar dengan Pak RT.
“Pak seperti yang tadi pagi tadi siang anak saya telepon. Mohon maaf kalau itu mengganggu Bapak,” ucap inang hati-hati.
“Seperti Bapak tahu anak saya lemah jantung dan dia tak ingin ditekan oleh Bu Neni karena perlakuannya sudah tidak wajar. Tiap pagi menunggu di pintu mobil dan kalau malam dia sengaja menunggu depan pintu, supaya bisa ikut masuk ke dalam rumah. Itu membuat putra saya tertekan. Mohon dibantu Pak.”
“Tadi sebelum ke sini saya sudah ngobrol dengan para keamanan Bu. Dan kami memang sudah mendapat laporan bahwa betul beberapa kali Pak Gultom menunggu di pos satpam, bahkan beberapa kali pula Pak Gultom minta diantar pulang ditunggu sampai dia masuk rumah, bukan hanya sampai depan pintu pagar. Melainkan sampai dia masuk rumah dan dia kunci pintu rumahnya. Persis seperti anak kecil yang ketakutan. Kami mengerti dan itu akan kami tindak lanjuti lagi,” kata Pak RT, sebelum dia menghampiri para rekannya yang menunggu untuk kembali pulang bersama.
Inang plong mendengar pak RT akan menindak lanjuti masalah bu Neni.
“Kami biasa kok naik taksi online. Dulu waktu zaman Papa masih sama kami juga pernah kan beberapa kali. Kenapa Papa aneh seperti itu? Apa Papa lupa kebiasaan anak-anaknya?” kata Icha ketus.
“Mungkin karena terlalu banyak tante yang dia pikirin, sehingga Papa lupa sama kebiasaan kita. Bahwa kita bukan anak kecil. Kita sudah beberapa kali dipanggilkan taksi online buat pulang sekolah atau berangkat sekolah,” timpal Tarida. Opung termenung mendengar percakapan itu. Kedua anak itu tak salah karena ini memang bukan pertama kali. Dan mereka selalu naik taksi online yang dipesan Sondang. Artinya Sondang mengetahui hal itu dan punya nomor pengemudi serta nomor mobil. Lebih aman dari pada menggunakan taksi biasa untuk anak seumur mereka.
“Atau memang di benak Papa sudah tidak ada kita lagi Eda, sehingga semua memori tentang cerita kita itu sudah hilang,” ungkap Icha dengan beraninya. Jangan lupa, sikap keras Gultom dan Sondang bersatu di diri Icha.
Gultom tak percaya putrinya yang baru berusia 10 tahun dan 12 tahun bisa bicara seperti itu. Sungguh di luar logika.
“Opung mana tante baru yang ngajar-ngejar Papa?” tanya Tarida.
“Kalian tahu dari mana?” tanya Marion.
“Kami tahu sendiri. Mama mana pernah cerita. Kita tinggal tunggu saja. Begitu Papa satu kali lagi bermain mata, kami langsung mundur seperti yang kami bilang, kami punya daddy, punya papa lain, punya ayah, punya papi, nggak takut kehilangan Papa Gultom,” opung bingung siapa yang dimaksud cucu-cucunya dengan daddy, papa, papi dan ayah.