
“Mbok, aku mau ke rumah sakit,” pinta Fari pada mbok Asih.
“Tadi kakek kan sudah pesan bahwa Mas Fari sama Bang Iban enggak boleh ke rumah sakit karena tidak baik buat kesehatan kita,” bujuk mbok Asih menjawab permintaan juragan kecilnya.
“Tapi aku mau lihat adik bayi,” rengek Fari.
“Nanti ayah dan bunda akan video call kalau bayinya sudah lahir. Sekarang Mamas siap-siap makan, lalu tidur siang aja,” kata Mbok Asih.
“Abang juga mau ke rumah sakit,” kata Iban. Dia juga ingin melihat adik-adiknya yang akan lahir. Iban dan Fari memang sudah diberitahu kalau adiknya akan kembar seperti mereka.
“Idan oyeh te umah tatit?” kata Aidan dengan lidah pelo-nya.
“Enggak boleh Sayang. Tadi bunda eudah bilang kan, Abang, Mamas sama Kakak di rumah saja tunggu bunda pulang,” jawab Bu Siti yang hari ini kebagian mengasuh Aidan.
Hari ini ketiga mbok memang masing-masing pegang tiga anak itu satu-satu.
“Kalau begitu sekarang Mbok telepon sama kakek, aku mau bicara,” pinta Iban.
Mbok Marni pun langsung menghubungi nomor ponselnya Pak Eddy menggunakan nomor rumah.
“Maaf Pak saya mengganggu.”
“Kenapa Bu?” tanya Eddy.
“Mas Fari sama Bang Iban minta ke rumah sakit. Tadi saya sudah larang tapi sekarang dia ingin bicara dengan kakeknya,” jelas bu Marni.
“Berikan saja Bu, tapi bilang suruh gantian enggak boleh rebutan,” jawab Eddy bijak. Dia tahu para cucunya tak bisa dilarang tanpa alasan yang tepat.
“Baik Pak.”
“Bang Iban ini kakek mau terima, tapi harus gantian dengan Mamas. Enggak boleh rebutan,” kata Bu Marni pada Iban.
“Kenapa Abang?” tanya Eddy dengan lembut pada cucu nomor 2.
“Tadi mamas pengin ke rumah sakit mau lihat adik bayi. Jadi Abang juga pengin ikut,” jawab Iban jujur.
“Kan tadi Kakek sudah bilang waktu kalian baru keluar dari sekolah, kalian tidak boleh ke sini karena di sini tidak baik buat kesehatan kalian. Bunda sudah bilang ‘kan kalau kalian juga tidak boleh ke rumah sakit.”
“Enggak bisa. Bunda ada di ruang bersalin. Kakek saja enggak bisa masuk. Nanti atau besok kalau bunda sudah bisa terima telepon, pasti dia akan video call dengan kamu. Jadi sekarang nurut sama mbok makan lalu langsung bobok siang,” bujuk Eddy.
“Malam ini berarti bunda enggak pulang?” tanya Iban sedih.
“Enggak lah. Bunda dirawat dulu di rumah sakit namanya habis melahirkan. Nanti pulang bawa adik-adikmu,” jelas Eddy.
“Iya Kek,” jawab Iban.
“Sudah sana gantian sama mamas. Biar mamas bicara,” perintah Eddy.
Fari yang mendengar pembicaraan Iban dengan kakeknya tadi sudah tak ingin bicara lagi. Percuma dia bicara kalau memang tak boleh ke rumah sakit juga.
“Bayi pertama laki-laki ya Pak,” kata dokter memperlihatkan bayi yang baru dia terima keluar dari rahim Dinda. Dokter langsung memotong tali pusat dan menyerahkan bayi tersebut pada bidan yang membantunya.
“Sebentar ya Bu. Tarik nafas dulu, sabar kita lanjutkan dengan bayi berikutnya.”
“Alhamdulillah Sayank, kamu bisa. Kita lanjut ya perjuangannya. Mas akan selalu sama kamu,” kata Adit menguatkan Dinda.
Dinda tersenyum walau sudah mulai kehabisan napas untuk kelahiran ketiga ini memang kondisi fisiknya sudah tak sekuat saat melahirkan Aidan. Waktu melahirkan Ghifari dan Ghibran dia tidak tahu apa-apa karena sedang koma.
“Aku yakin kamu bisa Yank. Pasti bisa,” kata Adit lagi.
“Kita lanjut ya Bu. Ini sudah mulai mau keluar. Tarik napas pelan. Satu, dua, ya Bu ayo ngejan,” pandu dokter untuk bayi berikutnya.
“Alhamdulillah Pak bayinya sehat. Ini juga lelaki,” kata dokter.
Lengkap sudah 5 anak lelaki yang Adit dan Dinda memiliki.
“Semangat Yank, jangan putus asa. Masih ada harapan,” bisik Adit.
“Enggak Mas, kamu janji ini kehamilan terakhir kita,” protes Dinda.
“Iya Mas mengerti kok, ini kehamilan yang terakhir,” balas Adit sambil mengecup kening istrinya setelah dia lap menggunakan tissue.