GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MULAI TAK PEDULI



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Eddy bingung sudah hampir magrib Dinda belum tiba di rumah. Dan Dinda juga tak memberi khabar pada para pengasuh akan pulang terlambat.



“Kamu enggak coba telepon dia?” tanya Eddy pada Adit.



”Enggak Pa, Dinda sedang sibuk cari rumah,” jawab Adit lemah.



“Kamu tahu dari mana?” tanya Eddy sedikit terkejut. Terkejut karena Adit tahu kalau Dinda sedang cari rumah, dan terkejut atas tindakan Dinda yang sesuai dengan prediksinya.



“Tadi Pak Sungkono seorang rekanan kita telepon, dia bilang melihat Dinda sedang mencari rumah di sebuah developer dekat sekolah anak-anak. Dinda ada di kantor developer tersebut.” jelas Adit.



“Dugaan Papa benar, dia hendak pergi dari kita. Aku yakin juga foto itu sudah ada di tangannya. Yang nambah parah adalah dia jelas-jelas melihat bon makan aku yang bukan hanya untuk satu orang,” jawab Adit putus asa.



“Maksudmu bagaimana?” tanya Eddy.



“Kemarin aku pulang lebih dulu dari 2 perempuan yang makan bareng aku, sebagai laki-laki aku bayarin mereka. Sehabis bayar langsung aku tinggal pergi.”



“Uang kembalian dan bon aku masukin ke saku celana. Rupanya bu Siti menemukan bon pembayaran makan dan uang kembalian, semua itu dia berikan pada Dinda. Jadi Dinda jelas melihat yang aku makan itu bukan menu untuk satu orang.”



“Itu menambah Dinda makin marah karena tahu foto yang dikirim itu benar adanya sebab bon makannya bukan buat aku sendirian,” kata Adit.



“Papa enggak bisa ikut campur. Kalau sudah seperti ini kesalahanmu yaitu kenapa kamu punya niat pergi makan sendirian. Keinginan yang membawa kamu terpuruk. Kalau saja kamu pulang malam dari kantor langsung pulang enggak akan kejadian seperti ini. Semua langkah yang kamu lakukan selalu bawa si-al seperti ini, kamu kok enggak kapok-kapok sih? Papa harus bagaimana lagi?” kata Eddy bingung.



Eddy percaya pada cerita anaknya, soal Adit tidak tidur dengan perempuan itu dan hanya makan malam. Karena selisih Adit keluar dari kantor sampai tiba di rumah memang tidak terlalu lama. Eddy sudah mengecek CCTV kantor juga bertanya pada satpam. Jadi benar saat itu Adit hanya makan malam tanpa tidur.



Kalau soal janjian atau tidak Eddy memang tidak tahu kebenarannya.



Dinda tiba di rumah sudah terlalu lelah, dia langsung pergi mandi baru menghampiri anak-anaknya yang sudah selesai makan malam bersama para pengasuh.



“Assalamu’alaykum,” kata Dinda dengan lembut pada kedua Alkav muda.



“Itum yam,” balas Ghifari sambil tersenyum manis.



“Maaf ya tadi Bundanya telat pulang, Bunda ada kerjaan,” kata Dinda sambil kembali dia mencium ini putranya



“Maaf ya Mbok aku pulangnya telat. Tadi ada kerjaan dan aku lupa kasih kabar Embok,” kata Dinda pada Mbok Marni dan Mbok Asih dengan penuh penyesalan.



“Enggak apa-apa non Dinda. Kan juga enggak setiap saat,” balas mbok Marni.




Dinda semakin memantapkan diri untuk pindah ke luar negeri saja agar tidak selalu kembali ke Adit dan Eddy



Dia akan mulai membuat paspor anak-anak. Tak bisa ditunda lagi anak-anak harus punya paspor agar bila harus dadakan pergi dia sudah siap.



“Bun, Bun,” sapa Adit mengetuk pintu kamar Dinda. di ingin mengurusi anak-anak pagi ini. Semalam Adit ingin bicara tapi Dinda sudah mengunci kamar sehingga belum sempat bicara.



Adit kembali mengetuk karena Dinda tidak bereaksi untung yang diketuk adalah pintu penghubung kamar mereka bukan pintu depan.



Memang biasanya Adit selalu memasuki kamar Dinda dari pintu penghubung agar tidak ketahuan para pembantu kalau mereka tidak tidur satu kamar.



Dinda membawa kedua anaknya sudah rapih keluar lewat pintu depan kamarnya. Adit kaget mendengar tawa anak-anak bicara dengan Eddy.



‘*Dia tidak membukakan aku pintu penghubung tapi ternyata anak-anak sudah rapi dan sudah bermain dengan papa. Dinda benar-benar tak memaafkan aku dan tak memberi kesempatan aku lagi untuk mengurusi anak-anak*,' sesal Adit.



“Kalian sudah rapi, tadi Ayah mau mandiin, kaliannya malah sudah sampai sini,” kata Adit di depan Eddy. Saat itu Dinda sedang membuatkan sarapan bagi kedua putranya. Walau pun ada tiga pembantu perempuan tetap saja Dinda yang masak buat makan anak-anaknya. Makan siang mau pun makan malam juga Dinda yang buat nanti para mbok tinggal menghangatkan lagi di microwave.



Dinda tidak masak buat sarapan orang dewasa dia benar-benar tidak mau lagi mengurusi Eddy dan Adit.



“Ayo kita sarapan yuk,” ajak Dinda pada kedua putranya yang sedang bermain dengan Eddy. Dinda menggandeng keduanya mengajak untuk duduk di meja makan di sana high chair mereka ada. Jadi seakan-akan mereka makan bersama dengan seluruh keluarga besar. Dinda memang menekankan kebersamaan keluarga.



“Jangan lupa bismillah ya,” Dinda mengingatkan kedua jagoannya.



Dua Alkav ju-nior itu langsung membaca Bismillah dan mereka mulai makan sarapan yang disiapkan oleh bunda mereka.



Dinda meminum teh madu miliknya, dia tak peduli Eddy maupun Adit yang belum mengambil sarapan. Menu sarapannya juga Bu Marni yang masak nasi uduk dengan goreng ayam.



Biasanya walau yang masak Bu Marni Dinda tetap akan mengambilkan nasi di piring untuk Eddy. Tapi kali ini tidak. Dinda sama sekali tak peduli bahkan bicara pun tidak.



“Enak?” tanya Dinda pada kedua anaknya.



‘Nat,” jawab Ghifari.



“Enat,” kata Ghibran.



“Habiskan ya,” kata Dinda dengan senyum. hari ini Dinda bertekad akan membawa kedua putranya ke kantor imigrasi untuk mendaftar membuat paspor. Dinda sudah menyiapkan fotocopy kartu keluarga dan fotocopy KTP miliknya sehingga nanti dia tinggal mendaftarkan anak-anak itu. Dinda juga sudah membawa fotokopi akta kelahiran keduanya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok.