
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Hari ini ada kejutan untuk Dinda yaitu kedatangan Eddy di ruko tentu saja Dinda tak percaya karena Adit tidak bercerita papanya akan datang. Bahkan Adit pun ikut terkejut. Dinda juga tidak siap apa pun, dia tidak masak karena itu tadi bilang pada Adit hanya akan beli gado-gado saja. Kalau untuk anak-anak Dinda sudah membuat soup sayuran dengan bola-bola ayam cincang.
“Sudah Din, enggak usah repot-repot, Papa cuma pengin ketemu sama cucu-cucu,” kata Eddy melihat Dinda langsung mengambil buah di kulkas.
“Enggak Pa, aku enggak repot, aku cuma bikin jus aja tadi kami habis belanja pagi. Jadi cuma ada buah aja ya. Nanti makanannya juga aku mau beli gado-gado,” kata Dinda jujur.
“Wah enak tuh,” jawab Eddy.
“Iya Pa. Gado-gadonya di sini enak. Bumbunya juga medok, nanti aku pesankan sekalian buat Papa yang enggak pedas,” jelas Dinda, karena Dinda memang belum menyuruh pegawainya untuk beli gado-gado.
Dinda hanya menambah goreng nugget saja buat anak-anak, karena tadi sudah masak sup untuk makan si kembar. Berarti sekarang soupnya bisa juga buat kakek.
“Kok Papa bisa sampai sini?” tanya Dinda sambil terus membersihkan buah.
“Tadi Papa cuma tanya sharelock aja ke Adit ketika sudah keluar dari tol Bekasi Barat,” jawab Eddy.
“Wah hebat tuh pak Suyono sampai enggak nyasar-nyasar,” ucap Dinda.
“Papa sama Pak Pujo kok, bukan sama Pak Suyono,” bantah Eddy.
“Oh gitu,” kata Dinda.
“Nanti aku suruh orang bawah untuk nyiapin minum Pak Pujo ya Pa.”
“Iya enggak apa apa, dia di bawah karena kalau Pak Pujo kan ngerokok, enggak seperti Pak Suyono. Enggak baik buat anak-anak,” kata Eddy yang mengerti mengapa Dinda juga tidak menyuruh Adit mengajak Pak Pujo ke atas.
Ghibran dan Ghifari belum bangun karena memang tadi habis makan siang mereka tidur.
“Pa, ini makan buah mangga dan juice buah naga ya Pa. Maaf enggak ada apa-apa karena memang di sini hanya seperti ini,” kata Dinda sambil memberikan satu piring potongan buah mangga dan juice buah naga sebagai kudapan siang itu sebelum makan.
Dinda lalu bicara di interkom menyuruh pegawainya membelikan gado-gado dua tidak pedas dan dua pedas.
Dinda juga minta belikan kerupuk bulat matang yang sudah ada di tukang sayur.
Eddy melihat sekeliling ruko. Ini bukan ruko sederhana ini sekelas apartemen dengan dua kamar besar. Walau pun berada di atas toko atau mini market yang Dinda jadikan tempat usaha.
\*‘Ini bukan sekadar rumah tinggal biasa ini sekelas apartemen mewah,’ \*batin Eddy mengamati semua ruangan.
“Pa, Papa tahu kejadian Bu Meliana kemarin?” tanya Dinda sambil terus di dapur.
“Iya, Papa tahu dia mau jebak Adit,” kata Papa sambil mengarah ke dapur. Eddy melihat pagar dapur warna warni yang memang di pesan khusus buat memagari aktivitas anak-anak di bawah 5 tahun. Dinda sengaja mengatur pagar itu agar anak-anak tak bisa ke dapur atau turun ke tangga juga keluar ke teras luar.
“Kenapa kaya gitu ya Pa? Aku bingung mau bertindak apa. Tapi aku tak akan membiarkan dia lolos seperti itu. Dia akan tuman kalau dibiarkan Pa,” kata Dinda kesal. Dinda memang sering bertukar pikiran dengan Eddy sejak dia masih gadis dan belum jadi kekasih Adit.
“Kamu mau bikin apa?” tanya Eddy curiga.
“Kalau lihat karakternya, dia itu enggak mau kalah. Jadi dia pasti akan coba lagi dan lagi,” kata Dinda.
“Sebelum kita permalukan dia, dia tetap akan tenang karena dia berpikir aku enggak akan mencoret namaku sendiri. Dia pikir aku enggak bakal mem blow up masalah itu karena aku malu,” kata Dinda.
“Kalau kamu tahu bakalan dicoba lagi, hajar aja dia saat itu dan biarkan banyak orang saksi sehingga yang ngomong adalah bukan kamu,” Eddy memberikan pendapatnya.
“Itu dia Pa. Aku akan lakukan itu. Kita tunggu aja kapan itu terjadi. Aku akan buat dia merangkak tak bisa bangkit.” adit mau pun Eddy yang mendengar kalimat ini hanya bergidik ketakutan tapi tak mereka ucap.
“Ya sudah Papa setuju,” akhirnya Eddy memberi retu buat Dinda menghajar Meliana.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang beda thema dari novel yang biasa eyank tulis. Kita masuk thema HOROR dan ini berdasar kisah nyata yang di kembangkan.
Cuzz ke novel dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok