
“Adik pengen ketemu mami?” tanya Ajat lembut.
Farouq mengangguk lemah.
“Kalau mau ketemu mami kamu maem dulu regalnya ini sampai habis. Nanti minum su5u baru kita ketemu mami,” bujuk Ajat. Dia berupaya membujuk putranya ketika ayah mertuanya sudah membawa apa yang dia perlukan. Mertuanya membeli mangkuk makan bayi yang ada sendoknya, yang penting ada mangkuk buat Farouq makan.
Ajat menaruh lima keping roti marie lalu dia tuang su5u dari kemasan botol kecil yang ayahnya Santi belikan.
“Ayo adik makan dulu. Habis ini kita ke tempat mami,” kata Ajat.
Tanpa membantah, Farouq langsung makan semua yang disediakan oleh papinya.
“Ini minum susunya,” Ajat menyodorkan botol su5u.
Farouq menggeleng. Rupanya dia belum sanggup. Maklum perutnya kaget sejak kemarin kosong.
“Oke sebentar lagi kita ketemu mami ya. Tapi nanti adik sama mami nggak boleh menangis,” kata Ajat.
“Pak kami mau pasang infus putranya.” seorang suster mendatangi Ajat.
“Nanti saja ya kalau dia sudah ketemu istri saya. Biar istri saya menenangkan. Kalau sekarang diinfus nanti dia histeris malah lebih parah karena memberontak. Biar istri saya yang menangani.”
“Istrinya suruh ke sini saja cepat Pak,” jawab suster.
“Dia dirawat Sus. Dia juga pasien di rumah sakit ini.”
“Oh maaf,” Suster jadi serba salah.
“Anak saya ini diculik lima hari, lalu istri saya 4 hari lalu langsung masuk rumah sakit begitu anaknya hilang. Jadi dia juga pasien dan dia lagi hamil,” jelas Ajat selanjutnya.
“Nanti saya beritahu bahwa pemasangan infus pada anak Farouq akan di lakukan di kamar rawat ruang paviliun ya Pak.”
“Ya Suster, di paviliun Melati lantai 3 kamar 2,” jawab Ajat.
“Biar nanti istri saya yang membantu menenangkan putranya ini. Kalau dengan dekapan istri saya tentu lebih mudah daripada dia berontak karena takut.”
Suster pun kembali ke ruang perawat.
“Bapak ini sudah siap ruangannya jadi kita mulai bisa ke sana,” seorang petugas memberitahu Ajat, Farouq bisa di bawa ke ruang rawat.
“Bagaimana kalau putra saya, saya bawanya digendong saja? Dia nggak mau ditaruh di tempat tidur. Nanti malah dia berontak,” Ajat kembali minta pengertian perawat.
“Kalau Bapak mau silakan saja. Kami akan mengiringi Bapak,” kata susternya. Dia tahu bagaimana namanya anak sakit. Pasti rewel/
“Lho kok Ibu ke sini Bu? Sama siapa datangnya?” tanya Santi.
“Ibu sama ayah ketemu Ajat di apotek. Sebentar lagi ayah ke sini bawa su5u milik kamu. Tapi kayanya Ajat lagi ada perlu sebentar. Jadi nanti ayah yang bawakan su5u kamu.”
“Oh iya nggak apa-apa. Kirain Ibu sendirian ke rumah sakit.”
“Enggak lah. Ibu sama ayahmu,” jawab perempuan itu. Dia sudah tahu Santi lepas infus. Kemarin Mischa menelepon dari sini memberitahu kalau maminya sudah buka infus.
“Ini tadi Ajat belikan kamu coklat,” ayahnya Santi memberikan dua batang coklat pada Santi dan meletakkan kardus su5u ibu hamil di meja.
“Lho bukannya tadi dia bilang mau beli kopi dan su5u saja.”
“Katanya kamu suka coklat, dan tidak ada kopi dalam belanjaannya,” kata sang ayah. Tadi memang Ajat lupa mengatakan kopi adalah alasan dia keluar ruangan.
Iya Yah, aku suka,” jawab Santi. Dia langsung mengupas coklatnya.
‘Farouq juga sangat suka coklat ini. Biasa kami berbagi,’ kata Santi dalam hatinya. Dia tak mau kembali menangis. Dia tahu kedua orang tuanya juga sudah sangat berat melihat dia di sini. Jadi dia tak mau menangis walau dia sedih memikirkan Farouq yang belum ketemu.
“Kak Ajat ke mana sih kok lama?” tanya Santi. Akhirnya dia tak sabar menunggu suaminya belum juga datang.
“Sebentar lah, lagian kamu juga nggak sendirian. Kan ada kami juga,” hibur sang ibu.
“Lima hari bersama. Dia nggak pernah ninggalin aku sekali pun. Dia kadang beli makan juga menyuruh orang. Nggak pernah ninggalin aku. Sekarang ditinggal rasanya gimana gitu,” kata Santi.
“Iya sebentar lagi juga datang.
“Maaf Ibu, kami menambahkan satu bed ya di sini,” kata seorang pegawai rumah sakit yang masuk bersama dua orang lainnya.
“Lho kenapa ditambah? Ini kan ruang VIP. Kenapa ditambahin orang?” tanya Santi.
“Kami hanya bagian pengadaan Bu. Soal kenapanya ditaruh sini itu kami tidak tahu,” kata pegawai tersebut.
“Kalau tidak salah ini permintaan dari Bapak Sudrajat,” jawab orang tersebut.
“Kenapa ya Bu kok Kak Ajat menaruh tempat tidur tambahan di sini?”
“Pasti dia ada alasannya. Sudah biarin saja. Yang penting memang suruhan suamimu,” kata ayahnya Santi. Tempat tidur Santi agak digeser sedikit agar bisa cukup untuk tempat tidur yang baru datang.
Tak lama petugas cepat keluar. Dia hanya menaruh dan mengatur barang saja. Juga menginstal bagian yang belum terpasang seperti tiang infus.
Saat itu pintu diketuk.