GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERKORBAN SARAPAN LAGI



“Pak makamnya sudah siap,” kata Fahrul langsung kepada Adit. Tadi dia ditanya oleh Ilham.


“Kamu langsung lapor Pak Adit aja karena saya yang ditanyain Pak Adit,” demikian tadi pesan Ilham pada Fahrul. Karena itu Fahrul pun langsung menghadap Adit.


“Oke kalau sudah begitu terus voorijder bagaimana? Apa sudah diurus permintaan izinnya?” tanya Adit.  Voorijder adalah pengawalan khusus sepanjang perjalanan dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Salah satunya bisa kita minta izin untuk mengawal jenazah.


“Sudah Pak. Sudah ready semua. Semalam yang urus itu suami Wika.” jawab Fahrul. Memang five little star berbagi tugas kecuali Ajeng yang putranya baru sembuh. Shindu terlibat personal di luar five little star.


“Pantau semua,  jangan mengecewakan saya ya. Karena saya yang bertanggung jawab pada Ajat. Kasihan kalau dia kecewa,” ujar Adit.


“Insya Allah tidak kecewa Pak. Kami sudah antisipasi semuanya,” balas Fahrul.


“Alhamdulillah kalau sudah seperti itu. Kamu sudah sarapan belum?”


“Sudah Pak. Semua sudah sarapan. Tapi kalau belum tadi di belakang di samping itu ada disediakan nasi uduk Pak,” ucap Fahrul. Memang disiapkan oleh ibunya Bu Santi siapa pun boleh ambil nasi uduk di situ.


“Alhamdulillah kalau seperti itu. Kamu coba tawarkan pada semua tamu yang belum sarapan. Jangan sampai nanti lemss saat mau berangkat.”


“Kalau makanannya kurang kamu bilang ya, biar kita pesan lagi,” Adit mengantisipasi.


“Baik Pak. Saya akan katakan pada orang-orang untuk sarapan dulu,” kata Fahrul.


“Iya tolong semuanya suruh sarapan. Jangan sampai tidak sarapan.” Selain nasi uduk yang sudah disiapkan oleh ibunya Santi. juga banyak roti jadi siapa pun bisa ambil di sana.


“Kamu makan sama Bunda ya. Bunda sudah makan loh, kok kamu belum?” kata Dinda bisik-bisik pada Mischa.


“Mau Bunda suapi?” tanya Dinda. Gadis kecil itu sudah cantik dengan rambut berpita.


“Enggak Bun. Aku bisa makan sendiri.”


“Ya sudah kalau bisa makan sendiri. Ayo Bunda temani sampai habis,” kata Dinda. Dia yakin memang dari tadi pasti Mischa tak ada yang berhasil membujuknya sampai jam segini dia belum makan.


“Mau tambah ayam atau bagaimana? Apa mau tambah sosis?” kata Dinda. Menunya tentu sama dengan yang ada di luar. Nasi uduk dengan lauk tambahannya kerupuk dan dadar telur serta orek tempe.


“Ini ada ayamnya loh. Ayo Bunda suapin aja ya. Biar cepat,” bujuk Dinda.


“Ya sudah sini Bunda makan nasi buat temenin kamu ya. Kita makan berdua. Oke?” kata Dinda. Dia ngalahin makan lagi yang penting Mischa bisa ikut makan.


“Sebentar, Bunda mau bikin dadar telur atau ceplok. Kamu mau yang mana dadar atau ceplok?”


“Aku mau ceplok aja setengah matang,” kata Mischa cepat.


Langsung Dinda menceplok dadar setengah matang dua, dia taruh di piringnya Mischa dan di piring dia dengan nasi sangat sedikit yang penting menemani Mischa makan.


“Ayo kita makan berdua. Mami sudah makan belum tadi?”


“Mami tadi sudah makan, disuapin papi,” jawab Mischa.


“Tuh mami aja disuapin. Kamu juga disuapin nggak apa-apa dong. Kok kamu malu?”


“Ayo kita makan berdua aja Bund,” kata Mischa menghindar disuapi. Maka Dinda pun ikut makan bersama gadis kecil yang kesepian di keramaian rumahnya saat ini.


“Nih Bunda ngambil ayam lagi loh. Ayamnya enak,” kata Dinda memancing Mischa. Dia memang mengambil sayap kecil hanya sebagai pemancing Mischa saja. Mischa tersenyum dia pun ikut ambil ayam karena telurnya sudah habis.


“Tadi harusnya kamu tambah sosis. Kamu nggak minta digorengin sama Bunda.”


“Sudah pakai ayam saja. Tapi sambelnya kurang,” kata Mischa. Dinda pun mengambilkan saus sambal untuk Mischa.


“Jangan banyak-banyak sambelnya kalau masih pagi. Nanti perutmu sakit.”


“Aku biasa kok makan sambal nggak apa-apa,” jawab Mischa.


“Ya kalau lagi perutnya lagi bagus nggak apa-apa. Tapi dari kemarin kan kamu makannya nggak bener. Kasihan perutnya nanti.” Akhirnya nasinya Mischa pun habis barengan sama nasinya Dinda. Alhamdulillah Dinda bisa membujuk Mischa untuk makan.


“Habiskan susumu ya,” kata Dinda.


Mischa pun mengangguk dan langsung meminum su5u hangatnya.