
“Oke nggak apa-apa semoga cepat sembuh,” kata Dinda. Itu yang Adit dengar saat dia masuk ke ruang makan. Dinda sedang menerima telepon di nomor rumah bukan di ponselnya, karena ponsel Dinda tadi ada di kamarnya. Mungkin orang itu menghubungi tak diangkat maka menghubungi nomor rumah.
“Siapa Bun?” tanya Adit.
“Pak Shindu,” jawab Dinda.
“Kok tumben dia telepon hari Sabtu dan ke nomor rumah?” Adit tentu bertanya karena tak biasa Shindu seperti itu. Sepenting apa pun pekerjaan kantor pasti akan di bahas saat jam kerja. Bukan saat libur.
“Dia cuma kasih tahu anaknya yang kedua sakit, sehingga kemungkinan hari Senin Ajeng nggak bisa ikut meeting. Dari tadi dia telepon Bunda cuma nggak bisa nyambung karena ponsel Bunda ada di kamar,” jawab Dinda.
“Anaknya yang kedua kan baru umur 4 bulan atau lebih ya?” kata Adit meyakinkan dirinya.
“6 bulan Yah. Kakaknya 17 bulan. Kan mereka sundulan,” jawab Dinda.
“Yang adik yang laki kan?” tanya Adit. Dia memang tak terlalu hafal dengan anak dari para pegawainya walau itu Shindu sekali pun.
“Ya anak pertama mereka perempuan, lalu anak kedua lahir pada saat anak pertama baru berusia 11 bulan,” Dinda membenarkan apa yang Adit katakan.
“Sakit apa?” tanya Adit sambil meminum air putih. Dia ke belakang memang ingin minum.
“Dehidrasi karena dia muntaber dan barusan pak Shindu bilang sudah diinfus sejak semalam, tapi karena si kecil yang sakit tentu mamanya pasti jaga full di rumah sakit. Papanya yang akan bolak-balik.”
“Terus si kakak di mana?” tanya Adit. Biar bagaimana pun sebagai seorang ayah dia pasti berpikir tentang anak-anak. Kasihan anak Shindu bila ditinggal hanya dengan pembantu saat kedua orang tuanya fokus pada si adik di rumah sakit.
“Sepertinya dengan ibunya Ajeng, karena ibunya Pak Shindu kan tidak tinggal di sini,” jawab Dinda.
“Syukurlah kalau ada yang jaga si sulung,” balas Adit.
“Ya nanti sore kita bisa nengok,” jawab Adit setuju.
Dinda langsung menuju kamarnya ingin memberitahu tentang kondisi anak kedua Ajeng pada five little star.
‘Kalau mau bareng nengok, nanti sore ketemu di rumah sakit jam 03.30 ya.’ Dinda juga memberitahu Velove.
Ternyata yang bisa janjian datang hari itu hanya Puspa bersama Ilham dan Santi bersama Ajat. Yang lain belum bisa. Dinda malah senang seperti itu, karena bisa gantian yang hari ini berhalangan besok datang, sehingga Ajeng tidak akan kesepian. Tetap banyak teman yang memberi support saat putranya sakit.
“Semangat kamu nggak boleh sedih, ini ujian buat kamu. Kadang kalau lagi kayak gini kita langsung bilang : udah deh aku berhenti kerja saja karena anak-anak lebih membutuhkan aku,” kata Dinda pada Ajeng didengar Santi dan Puspa.
“Tapi nanti begitu kita berhenti kerja, kita stres sendiri. Kita merasa jadi perempuan yang nggak berguna, karena kerjaan kita hanya dapur, anak-anak, kamar tidur, balik lagi ke dapur, kamar belajar anak dan seterusnya. Kita merasa hidup kita kosong. Aku bisa ngomong gini karena aku pernah merasakannya. Jadi lebih baik kita tetap manfaatkan kemampuan kita. Nggak salah kok perempuan kerja, tapi kita tetap nomor satu kan anak dan suami!”
‘Wah afirmasinya Bu Dinda keren banget.’ batin Ajat. Dia yakin Santi juga pasti akan berpikir berhenti kerja saja setelah punya anak. Padahal nanti dia juga akan mengalami baby blues pada saat sehabis melahirkan. Merasa tak dihargai, merasa sangat tertekan dan lain sebagainya. Ajat juga tak akan menghalangi istrinya terus bekerja. Buktinya selama ini Santi bisa full perhatian pada Mischa dan Farouq padahal Santi bekerja dan kedua anaknya itu menyita perhatian yang sangat besar. Terlebih Mischa yang mulai ABG, pasti perhatiannya beda kepada Farouq yang laki-laki dan masih kolokan.
“Iya Bu saya yakin saya bisa kok,” kata Ajeng.
“Ibu saja 6 anak saat mereka masih kecil banget jaraknya dekat bisa. terlebih saya. Alhamdulillah sejak kelahiran si bungsu saya langsung KB sehingga nggak mau kesundulan lagi.”
“Ingat-ingat San, begitu lepas nifas kamu KB. Jangan sampai kesundulan karena aku merasakan pada saat Ghaidan, begitu kami kumpul lagi langsung jadi,” ucap Dinda.
“Niat saya juga gitu kok Bu. Insya Allah satu dulu saja yang dari saya. Karena saya punya dua yang lainnya. Mereka itu permata saya Bu. Kalau tanpa mereka pun, saya nggak akan kenal suami kok. Saya nggak akan membuat mereka merasa tersisih.” jalas Santi yang jelas di dengar Ajat.
“Bayi ini juga kemauan papinya kok, dia ingin saya bisa merasakan jadi perempuan seutuhnya. Padahal buat saya dua anak yang sudah ada pun itu cukup,” kata Santi lagi.
Ajat walaupun masih bicara dengan Ilham, Shindu, dan Radit tetap mendengarkan percakapan para perempuan itu. Dia makin cinta pada Santi mendengar bagaimana pengakuan Santi pada Dinda bahwa dia sangat menyayangi Mischa dan Farouq anak kandung yang awalnya malah tak dia pedulikan sama sekali.