
“Saya pikir pak Adit bersama Bu Dinda,” kata inang.
Adit menunggu di teras ruang rawat. Dia tak mau mengganggu Dinda dan dia yakin kalau ada dirinya Sondang tentu sulit terbuka pada Dinda. Jadi Adit hanya menunggu. Saat itu inang pikir Adit pergi jauh jadi dia di dalam. Begitu keluar inang kaget ternyata Adit tak ikut dengan Dinda dan Sondang.
“Tidak Inang, mereka membicarakan masalah kantor yang tak berhubungan dengan program kerja saya. Sehingga saya tidak mau intervensi biar bu Dinda saja dengan Bu Sondang,” kata Adit.
“Silakan Inang. Ini tadi saya beli di depan buat segar-segar,” Adit mempersilakan inang makan buah segar potongan yang dia beli di depan rumah sakit.
“Iya terima kasih,” jawab inang Gultom.
“Jangan asal jawab terima kasih Inang. Ayo kita makan. Ini banyak loh. Inang harus jaga kesehatan,” ucap Adit. Inang pun akhirnya makan buah yang ditawarkan Adit
“Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi?” tanya Dinda. Mereka hanya berdua di cafe.
“Saya bingung Bu, mau mulai dari mana. Ibu sudah tahu kan soal pernikahan Gultom dengan dua perempuan lain dan ada satu perempuan yang waktu itu sedang dia dekati. It's over!” kata Sondang.
“Tapi ternyata ada masalah lain yang mengikuti Bu.”
“Rupanya kedua perempuan itu mau dinikahi karena Gultom mengaku saya mandul! Jadi mereka mau jadi istri kedua Gultom,” desah Sondang. Dia tarik napas berat.
“Bodohnya mereka mereka mau jadi istri simpanan. Kalau memang mau jadi istri kedua harusnya mereka tanya saya benar nggak saya mandul! Mereka mau jadi istri simpanan. Bahkan mereka tahu saya Gultom dan anak-anak sering ke gereja bersama. Mereka satu gereja dengan kami Bu. Mereka santai saja. Entah apa motivasi mereka mau jadi istri simpanan seperti itu, melihat suami mereka bersama saya dan anak-anak yang mungkin dibilang adalah keponakan saya.”
“Pengakuan Gultom bahwa saya mandul membuat anak-anak terluka Bu. Terlebih sebelum kejadian ini, Gultom bilang pada Tarida dia hanya mencintai saya dan anak-anak. Di situ masalah dimulai.”
“Tarida langsung protes kalau Gultom hanya mencintai saya dan anak-anak mengapa dia bisa menikahi perempuan lain? Pasti ada kebohongan kan? Entah bohongnya terhadap saya dan anak-anak bahwa sebenarnya Gultom mencintai perempuan-perempuan itu atau kebohongan pada perempuan-perempuan itu. Itu yang ada di benak Tarida dan Theresia.”
“Sampai situ persoalan ternyata belum selesai padahal saya bawa mereka ke psikolog Bu. Dengan waktu konsultasi berbeda agar mereka lepas membicarakan apa yang ada di benak mereka. Mereka masih rutin konsultasi, saya pikir saya bisa mengatasi semua ini dengan bantuan psikolog.”
“Ternyata tiga hari lalu Tarida bertemu dengan salah satu istri Gultom. Tarida langsung buang muka karena dia benci perempuan tersebut. Dan memang perempuan tersebut tidak waras. Dia langsung menegur Tarida dan bilang : seharusnya Tarida tidak membencinya, tapi membenci papanya saja karena dia tidak bersalah. Bapaknya yang berbohong mengatakan saya mandul,” kata Sondang.
“Saya melihat di video yang dibuat orang-orang, Tarida langsung ngamuk dia mengatakan : tante tidak pintar kalau percaya omongan laki-laki seperti itu. Seharusnya tante kroscek dulu ke mama saya kalau Tante ada sedikit otak! Bayangkan Bu, anak saya masih kecil tapi bahasanya sudah terlalu kasar seperti itu. Mungkin saking dia tak bisa menahan luapan emosinya,” kata Sondang. Dinda masih diam dia belum mau interupsi apa pun. Dia masih ingin membiarkan Sondang puas bercerita mengeluarkan unek-unek apa yang ada dalam benaknya.