GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
NASI BAKAR TERI PEDAS



Velove datang lebih dulu dengan anak-anaknya. Dia giliran mengunjungi Gultom pagi ini. Jadi dia akan tinggal anak-anak sebentar. Nanti jam makan siang dia sudah kembali ke green house.


Sudah banyak perubahan hewan di sini ayam kate sudah bertambah dengan 13 ekor anak, kelinci pun sudah semakin banyak.


“Apa menu hari ini?” tanya Velove pada Dinda dan para mbok yang sudah stand by di green house. Dia meletakkan plastik super besar berisi KERUPUK MELARAT, yaitu kerupuk yang digoreng dengan pasir dan rasanya enak. Entah mengapa disebut dengan nama kerupuk melarat.


“Mbok bikin nasi bakar buat anak-anak isinya ayam dan tidak pedas. Lalu kami siapkan berapa macam saus pedas tergantung selera anak-anak dan menu makan siang mereka adalah bebakaran atau barbeque tapi mereka harus buat sendiri, jadi masing-masing yang mau makan bikin tusukannya sendiri. Lalu bakar sendiri, kalau tidak ya hanya makan nasi bakar itu saja. Kalau nasi bakar nanti para simbok yang bakarin,” ucap Dinda.


“Ini bahannya sudah ada lengkap. Fillet ayam, fillet ikan yang sudah dimarinasi lalu ada sosis ada bakso ada apa itu mbok? Keju, ada paprika kalau ada yang mau pakai paprika,” ucap Dinda yang sempat tanya pada mbok apa saja yang ada.


“Anak-anakku suka paprika bila di masak teriyaki, entah kalau dibakar,” kata Velove.


“Biarin saja mereka mau seperti apa. Itu pun paprika dan keju belum kami potong karena takutnya kalau sudah dipotong lalu tidak dipakai, kan sayang.”


“Nanti untuk yang orang tua ada nasi bakar teri pedas,” jelas Dinda.


“Wah ini merusak diet kalau nasi bakar teri,” ucap Velove.


“Ya, yang buat orang tua sengaja aku bikin nasi bakar teri tapi pasti pedas. Ada juga sambal dan ayam geprek sih.”


“Nanti yang bawa bayi bisa stand by di rumah. Kita bawakan yang sudah matang saja atau baby-nya dijaga sama satu orang simbok. Pas bangun dibawa ke sini.”


“Pasti Biru ikut lah nggak mungkin seharian Ajat akan tinggalin dia di rumah.”


“Itulah sebabnya aku bilang Santi bawa pengasuhnya Biru kalau dia mau ngobrol terus di sini. Nanti Biru dibawa ke sini kalau bangun. Tapi entahlah dia bawa pengasuh atau tidak.


“Aku yakin dia enggak akan bawa. Mereka kan berniat setiap week end akan full bersama anak-anak,” ucap Velove.


“Sepertinya Puspa juga akan datang. Kalau dia anak-anaknya belum ikut masak tapi pasti nggak mau ketinggalan, yang nggak bisa datang Ajeng sama Wika karena mereka jadwal ke rumah sakit aku belum dapat kabar dari Ratih.”


“Berarti Ratih sudah siap. Aku belum baca di grup,” balas Dinda.


“Tadi Bagas yang bilang Fahrul on the way pada pak Adit,” jawab Velove lagi.


“Siap berarti kita makan nasi bakar. Kalau mau tambah lauk bebakaran biar para bapak yang bikin. Kita stand by saja bahannya cukup kok. Tapi yang penting anak-anak dulu biar mereka meracik semuanya sendiri.”


“Itu udang sengaja hanya dibuang kepalanya saja biar mudah nusuknya nanti dimakannya buang kulit jadi lebih manis.” Dinda melihat udang yang baru dicuci bersih oleh bu Siti.


Ternyata Fahrul dan Ratih datang lebih dulu, tentu saja dengan kedua anaknya.


“Nanti kalau mereka capek bawa tidur ke rumah saja ya,” sambut Dinda.


“Mana mereka capek kalau sudah di sini,” kata Fahrul sambil memberi salam pada Dinda dan Velove.


Puspa dan Ilham datang bersamaan dengan Santi anak-anak Sondang. Anak-anak langsung berlari menemui dia atau Gathbiyya.


“Sekarang semua sudah kumpul ‘kan? Anak-anak dengerin Bunda dulu ya. Bunda akan bicara buat kalian.”


“Bunda sudah siapkan nasi bakar untuk kalian. Nasi bakarnya itu isinya ada ayam kecap jadi tidak pedas. Dan Bunda tahu semua kalian tidak ada yang alergi ayam jadi Bunda buat seperti itu. Nasi bakar ayamnya itu yang ukurannya kecil ya. Nasi yang ukuran besar itu punya orang tua isinya teri dan pedas. Kalau kalian mau juga boleh nasi teri pedas itu.”


“Lalu untuk lauknya kalian akan buat sendiri. Di sana sudah ada udang, fillet ayam, fillet ikan, keju, sosis, bakso, dan paprika. Kalian pilih sendiri potong sendiri kalau tidak bisa nanti dibantu sama si mbok motongnya. Bunda sudah siapkan tusukan satenya, kalian tusuk sendiri dan bakar sendiri untuk makan kalian sendiri. Ada yang nggak bisa membuat lauk sendiri?” tanya Dinda.


“Aku bisa, aku bisa, aku bisa,” semua menjawab bisa.


“Oke. Sekarang kalian bermain dulu. Nanti saatnya akan makan siang kalian cuci tangan pakai sabun dua kali baru kita mulai masak. Sekarang karena belum waktunya makan siang kalian boleh bermain dulu. Nanti semua akan Bunda kumpulkan lagi untuk mulai memasak. Oke?” Dinda menutup pemberitahuannya.


“Oke,” jawab semuanya senang.