GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
INGIN MENCICIPI CILOK



“Loh Kakak ngapain?” kata Ajat yang baru keluar kamarnya.


“Mami ngajakin aku. Aku mau ikut,” jawab Mischa.


“Kalau mau ikut pakai jaket Kak  dan pakai celana panjang. Jangan celana pendek seperti itu, dingin dan banyak nyamuk di luar,” kata Ajat. dia sangat perhatian, beda sama Ajat yang dulu.


“Iya memang. Aku juga nanti akan ganti. Ini kan Mami baru nawarin. Aku malah baru nanya apa boleh,” jawab Mischa.


“Pasti bolehlah kalau Mami sudah nawarin. Papi juga tadi mau ajak kamu kok. Tapi tadi kan Papi ambil uang dulu,” ucap Ajat. Dia ambil uang tentu di dompet istrinya. Di dompetnya mana ada uang cash? Paling banyak hanya dua lembar merah, malah saat ini hanya ada satu lembar biru saja.


“Tumben Papi sadar ambil uang,” kata Mischa.


“Itu karena Mami ingetin Kak ,” jawab Santi.


Mischa tentu saja tertawa papinya memang seperti itu. Selalu merasa semua-semua bisa dibayar dengan kartu. Karena beberapa kali dia berdua pergi dengan papinya, Santi minta beli buah dan Ajat berhenti di kios buah pinggir jalan dia lupa bayar dengan kartu. Sehingga akhirnya Ajat berputar dulu cari ATM untuk bayar belanjaan mereka.


Mereka berjalan bertiga bersisian. Mischa di tengah tentunya orang akan melihat mereka adalah keluarga bahagia dengan satu anak yang sudah ABG dan akan tambah anak lagi.


Mereka mencari tempat di pojokan, tempatnya itu hanya payung tenda yang ada mejanya kelilingnya yang melekat di besi payung. Ada 4 kursi di situ.


“Kayaknya cari yang lesehan aja deh Pi. Nggak enak duduk di kursi seperti ini,” kata Mischa. Dia tahu maminya tentu tak nyaman duduk di kursi seperti itu, tak ada sandarannya.


“Sebentar ya Papi cari area lesehan yang masih ada space buat kita berempat,” kata Ajat. Tentu saja dia menghitung istrinya adalah butuh dua tempat.


Airnya Ajat menemukan satu lokasi lesehan yang masih ada. Dia memesan dua sekoteng untuk dia dan Santi nanti terserah Mischa mau minum apa yang penting dia ambil tempat dulu.


Ajat melambai pada Santi dan Mischa untuk menghampiri ke arahnya.


“Papi sudah pesan sekoteng. Kakak mau apa Kak? Mami mau apa?” tanya Ajat.


“Mau kok. Mami mau. Beli itu Pi. Ada gerobak bajigur sama aneka rebusan. Beli kacang bogornya aja. Kayaknya enak banget kacang bogor rebus,” kata Santi. Di tukang bajigur ada pisang rebus, jagung rebus serta ubi rebus selain kacang tanah dan kacang bogor.


“Bajigurnya dibeli nggak?” tanya Ajat. Dia takut salah.


“Nggak Pi. Mami nggak kepengen bajigur. Pengen kacang rebusnya aja. Tapi kacang bogor, jangan kacang tanah biasa,” ucap Santi sambil mengaduk sekotengnya.


“Iya Papi tahu,” ucap Ajat. Dia segera pergi menghampiri pedagang kacang yang istrinya inginkan.



“Kakak mau apa Kak? Bilang aja,” kata Santi pada Mischa.


“Belum kepengen apa-apa Mi. Lagi lihat-lihat,” Mischa memandang berkeliling tak ada yang dia inginkan saat ini.


“Mami, itu ada cilok. Aku belum pernah ngerasain karena kan selama ini nggak boleh,” ucap Mischa.


“Cobain aja sedikit. Nggak apa-apa. Boleh sama Mami kalau sudah izin dan tak sembunyi-sembunyi,” kata Santi. Memang di sekolah dia tidak boleh jajan apa pun tanpa sepengetahuan Santi. Kalau dulu sebelum jadi anaknya Santi tak tahu. Tapi sejak menjadi anaknya Santi benar-benar menjaga anak-anak tak boleh jajan apa pun. Selalu dia bawakan bekal snack mau pun makanan besar.


“Ya sudah aku beli ya. Aku minta uang dong Pi,” todong Mischa saat Ajat baru saja tiba membawa contong koran berisi kacang bogor rebus yang diinginkan Santi.


Ajat memberikan uang rp 10.000-an 5 lembar. Takut belanjaannya terlalu murah, sehingga tak ada kembalian bila diberi menggunakan uang 50.000 atau 100.000-an.


Mischa pun pergi berkeliling sendirian, Santi dan Ajat hanya mengamati dari jauh.


Mischa membeli siomay, selain cilok yang tadi dia inginkan. Untuk minumnya dia pesan bubble tea.