GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERSANDAR LEMAH DI BAN MOBIL



“Ada apa Bik?” tanya Ajat saat dia menerima telepon dari nomor rumah.


“Pak ada tamu yang mengantar den Farouq. Dia ingin bicara dengan Bapak.” Ajat tentu saja kaget ada orang yang mengantarkan anaknya ke rumah.


‘Apa orang itu ingin tebusan?’ terka Ajat.


“Oh iya mana Bik,” kata Ajat dengan gugup. Dia senang walau harus mengeluarkan sejumlah uang sekali pun.


“Assalamu’alaykum,” sapa tamu tersebut.


“Wa’alaykum salam. Dengan Bapak Ajat?” kata tamu tersebut. Dia tadi tahu bapak dari anak yang ditemukan adalah Ajat dan nama anak itu adalah Farouq.


“Iya, saya sendiri Pak. Dengan Bapak siapa ya?” kata Ajat.


“Saya Halimi dari Lubang Buaya,” balas pak Halimi menyebutkan domisili tempat tinggalnya.


“Saya menemukan anak Bapak duduk bersandar di ban mobil saya. Dia tidak bisa bicara apa pun, dia tidak bawa apa pun kecuali secarik kertas dengan alamat rumah Bapak ini. Tak ada nomor telepon atau apa pun. Sehingga saya kasihan dan saya antar. Sepanjang perjalanan dia tidak mau bicara. Kalau saya tanya siapa namanya atau siapa nama orang tuanya dia tak menjawab. Saya berikan minum su5u pun dia tidak mau sama sekali. Tidak mau apa pun. Kondisinya sangat lemah Pak. Saya mau langsung bawa ke rumah sakit takut kesalahan sama Bapak kalau terjadi apa-apa. Jadi saya antarkan ke rumah Bapak saja,” Halimi menceritakan bagaimana dia bisa bertemu Farouq.


“Astagfirullah. Baik Pak, terima kasih. Bapak tolong tinggalkan nomor telepon. Saya ingin bicara dengan Bapak dan bagaimana kronologisnya karena anak tersebut sudah dicari polisi. Pasti nanti Bapak ditanya kesaksiannya. Saya takut ada terjadi salah paham dikira nanti Bapak yang nyulik kalau Bapak tidak memberi saksi.”


“Boleh Pak. Boleh. Saya tidak takut menjadi saksi karena memang nanti kalau ditanya oleh Bapak dan ibu pasti anak tersebut mau bicara bagaimana yang terjadi sebenarnya. Anak tersebut duduk di bersandar di ban mobil belakang sebelah kiri saya. Kebetulan saya bikin video dulu sebelum bawa anak tersebut. Karena saya harus punya bukti. Saya takut saya dibilang nyulik. Saya pun juga lapor ke satpam tempat saya parkir mobil. Satpam bisa menjadi saksi bahwa saya lapor akan membawa anak tersebut pulang. Saya sudah meninggalkan nomor telepon saya di satpam juga  kopi identitas saya. Saya juga tidak mau terbawa-bawa menjadi kasus penculikan,” kata Pak Halimi.


“Baik hanya sebegitu dulu Pak. Karena saya tahu Bapak ingin menghubungi yang lain juga melaporkan hal ini pada polisi. Kalau saya telepon terus nanti Bapak tidak bisa menghubungi yang lain. Sekali lagi saya beritahu kondisi putra Bapak sangat lemah. Tadi katanya namanya Farouq kata pembantu di sini. Dia sangat lemah Pak. Jadi mohon segera ada yang menangani untuk membawa ke rumah sakit.”


“Iya sebentar lagi saya hubungi kedua orang tua saya untuk membawa ke rumah sakit sini, agar bisa langsung bersama dengan maminya satu lokasi. Sehingga saya tidak perlu repot,” ucap Ajat lagi.


“Sekali lagi terima kasih Pak. Terima kasih sekali,” kata Ajat.


Kabar itu juga Ajat langsung berikan pada Adit sehingga Adit akan langsung lapor ke detektifnya.


Dinda langsung memberi kabar pada five little star mengenai berita tersebut.


Adit memberitahu kepada Shindu untuk membuat pengumuman di email karyawan bahwa Farouq sudah ditemukan tapi tidak usah diberitahu kondisi Farouq. Yang penting Farouq sudah ditemukan begitu saja pesan dari Adit.


Alhamdulillah begitu semua orang bicara. Mereka belum ada yang tahu bagaimana kondisi Farouq.


“Kenapa Pi?” kata Santi begitu Ajat masuk.


“Itu si bibi tanya kenapa Mischa belum pulang sejak pulang sekolah. Kita nggak kasih tahu. Bibi takut Mischa juga hilang.”


“Barusan pas Papi lagi telepon Mischa sudah masuk kok, jadi nggak ada apa-apa,” untung Ajat bisa cari alasan. Ajat akan memeberitahu Santi bila Farouq sudah ditangani dokter. Bila belum, Santi bisa histeris.


“Oalah, iya kita lupa kasih tahu bibi kalau pulang sekolah Mischa ke sini.”


“Iya, jadi bibi cemas. Makanya dia telepon. Takut disalahin kok nggak ada kabar sama sekali. Sudah begitu teleponnya Pak Udin tadi baru ngangkat terus mati, mungkin lowbat.”


“Ada-ada saja.”


“Alhamdulillah Mischa sudah sampai. Benar Mami tadi lupa kasih tahu bibi,” ulas Santi.


‘Papi sudah kasih tahu Bibi untuk awasi makan malamnya Kakak. Jangan sampai dia tidak makan walau dia sudah kenyang di sini sama Mami tadi.”


“Iya Pi, Kakak harus diperhatikan baik-baik.”