GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MEREKA MENGENALINYA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Tanpa diduga hari ini Adit malah dapat order real walau pun tadinya hanya untuk cari anak dan istrinya saja. Adit pun langsung setuju karena ini memang bukan kerja sesungguhnya.



“Minggu depan aku kembali ya. Aku akan bawa MOU kita,” kata Adit.



“Tolong berikan emailmu untuk kita diskusi tentang MOU karena data di MOU tidak boleh salah,” jawab Adit lagi.



“Kirim datanya ke email ini ya, data nama yayasan dan nama orang yang akan kontrak,” jelas Adit. Adit memberikan kartu namanya, di sana ada email perusahaan. Bukan email pribadinya. Juga nomor telepon kerja bukan nomor pribadinya.



Adit tentu sangat hati-hati memberi nomor personal terlebih setelah kasus Merrydian. Dia tak ingin ada kasus selanjutnya dengan salah paham karena ada nama perempuan di ponselnya walau siapa pun itu.



Cukup kesalahan dengan Merrydian terjadi. Walau sekarang tak ada Dinda secara langsung di sisinya, tapi selalu ada dalam hati dan otaknya. Dia tak mau ada hal fatal lagi.



“Baik nanti aku akan kirim data via  email,” itu kata Meliana.



 Oke pembayarannya sudah jelas kan 30 ~ 30 ~ 40,” jelas Adit.



“Pembayaran 30% saat MOU,  30%  bila pekerjaan sudah 25% dan sisanya pada saat penandatanganan serah terima barang,” papar Adit.



“Iya aku ngerti,” jawab Meliana yang masih sedikit kecewa karena tak ada harapan mendekati Adit. Andai Meliana tahu status Adit adalah duda pasti dia akan mengejar Adit sampai ke lubang semut sekali pun karena sejak dulu memang dia sangat menyukai Adit.


\*\*\*



Meliana mengantar Adit keluar ruangannya saat itu kembali Dinda melihat karena dia habis keluar dari toilet. Tadi Dinda pamit pada guru si kembar ingin ke toilet karena ingin buang air kecil.



“Seriusan ya Dit ya jangan sampai enggak.” Dinda mendengar kata itu keluar dari mulut ibu ketua yayasan.



‘*Wah ternyata mereka kenal dekat karena tak ada kata Pak atau Bapak dari mulut ibu ketua yayasan*,’ batin Dinda. Dia sengaja langsung sembunyi karena tak ingin terlihat oleh mantan suaminya itu.



“Aku nggak janji,” jawab Adit.



“Soalnya mereka kan juga harus atur waktu. Dan aku sudah sangat lama enggak bertemu dengan siapa pun dari teman-teman. Nanti aku kasih tahu mereka dulu deh atau aku kasih tahu nomor kamu ke mereka biar kamu langsung kontak mereka untuk atur jadwal,” jawab Adit lagi.



‘*Rupanya mereka teman lama*,’ kata Dinda. Dinda tak bisa segera keluar dari tempat persembunyian nya karena Adit dan ibu ketua yayasan masih ngobrol di depan ruangan yang akan Dinda lewati.



“Ya sudah aku sampai sini ya, aku ada kerjaan lain,” kata Bu Meliana.



“Oke see you, nanti aku akan kasih tahu teman-teman,” jawab Adit.


\*\*\*



Hari ini Wahid sengaja menunggu Dinda di depan sekolah si kembar tadi dia mengikuti Dinda sejak dari ruko yang menjadi rumah tinggal Dinda. Sekarang dia sudah tahu di mana si kembar bersekolah.




“Wa’alaykum salam. Eh pak Wahid,” kata Dinda kaget kenapa ada lelaki itu di sini.



“Sedang apa disini Pak?” tanya Dinda basa-basi.



“Baru anter perlengkapan keponakan. Kebetulan keponakan saya sekolah di sini. Mamanya sedang punya baby jadi minta saya menitipkan pesanannya dia di sekolah kepada babysitter-nya atau ke drivernya.” jawab Wahid dengan lancar seakan memang benar yang dia katakan.



“Oh gitu Pak,” jawab Dinda santai. Jangan kira Dinda tak tahu kalau sejak dari rumah mobil sport Wahid mengikutinya. Mobil sport kan jarang. Kalau sejak keluar ruko sampai gerbang sekolah ada mobil sport terlihat di kaca spion apa Dinda tak curiga. Kalau mobil mahal lain tapi bukan mobil sport tentu umum di jalanan.



“Iya anak kakak saya udah usia 3 tahun lalu sekarang kakak punya bayi umur 2 bulan, jadi dia nggak sempat ke toko saya. Dia minta barangnya dikirim ke sekolahan aja diberikan kepada sopir atau baby sitternya,”  jawab Wahid.



“Si kembar sekolah di sini juga?” tanya Wahid.



“Kalau mereka nggak sekolah disini, ngapain coba saya ada di sini?” tanya Dinda.



“Kali aja anda seperti saya hanya mengantarkan barang,” jawab Wahid.



“Kebetulan saya tidak promo dagangan saya pada ibu-ibu di sini Pak. Saya tidak mau konsentrasi untuk anak saya terpecah dengan pekerjaan. Di sini saya hanya mau konsen untuk anak bukan untuk cari makan. Mari  Pak, permisi,” kata Dinda.



Dinda segera masuk ke mobil nya karena si kembar sudah ada di dalam bersama pengasuhnya.


\*\*\*



“Aduh aku harus bagaimana lagi? Semua cara sudah aku lakukan. Susah banget sih naklukin kamu?” kata Wahid saat Dinda meninggalkan dirinya.



Wahid benar-benar tak ingin mundur. Wahid semakin penasaran bagaimana caranya biar bisa dapetin Dinda.


\*\*\*



“Yayah!” teriak Ghifari. untung semua kaca sudah ditutup sehingga suaranya tak akan mungkin terdengar keluar.



Dinda kaget menengok apa yang membuat di Fari teriak YAYAH, karena Yayah adalah panggilan kedua anaknya untuk Adit saat mereka melihat video Adit atau foto Adit.



Gibran pun langsung menengok siapa yang dipanggil Ayah oleh Ghifari dan Gibran dan juga ikut berteriak.



“Yayah!” kata Gibran.



Rupanya kedua putra Dinda melihat Adit yang sedang akan memasuki mobilnya.



Adit langsung keluar dari yayasan tersebut dia lupa kalau akan menunggu sampai waktu pulang sekolah karena tadi saat pagi dia sudah bertemu Meliana sehingga enggak tuntas melihat siapa aja siswa yang ada di yayasan ini.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya  yanktie yang lain dengan judul  BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK  yok