
“Inang aku rasa cukup ya. Aku mau langsung pulang saja,” pamit Sondang.
“Maaf, apa nggak minum dulu?” tanya Gultom berupaya menahan Sondang agar lebih lama di rumahnya.
“Tidak usah lah. Jadi ngerepotin Inang nantinya, karena tuan rumahnya kan lagi sakit,” jawab Sondang cepat.
“Abang dari mana saja?” celetuk seorang perempuan yang tiba-tiba ada di depan pintu. Dia tak memberi salam atau basa-basi lainnya, padahal di situ ada Sondang dan inang.
“Siapa dia?” tanya inang dalam bahasa Medan tak suka.
“Tetangga seberang rumah,” jawab Gultom dingin.
“Aku kangen Abang loh dan tiap pagi jadi nggak bisa ikut mobil untuk berangkat ke pasar,” kata perempuan tersebut.
“Wah rupanya sudah punya gebetan baru di sini. Aku akan beritahu anak-anak biar mereka tahu akan ada tante baru buat papa mereka,” kata Sondang sinis.
“Jangan … jangan! Aku tak punya affair apa pun dengan dia!” seru Gultom panik. Dia sangat ketakutan bila sampai Tarida dan Theresia salah menduga.
“Maaf anda siapa ya?” tanya inang Gultom pelan dan lembut dengan bahasa Indonesia.
“Oh ini ibunya ya Abang? Wah maaf saya lupa memberi salam. Saya tetangga depan Bu. Tiap pagi saya ikut Abang Gultom saat dia berangkat ke kantor. Saya suka ikut sampai pasar sih, karena saya memang tidak kerja kantoran. Jadi nggak ikut sampai kantor. Saya hanya jualan online. Tapi kalau pagi kan butuh sayuran di pasar,” jelas perempuan itu merinci jati dirinya. Dia bicara seperti itu tanpa salim pada inang. Kalau dia ingin jadi calon menantu, tahu yang datang adalah ibunya lelaki yang dia sukai setidaknya dia memberi salim kan?
“Bukannya di sini banyak tukang sayur ya? Anakku bilang aku tak perlu pergi ke pasar, hanya cukup nunggu tukang sayur tiap pagi sejak jam 06.00 pagi sudah keliling,” balas opung tegas.
“Banyak sih Bu, tetapi kan saya biar sekalian jalan sama bang Gultom,” jawab perempuan itu sambil masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi depan Gultom.
“Please jangan katakan apa pun pada Theresia dan Tarida. Aku benar-benar tak ada hubungan apa pun dengan dia,” rengek Gultom.
“Kamu bicara sajalah dengan inang. Tak ada urusan dengan aku. Yang aku tahu anak-anak harus mengetahui hal ini.”
Gultom sangat marah dengan kondisi ini
“Bu Neni sudah berapa kali saya bilang kan, saya sudah berapa kali menolak kalau Ibu ingin ikut mobil saya ke pasar. Tapi Ibu selalu menunggu di depan pintu mobil saat saya mau berangkat kerja. Saya sudah bilang saya tidak suka, karena nanti orang akan memandang saya buruk. Saya tinggal sendirian jauh dari keluarga, tapi Ibu selalu saja sengaja menunggu di depan pintu mobil saya. Sekarang saya bermasalah dengan Ibu saya. Tolong katakan yang sebenarnya bahwa kita tak ada hubungan apa pun,” kata Gultom dengan bahasa Indonesia dan intonasi keras serta tegas.
“Kita memang belum ada hubungan apa pun. Tapi kan bukan menutup kemungkinan kita berhubungan kan? Bahkan mungkin hubungan kita bisa ke jenjang yang lebih tinggi. Abang free, saya free. Kenapa jadi Abang marah seperti itu?”
“Lihat itu kan yang aku tak boleh katakan pada anak-anakku?” kata Sondang kembali dengan bahasa Medan. Tentu saja ibu Neni yang asli Sunda itu tak mengerti.
“Sabarlah Butet,” bujuk inang.
“Ingat-ingat anak-anak sudah memberi kesempatan satu kali dan tak ada kesempatan untuk yang kedua. Kalau tiap hari dia dengan perempuan seperti ini, dia itu gampang tergoda. Ketemu di konter pulsa saja, dia tergila-gila sama Pratiwi. Ketemu di gereja dia tergila-gila sama Niken dan Pricilla. Lebih-lebih tiap hari jalan bersama ke pasar dan lihat pakaiannya dia seperti orang kurang bahan. Pasti kalau hanya berdua juga bisa dia tarik roknya tinggi-tinggi sampai pangkal paha,” kata Sondang.
“Anak-anak tak bisa tidak mengetahui hal ini. Aku tak mau anak-anakku terluka jadi lebih baik putuskan saja pilih anak-anak atau dia,” kata Sondang.
“Kalau dia perempuan baik-baik dan ingin jadi menantu Inang, setidaknya dia memberi salim kan pada calon mertua. Tapi apa yang dia lakukan? Datang nyelonong. Dan tahu ada ibu dari lelaki yang dia inginkan saja dia tak sopan. Aku yakin anak-anakku tak mau punya ibu tiri tak waras seperti dia,” kata Sondang sambil langsung keluar rumah. Sekarang Gultom tak bisa mencegah lagi, karena Sondang langsung pergi keluar dan sudah langsung masuk mobilnya.
“Bang-sat kau Bu Neni! Keluaaar!” teriak Gultom. Dia mengusir perempuan itu dan dia langsung menghubungi pak RT melalui telepon genggam.