GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TISSUE DENGAN NODA LIPSTICK



Adit selesai membersihkan diri ketika Dinda juga selesai memompa ASI-nya. Biasanya Dinda memompa ASI di kamar bayi. Dinda membereskan alat-alat pompa ASI lalu dia Simpan ASIP-nya ke dalam freezer ASI di kamar bayi.


Adit memeluk erat istrinya. Met bobo ya Sayank,” Kata Adit. Dinda tak menjawab, dia hanya memeluk Adit dengan erat.


Adit tahu Dinda pasti terbawa emosi mendengar Velove yang mencecar Bagas terus menerus.  Adit harus segera menyelesaikan masalah ini. Kalau tidak istrinya akan terbawa-bawa emosinya.


Sampai persoalan jelas Adita tak akan menyerah.


Hari ini hari pertama Fari dan Iban masuk SD. umur mereka baru 5 tahun lewat tapi di yayasannya mereka sudah boleh masuk SD. Karena kemampuan kedua anak itu sudah melebihi yang lainnya. Tolak ukur di sekolah itu bukan umur tapi kemampuan.


Sedang hari ini Ghaidan masuk TK. Triplet sudah berusia 4 bulan. Perkembangan mereka juga sangat pesat. Sekarang si bungsu Ghaylan beratnya sudah sama dengan kedua kakak kembarnya.


Bahkan kemampuan motoriknya lebih bagus si bungsu karena minum ASInya lebih banyak. Kalau yang lain satu kali minum 100 mili Ghaylan si bungsu minta 150-200 ML. Kalau langsung dari tubuh Dinda, dia akan minum paling lama.


“Gas. Saya mau bicara,” pinta Adit saat dia baru datang sehabis mengantar anak-anak sekolah hari pertama. Adit dan Dinda sengaja menemani mereka sejak masuk sampai istirahat pertama. Sekarang anak-anak pulang sudah jam 02.00 siang. tadi Adit menemani sampai jam 11.00.


“Iya Pak,” jawab Bagas. Dia santai saja, dia pikir akan mebicarakan masalah proyek.


“Kemarin waktu kita rapat sejak berangkat kamu sudah di absent oleh Velove. Ada apa sebenarnya?” tanya Adit langsung ke pokok persoalan.


“Enggak ada apa-apa Pak,” jawab Bagas serba salah.


“Istri saya bilang kalau seorang perempuan sudah curiga dia punya feeling yang bagus bahwa suaminya tak bisa dipercaya.”


“Kamu tolong jujur aja daripada istri saya kepikiran terus. Dia yakin Velove sudah mencium sesuatu yang enggak benar. Saya peringatkan kamu agar kamu tidak terjatuh seperti yang saya alami. Belum tentu Velove akan memaafkan kamu seperti Dinda memaafkan saya,” ucap Adit.


“Pengorbanan seperti itu sekarang akan kamu nodai dengan kelakuanmu ?” tanya Adit.


“Sebenarnya enggak ada apa-apa sih Pak kalau dari saya,” kata Bagas memulai ceritanya.


“Di ujung Perumahan, ada seorang janda anak satu yang baru pindah. Suatu pagi dia kesiangan enggak dapat-dapat mobil, sehingga saya ajak dia berangkat bareng ke kantor karena kebetulan satu arah.”


“Sejak itu pernah beberapa kali dia saya angkut. Saya ingat saya 4 kali dia ikut ke angkut mobil saya. jadi tidak tiap hari berturut-turut Pak.”


“Setelah 4 kali itulah Velove melihat tisu bekas lipstik di mobil saat dia ikut ke sekolah anak kami.”


“Padahal saya dan kenalan baru itu enggak ngapa-ngapain. Mungkin janda itu membersihkan lipstiknya atau apa saya enggak tahu. Dan kenapa juga tissue itu di buang di lantai mobil.”


“Saya sudah jelaskan dan saya beritahu siapa orangnya tapi Velove sudah tidak percaya pada saya lagi.”


“Sejak saat itu saya enggak pernah lagi ngajak perempuan itu Pak. Walau dia ada di tepi jalan, saya enggak mau memberhentikan mobil saya lagi. Karena saya yakin banyak penghuni perumahan yang melihat saya membawa perempuan tersebut. Nanti dampaknya akan berakibat fatal bagi rumah saya rumah tangga saya.”


“Sekarang sudah fatal kan? Istrimu sudah tidak percaya kamu. Apa komunikasimu masih bagus?”


“Komunikasi sudah tidak bagus lagi Pak. Dia enggak pernah bercerita pada saya atau menjawab pertanyaan saya. Komunikasi hanya berupa pertanyaan dari dia saya berada di mana dan saya harus share loc saat itu.”


“Sampai sebegitu parahnya rumah tanggamu? Itu masih bagus karena dia masih bisa marah tidak seperti Dinda begitu marah langsung jauh dan urus surat cerai. Hati-hati pada perempuan yang diam,” saran Adit. Dia sudah dua kali ditinggal Dinda.