GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
DOMINASI GATHBIYYA



Tidak terasa hari ini 1 tahun usianya si kembar tiga. Eddy meminta diadakan pengajian dengan anak-anak panti asuhan.


Eddy membelikan banyak souvenir alat sekolah untuk anak-anak panti asuhan. Selain itu Eddy sudah bicara dengan pengurus panti minta data siswa berprestasi untuk dia beri beasiswa tahunan. Jadi tergantung prestasi anaknya lanjut atau tidak. Yang pasti 1 tahun anak tersebut akan bebas biaya sekolah. Padahal selama ini anak panti juga umumnya dapat diskon dari sekolah tempat mereka belajar. Eddy minta 10 nama untuk penerima beasiswa tersebut selain souvenir tentu saja mereka semua dapat amplop masing-masing anak.


Tak ada nyanyian selamat ulang tahun atau pun kue ulang tahun. Semua tak boleh dilihat oleh anak-anak panti karena itu akan membuat kesenjangan antara anak panti dengan anak-anak Adit.


Yang ada hanya ucap syukur bahwa mereka ulang tahun. Itu saja. Makan pun makan bersama dengan semua anak panti asuhan tanpa dibedakan.


Walau semua nanti juga dapat nasi kotak untuk dibawa pulang. Yang penting di situ juga makan sepuas-puasnya.


Dinda menyediakan es puter sebagai pengganti es krim buat anak-anak. Mereka bisa makan sepuasnya.


Ghaylan si bungsu paling gesit dan paling gendut diantara ketiga saudara kembarnya. Ghazanfar si tengah paling cerewet padahal dulu dikira paling diam, tapi kalau untuk ukuran 3 anak itu si tengah paling cerewet. Yang pendiam malah Gathbiyya, dia diam dan manis.


Semua orang menyayangi Gathbiyya dengan porsi yang lebih walaupun sudah dilarang oleh Adit dan Eddy juga Dinda tentunya. Tak boleh menyayangi Gathbiyya secara berlebihan tapi tak ada yang bisa menahan tidak menyayangi gadis manis tersebut. Dia tidak kolokan apalagi cengeng. Sebagai satu-satunya anak perempuan dia tetap feminim tapi kuat.


Dinda sudah mempersiapkan semua kemungkinan, Gathbiyya harus dilatih secara perempuan berbeda dari yang lain. Dinda takutnya karena semua saudaranya laki-laki Gathbiyya malah cenderung lebih ke lelakian, tak ada sifat feminimnya. Karena itu Dinda dan Adit sudah berpikir pola asuh dan pola pendidikan untuk satu-satunya anak perempuan mereka itu.


“Kenapa harus dirubah sih Pa? Mereka enggak akan rebutan kok,” protes Dinda.


“Mereka tidak akan rebutan karena mereka semua cucu aku. Tetapi nanti di sebelah mereka ada pasangannya. Ada istri atau suaminya. Mungkin suami atau istrinya tidak tamak, tetapi keluarganya bisa jadi tamak dan itu akan menimbulkan perpecahan,” Eddy memberitahu alasan mengapa dia melakukan hal ini.


“Papa tidak mau hal itu terjadi jadi, lebih baik Papa bagi ulang,” kata Eddy.


Hari ini 2 tahunnya si kembar 3, dan Eddy melakukan pembuatan pembagian saham baru.


Awalnya saham masih atas nama Fari dan Iban saja karena Adinda tidak mau atas namanya. Adinda hanya sebagai pengampu sampai anak-anak dewasa. Sekarang Eddy minta dibagi 6 bukan hanya dibagi 2.


Semua sama rata. Tidak ada yang lebih kecil walaupun itu untuk Gathbiyya satu-satunya cucu perempuan Eddy.


“Aku merasa Gathbiyya lah yang akan menggantikan Adinda karena walaupun lembut tapi Gathbiyya biasa dan bisa memimpin Pa,” Adite meberikan pandangannya.


“Maksud Papa?” tanya Dinda.


“Kita belum tahu siapa suami Gathbiyya nanti. Takutnya suami atau keluarganya ingin menguasai semuanya secara perseorangan. Kasihan saudaranya yang lain.” jelas Eddy.


“Aku inginnya malah dipecah menjadi 6 perusahaan Pa, biar nggak ribet nantinya,” tegas Dinda.


“Kalian bisa bikin seperti itu nanti kalau anak-anak mulai SMA. Mungkin Papa sudah enggak ada. Jadi masing-masing punya perusahaan sendiri,” Eddy juga senang dengan pemikiran Dinda.


“Aku setuju dengan idenya Dinda Pa, biar masing-masing enggak main paling caplok,” Adit juga senang pemikiran Dinda barusan.


“Iya bisa juga seperti itu. Kalian bagi menjadi 6 perusahaan kecil. Biarkan mereka berkembang sesuai dengan kemampuan memimpin masing-masing anak kalian.” Eddy merestui niat baik itu.


“Ya Pak. Insya Allah kami akan bikin seperti itu saja kalau anak-anak mulai SMA. Mereka akan mulai memimpin sejak SMA. Tidak menunggu lulus dan mereka tetap harus kuliah sambil memimpin perusahaan,” ucap Dinda tegas.


“Kalian atur lah itu kan anak-anak kalian.”


“Kami inginnya Papa selalu mendampingi kami membimbing mereka. Enam anak itu sulit loh Pa. Papa membimbing satu hasilnya hampir amburadul,” kata Adit tanpa menyalahkan Eddy.


“Waktu itu fokus Papa dan mama hanya ke kesehatan mama sehingga melupakan kamu yang saat itu masih ABG. Masih usia SMP dan butuh perhatian lebih dari kami.”


“Ya Pa, aku merasakan itu kok. Sejak mama mulai sakit aku jadi terombang-ambing sendiri.”


“Waktu mama mulai sakit Papa memang bekerja lebih keras karena ingin mencari uang lebih banyak buat pengobatan mama. Maklum saat itu usaha kita masih merangkak sedang biaya rutin pengobatan mama sangat besar,” Eddy ingat cerita suramnya dulu.


“Papa juga lebih full memperhatikan mama tanpa memperhatikan kamu, itu kesalahan Papa yang sangat fatal. Untungnya Dinda bisa mengangkat kamu,” Eddy memandang menantunya dengan penuh syukur.


“Alhamdulillah aku masih diberi kemurahan rizky, sehingga diberi jodoh terbaik,” kata Adit sambil mengngecup telapak tangan Dinda dalam genggamannya. Dinda berkaca-kaca mendengar pengakuan itu.


Dinda sadar, memang harus super ekstra memperhatikan anak-anaknya.