
“Ya sampai umur satu tahun kamu itu anak saya. Sejak mulai hamil semua saya yang membiayai ibu kamu dan kamu. Sejak dari kamu di perut, hingga kamu lahir dan semuanya biaya saya tanggung sampai biaya hidup kamu umur 1 tahun. Itu semua saya yang urus karena ayah kamu tidak berani mengakui kamu itu anaknya! Dia baru berani mengakui setelah kabur dari Indonesia dan menceraikan istrinya.”
“Saya akan hubungi Anda lain kali. Permintaan saya sekarang, bolehkah saya memeluk kamu satu kali saja?” tanya lelaki kecil itu tanpa ragu.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu telah menjaga saya sejak saya dalam kandungan sampai saya lahir. Itu adalah peran penting bagi seorang manusia kalau tidak dijaga oleh ayahnya tentu kita semua ini tidak ada,” ujar Bram atau David.
Adit sebenarnya ragu, dia memandang Dinda dan Dinda memberi senyum manis pada suaminya serta mengangguk kecil mengizinkan suaminya memeluk Bram.
Adit membentangkan tangannya membiarkan David McKenzie atau Bramantyo Setyo memeluknya.
“Terima kasih Papa. Kamu telah hadir di awal kehidupanku. Aku tak akan pernah melupakan itu. Dan soal orang tuaku biar aku sekadar tahu saja. Kalau mereka harus ditangkap aku dan adikku harus survive.”
“Kalau soal itu saya sudah tidak mau tahu lagi. Kalau dia ditangkap oleh kepolisian atau interpol, saya tidak urusan lagi. Karena saya juga berpikir kasihan kalian bertiga nanti tidak ada yang pelihara. Karena ibu kamu itu anak yatim piatu, sedangkan saya nggak tahu ayahmu apakah masih ada yang mau menganggap dia saudara. Jadi saya tidak berurusan dengan masalah kepolisian atau interpol. Kalau dia ditangkap atau dua-duanya ditangkap itu bukan akibat perbuatan saya. Saya juga punya anak, jadi saya tidak mau ada anak-anak yang terlunta-lunta akibat perbuatan kedua orang tuanya. Jadi saya berani pastikan kalau itu terjadi saya bukan pelaku yang melaporkannya,” jelas Adit berulang. Dia memastikan tak jahat walau sangat membenci Shalimah.
“Boleh saya memeluk Anda juga?” tanya Bram pada Dinda.
“Why not?” kata Dinda. Dia pun memeluk lelaki kecil itu. Juga mencium pipi dan keningnya.
“Kalian baik-baiklah di sini. Jaga adik-adikmu. Nanti kalau ada apa-apa kamu hubungi nomor telepon atau email yang ada di kartu tersebut,” kata Dinda lagi.
“Nggak nyangka ya Bun. Dia sudah dewasa seperti itu. Dia mengetahui semuanya dan langsung mencari sumber beritanya tidak mau korek-korek apa-apa dulu.” ucap Adit.
“Tapi memang dia harus tahu, agar bersiap kalau suatu saat interpol menangkap papanya sebagai gembong narkoba tentu ibunya akan juga terbawa dengan kasus buronannya. Sehingga dia yang akan menjadi tulang punggung adik-adiknya nanti,” kata Dinda lagi.
“Aku nggak berharap itu cepat-cepat terjadi. Aku berharap itu terjadi bila entah siapa sekarang anak itu namanya yang aku tahu dia bernama Bram sudah siap memikul beban menjadi tulang punggung,” kata Adit tulus. Biar bagaimanapun dia juga seorang ayah tentu nggak tega anak sekecil itu sudah menjadi tulang punggung dan sandaran kedua adiknya terlebih adiknya masih sangat kecil sekitar 4 atau 5 tahun.
“Semoga saja seperti itu Yah. Biar gimana pun kita punya anak-anak. Nggak bisa ngebayangin kalau anak-anak terpaksa kehilangan kasih sayang kita akibat kita di penjara,” kata Dinda.
“Itulah tadi ayah bilang. Ayah nggak akan ngelaporin karena kasusnya sudah ditutup sejak dulu. Kalau itu dibuka oleh orang interpol itu urusan mereka. Kalau dari ayah sudah tak akan pernah melaporkan untuk urusan pidananya. Tapi kalau urusan hati tetaplah. Namanya dongkol pasti masih tetap ada. Bohong kalau bisa hilang begitu saja,” jelas Adit.
“Tuh kan makanannya jadi dingin. Ayo kita langsung makan,” ajak Dinda. Dia pun mulai menyuap makanan yang mereka ambil dan ginger tea yang mulai dingin.
“Satu yang Ayah minta : jangan pernah Bunda seperti mama, jatuh kasihan pada anak-anak Shalimah dengan alasan kemanusiaan lalu mama angkat mereka. Bibit mereka telah terbukti buruk. Nanti rusak anak-anak kita. Ingat neneknya juga kemarin mau ngerusak juga,” ucap Adit.
Adit ingat mamanya Shalimah kan juga buruk perangainya.