
“Kak, tadi ada telepon dari mamanya Rizaldy,” kata Puspa saat mereka sudah selesai makan dan duduk santai di depan televisi memperhatikan 4 anak mereka.
“Ada apa?” tanya Ilham.
“Dia bilang kangen sama Hanum dan Sekar,” balas Puspa. Hanum dan Sekar adalah anak Puspa dengan Rizaldy.
“Dua tahun nggak ada kabar. Tiba-tiba bilang kangen?” timpal Ilham sambil menoleh kepada istrinya. Dia ingin tahu apa pendapat wanita yang telah dia nikahi hampir 5 tahun itu.
“Lalu dia bilang apa lagi?” tanya Ilham dengan sabar.
“Aku bilang sih, kalau memang kangen datang saja. Kalau kami harus mendatangi dia, kami tak mau,” ungkap Puspa dengan jujur. Sejak duku dia pun selalu jujur pada Rizaldy. Tapi Rizaldy saja yang keblinger.
“Kok kamu jawabnya seperti itu? Nanti dikira aku yang melarang kamu menemui mantan mertuamu itu,” sesal Ilham.
“Aku bilang saja, aku nggak bisa tinggalin anak aku yang baru 11 bulan.” Memang saat itu Ikhsan putra kedua Ilham dan Puspa baru 11 bulan.
“Kasihan lah kalau Ikhsan yang buat alasan,” ucap Ilham.
“Dia harusnya tahu, Hanum dan Sekar dulu ditinggal sama Rizaldy juga masih bayi dan aku tidak bisa ke mana-mana. Mungkin Kakak juga satu pemikiran sama aku. Selama ini mereka nggak pernah tanya Hanum dan Sekar. Lalu sekarang mereka tanya. Pasti ada sesuatu kan? Bukan karena kangen, karena buat mereka pasti Hanum dan Sekar tak ada artinya.” ucap Puspa.
“Mungkin sejak dulu mereka kangen, cuma malu mengungkapkan. Karena kelakuan putra mereka seperti itu. Bukan hanya soal korupsi yang sampai 3M, tapi ternyata sebelum menikah dengan kamu dia tukang main perempuan,” Ilham memberi pandangan pada istrinya.
“Bisa jadi seperti itu sih Kak. Mereka malu dengan kelakuan putranya.”
“Aku malas Kak datengin rumah mereka dan aku juga nggak tahu mereka sekarang tinggal di mana. Aku yakin rumah yang dulu pasti sudah dijual untuk melunasi hutang-hutang Rizaldy. Termasuk rumah yang aku tinggali serta mobil. Dan semuanya itu pun pasti masih kurang.”
“Yang aku yakini dan aku sudah janji pada diriku sendiri, sampai mereka nangis darah sekali pun aku tak akan mungkin membantu mereka satu rupiah pun,” tegas Puspa.
“Memang tidak sepantasnya kamu membantu. Walaupun kamu sudah di puncak kejayaan sekali pun. Saat kamu terpuruk mereka sama sekali nggak kasih kamu satu butir nasi pun. Mereka lebih mementingkan memikirkan bagaimana membayar hutangnya Rizaldy di perusahaan. Seharusnya mereka memikirkan dua perut cucunya yang memang sampai kapan pun itu tanggung jawab Rizaldy, yang harus mereka tanggung sebagai orang tua pihak lelaki.”
“Sejak Rizaldi ditangkap tak ada satu tetes su5u yang mereka berikan untuk kedua cucunya kok, jadi buat apa sekarang aku bantu mereka? Aku akan ungkit itu bila mereka minta pertolongan. Biar bagaimana pun itu kewajiban mereka sebagai orang tua Rizaldy terhadap cucunya.”
“Ya, Kakak setuju. Bukan karena Kakak kekurangan. Saat itu kita belum kenal kok.” kata Ilham.
“Iya, itu yang akan aku katakan. Jadi sebenarnya aku juga males kalau aku ditemani Kakak karena aku nggak mau urusan ini ada Kakak. Aku akan keras pada mereka. Enggak enak kalau ada Kakak.”
“Nggak bisa, aku harus ikut kalau memang pertemuannya di luar jam kantor. Tapi kalau kalian janjian ketemu pada jam kantor ya mau nggak mau aku nggak bisa hadir bila jadwalnya bentrok dengan jadwal yang tak bisa diubah.”
“Mereka belum tentukan kapan mau datang ke sini dan aku juga sudah nggak peduli kapan mereka datang.”
Puspa memang sudah pindah dari rumah ibunya. Dulu sebelum menikah dengan Ilham pun dia sudah membeli rumah yang sekarang di kontrakan. Rumah lamanya tidak dijual. Ketika dia menikah dengan Ilham, dia kontrakan dan setelah menikah dia tinggal bersama Ilham.
Di paviliun rumah ini dijadikan tempat usahanya Puspa. Di situ ada dua pegawai bagian penerimaan order dan packing. Puspa juga menggaji satu pembantu rumah tangga dan satu pengasuh. Jadi 4 pegawai yang Puspa miliki. Semua berkat ketekunan kerja pribadinya ditambah sekarang dengan rezeki dari Ilham.