
“Apa maksudnya ini Bik?” tanya Gultom melihat ada dua koper besar di teras juga beberapa kardus yang sudah rapi di lakban dan ada satu kardus kecil bertuliskan surat-surat penting di atas meja teras.
“Itu semua barang Bapak. Kata opung Bapak tidak perlu masuk ke dalam rumah. Silakan Bapak bawa keluar semua barang itu,” kata si bibik yang memang langsung keluar begitu mobil Gultom masuk ke halaman rumahnya. Dia takut, tapi itu tugas yang diberikan oleh majikannya.
Gultom tak berani menggedor pintu karena yang memerintah adalah ibunya bukan Sondang. Seandainya Sondang yang berpesan seperti itu tentu dia akan menggedor-gedor pintu rumah.
Gultom duduk di kursi terasnya, dia bingung hendak ke mana karena tak mungkin dia ke rumah Cilla atau pun Niken. Mereka tadi juga sudah tak mau terikat pernikahan dengannya.
Untungnya bibi masih berbaik hati menyiapkan teh hangat sehingga Gultom meminum itu dulu.
Gultom membuka ponselnya mencari rumah kontrakan di dekat kantor agar menghemat bahan bakar dia harus berpikir ulang mengatur langkah hidupnya ke depan harus bagaimana.
‘Eh buat apa aku terus bekerja di situ? Lebih baik aku cari pekerjaan lain karena kan tak mungkin lagi aku bertahan di situ sebab artinya aku NOL BESAR tanpa income, karena semua uang nanti akan masuk ke Sondang. Lalu aku hidup pakai apa? Tak ada buat makan maupun bensin. Oke jadi aku tidak perlu cari rumah yang dekat kantor,’ Gultom memutuskan berhenti dari kantor Dinda.
Akhirnya Gultom menemukan rumah kontrakan tipe 21 di sebuah perumahan tapi bukan rumah standar setidaknya ada garasi dan kamarnya sudah direnovasi sehingga ada kamar mandi di dalam. Karena biasanya rumah tipe 21 itu kamar mandinya tentu tidak berada di dalam kamar.
Dengan berat hati Gultom mengambil keputusan mengontrak rumah tersebut rumah tersebut akhirnya berhasil dia tawar menjadi hanya 2.200.000 rupiah per tahun. Memang sangat kecil dan rumah itu di kontrakan agar rumah tersebut tidak kosong karena rumah kosong sering buat bikin lebih cepat rusak.
‘Biarlah aku tak punya uang sama sekali saat ini. Aku akan jual dulu mobil ini, aku tukar dengan yang lebih murah nanti selisihnya bisa aku pakai buat awal hidupku. Buat makan dan akomodasi aku sebelum aku punya kerjaan baru,’ kata Gultom. Dia pun tak mau terpuruk walau sangat sedih karena harus berpisah dengan Sondang dan anak-anaknya
Malam itu juga Gultom langsung pindah ke rumah kontrakannya dia harus memulai lagi semuanya dari nol. Tak ada istri anak maupun ibu. Gultom yakin sebentar lagi ketiga istrinya akan mengirimkan surat gugatan cerai karena memang mereka semua dinikahi secara resmi di gereja walau yang tercatat di negara hanya Sondang saja.
“Aku akui ini kesalahan fatal yang kulakukan sejak aku SMA. Aku sadar tapi aku berharap Sondang mau memaafkan aku karena memang hanya dia istri yang aku cintai. Terlebih dua anak-anak itu yang memang sejak dari kandungan sudah aku harapkan kehadirannya. Tidak seperti anaknya Niken maupun anaknya Cilla. Aku sama sekali tak punya keterikatan batin dengan mereka,” ucap Gultom sambil menurunkan barang-barang ke dalam rumah. Tadi dia sempat membeli karpet kecil untuk dia tidur malam ini.
“Jelas-jelas anak Cilla dan Niken juga semuanya perempuan tak ada yang akan membawa nama marga aku.” kata Gultom yang bertekad merebut kembali hati Sondang.