
“Coba kamu hubungi detektif yang biasa kita pakai,” kata Eddy kepada putranya mendengar penculikan anak dari salah satu pegawai Dinda.
Biar bagaimana pun persoalan ini juga mengganggu emosi Dinda karena dia tak bisa membayangkan seorang anak yang jauh dari ibunya. Anak itu pasti ketakutan dan sedih dan sang ibu juga gelisah terlebih sang ibu sedang hamil pasti sangat kebingungan.
Tadi memang Puspa menghubungi Dinda melaporkan bahwa mereka membawa Santi yang sudah semakin parah kondisi kejiwaannya.
“Baik Pa, aku akan hubungi mereka,” jawab Adit. Tanpa menunda dia langsung menghubungi detektif yang digunakan waktu mencari Dinda hampir 10 tahun lalu.
Tentu saja personalnya sudah banyak yang ganti tapi karena bironya tetap terpercaya maka Adit pun segera menghubungi mereka.
Adit minta foto Farouq dalam berbagai pose. Tampak depan, tampak kanan dan juga tampak kiri. Adit juga minta rekaman CCTV dari sekolah yang digunakan untuk melapor ke polisi untuk diberikan kepada biro detektif yang disewanya. Ajat sangat berterima kasih atas bantuan Adit itu. Dia pun langsung memberikan data yang dibutuhkan Adit.
“Oh iya tadi saudaranya bilang ada keluarganya yang tinggal di Majalengka atau Ciranjang,” kata Ajat pada Adit.
“Minta nomor telepon dan alamatnya, biar detektifnya mencari kedua lokasi tersebut,” balas Adit.
Adit ingat bagaimana mencari Dinda dulu. Akhirnya dia bisa menemukan secara tak sengaja tapi semua lokasinya itu kan dicari berdasarkan detektif. Hanya karena ancaman Dinda lah detektif berhenti mencari.
“Aku berharap bayinya nggak apa-apa,” kata Velove di perjalanan.
“Kalau masih ada asupan nutrisi yang bagus walaupun hanya melalui infus pasti bisa bertahan. Dulu si kembar Ghifari dan Ghibran ibunya sedang koma saja bisa bertahan kok. Masa anaknya Santi enggak. Yang penting asupan gizi dari infusnya masuk terus,” kata Bagas.
“Aamiin,” jawab Velove. Dia sungguh tak tega bila Santi harus kehilangan bayinya juga Farouq karena belum tentu Farouq akan kembali dengan selamat.
Tentu saja kantor sedikit berduka, semua sedih mendengar berita tentang sakitnya Santi juga penyebab awal mengapa Santi bisa sakit. Tak ada canda lagi di seluruh kantor cabang. Semua sedih mendengar berita itu karena memang ikatan kekerabatan di kantornya Dinda sangat erat. Terlebih mereka rutin melakukan family gathering tiap 6 bulan sekali sehingga pertalian persaudaraan semakin erat.
“Kalian semua cari info ya, kali aja ada yang lihat tentang sosok Farouq,” Itu pengumuman di setiap kantor cabang. Managemen memberikan foto Farouq di email semua karyawan mendapat berita tersebut. Semua diminta mencari keberadaan Farouq.
Dengan semakin banyak mata pasti akan semakin besar kemungkinan Farouq ditemukan. Begitu prinsipnya Adit karena itu dia memerintahkan Shindu mengirim pada semua email karyawan.
Tolong semua karyawan tidak perlu menengok Santi. Cukup kepala divisi saja agar tidak terganggu dan lagi Santinya juga tidak bisa terima tamu. Hanya keluarganya yang menerima. Jadi lebih baik hanya kepala divisi saja yang menjadi perwakilan,” kata Dinda pada semua kepala divisi. Dinda melarang pegawai tak ada yang boleh menengok Santi di rumah sakit agar Santi tak terganggu.
Tanpa protes karyawan tahu kebijakan Dinda. Karena pasien memang sangat butuh istirahat.