
“Pak Bagas, sepertinya persiapan untuk lahan baru itu terlalu mepet deh. Coba diulang lagi perhitungannya sama tim insinyurnya,” pinta Adit melalui telepon direct di meja kerjanya.
“Kemarin saya juga mau bilang seperti itu, tapi saya lupa Pak Adit. Saya hari ini memang mau pertemuan ulang dengan tim saya untuk revisi angkanya,” jawab Bagas.
“Asal luasnya jangan berubah ya, agak repot bila luas berubah,” Adit mengingatkan Bagas memperkecil kesulitan
“Luas bangunannya sih nggak Pak. Mungkin luas sarana penunjangnya jadi berkurang,” jawab Bagas.
“Bagaimana kalau sarana penunjangnya pindah posisi?”
“Baik nanti saya pikirkan dengan tim saya Pak. Karena kalau pindah posisi gitu kan kita harus bikin gambar baru,” ujar Bagas.
“Kapan saya bisa dapat perubahan itu Pak Bagas?”
“Lusa Pak. Karena besok saya baru bertemu dengan tim secara full. Hari ini saya juga ada jadwal tapi tidak full sehingga mungkin besok baru tuntas semuanya full. Lusa saya bisa laporkan ke Bapak.”
“Bagaimana kalau lusa sekalian bertemu dengan Bu Dinda aja? Kayanya lebih enak kalau bicara langsung dengan dia. Daripada via saya nanti takutnya saya salah menjabarkan kata,” pinta Adit.
“Baik Pak. Kalau memang mau diatur lusa bertemu dengan Bu Dinda saya manut, asal bapak kasih tahu dulu jamnya, agar tim saya bisa pas waktunya.”
“Oke, saya tanya sekretarisnya Bu Dinda dulu, jadwalnya beliau kosong kapan. Takutnya kita sudah atur jadwal ternyata bu Dinda nya punya jadwal lain,” jawab Adit.
“Iya Pak terima kasih,” jawab Bagas.
Memang kalau bicara soal kerjaan mereka berdua agak kaku bahasanya, tapi di luar itu ya tetap aja sangat akrab lebih-lebih kalau sudah di media sosial.
“Pak Adit, saya bisa bicara nggak?” kata Gultom.
“Masalah apa Pak Gultom?” tanya Adit.
“Saya mau bicara bagan proyek yang saya tangani.”
“Kalau bagan proyek bukan ke saya kan? Ke Pak Bagas dulu, nanti pak Bagas yang bicara dengan saya. Karena dia adalah senior site manager untuk pusat,” kata Adit.
“Saya sering tidak nyambung kalau bicara dengan pak Bagas,” jawab Gultom.
“Kalau urusan personal kita nggak bisa bahas. Yang kita bahas di sini urusan kantor,” kata Adit.
“Kalau Anda nggak bisa nyambung dengan Pak Bagas padahal dia adalah atasan Anda, ya sudah anda tinggal ambil keputusan dari dua alternatif yang ada yaitu terus bicara dan mencoba mengerti atau Anda keluar.”
“Itu saja saran saya,” kata Adit tegas. Adit paling tak suka perseteruan personal di bawa ke dalam urusan kantor. Sedang dia dan Dinda saja yang satu rumah bahkan satu kamar urusan kantor tidak dibawa ke rumah dan urusan rumah tidak dibawa ke kantor.
Entah ada konflik apa antara Bagas dan Gultom yang pasti sejak masuk Gultom tak suka pada Bagas.
Gultom kaget mendengar dua option yang Adit berikan. Bicara terus dengan Bagas atau mundur!
Tentu dia tak mau mundur karena bekerja di perusahaan ini adalah impiannya tapi kalau untuk bicara dengan Bagas nggak pernah nyambung akhirnya dia bingung sendiri.