
“Kamu harus banyak belajar dari Bu Dinda dan Pak Eddy serta Pak Adit. Walau belum pernah lihat ibu jadi senang terhadap mereka karena mereka benar-benar manusiawi terhadap orang lain. Walaupun orang lain itu terkait dengan sosok yang merugikan perusahaan beberapa tahun bahkan sampai jumlahnya miliar.” Orang tua Ilham selalu menasehati agar hilang bekerja dengan baik terlebih mendengar bosnya sangat berjiwa besar seperti itu.
“Benar Bu dan Kebetulan aku ada di tim yang langsung dibawah tangan Bu Dinda dari nol. Dari penerimaan berkas lamaranku langsung Bu Dinda yang tangani bukan Pak Shindu.
“Bahkan aku bertemu Puspa pun di acara aqiqahnya anak-anak Bu Dinda. Karena aku dan Puspa sama-sama dijadikan panitia.”
Ilham ingat saat berkenalan pun Puspa tidak bohong atas statusnya dia langsung bilang dia adalah janda 2 anak dari Pak Reynaldi. perempuan lain mungkin akan menutupi status itu lebih-lebih mengaku janda 2 anak. Puspa langsung memberitahu agar semua orang tidak berpikir negatif bahwa dia menyembunyikan statusnya.
Seperti ketika awal baru masuk kerja sehabis melahirkan Ghaidan, maka sekarang Dinda juga sama. Datang hanya beberapa saat untuk mengecek pekerjaan atau bertemu dengan klien. Tak ada yang berani mengganggu gugat waktu kerjanya Dinda. Karena walau hanya 2 jam atau paling lama 3 jam di kantor, tetapi pekerjaan satu hari yaitu 8 jam bisa dia cover. Jadi bukan lamanya waktu kerja tapi efektivitas kerjanya.
“Oke saya rasa sampai sini, masih ada pertanyaan?” tanya Dinda.
“Tidak Bu,” jawab beberapa peserta rapat.
“Baik saya tunggu draft MOU nya.”
“Pak Radit tolong kondisikan waktu pertemuan selanjutnya karena waktu saya terbatas maklum saya hanya ibu rumah tangga biasa,” kata Dinda.
“Baik Bu akan saya kondisikan dengan sekretaris anda,” jawab Radit secara formal.
“Pak Radite bisa bicara berdua sebentar?” tanya seorang bapak kepada Radit.
“Boleh, silakan saja bicara aja di ruangan saya,” Dinda yang langsung menjawab.
Adit mengerti ruangannya Dinda full CCTV juga kedap suara karena pakai peredam.
“Wah terima kasih Bu Dinda memberikan ruangannya untuk kami pergunakan,” kata Radit.
“Mari Pak kita ke ruangan Bu Dinda untuk bicara,” ajak Radit pada lelaki tersebut. Dinda hanya tersenyum.
“Pak Eddy ada yang perlu dibicarakan lagi?” tanya Dinda.
“Enggak sih Din. Kayanya sudah cukup,” jawab Eddy.
“Baik silakan kalau yang masih mau menunggu di sini. Saya akan kembali ke ruangannya Pak Eddy,” kata Dinda. Dia akan keluar bersama Eddy dan Shindu tentunya.
“Bu Dinda, saya bisa bicara sebentar enggak?” kata Bagas.
“Iya kenapa Gas? Papa duluan aja Pa. Aku bicara sama Bagas di sini,” kata Dinda pada Eddy.
“Oke Papa tunggu di ruangan.”
“Kenapa Gas?”
“Pernikahan saya di ujung tanduk Bu,” keluh Bagas lirih.
“Maksud kamu?”
“Kemarin saya sudah bicara dengan pak Radit, saya ceritakan semuanya kepada Adit masak Ibu belum tahu?” bagas bingung Dinda seakan tak tahu apa pun.
“Saya belum mendengar cerita apa pun. Serius saya belum mendengarkan itu baik dari pak Radite mau pun dari Velove,” kata Dinda.
“Pasti pak Radit lupa atau terlalu capek sehingga dia belum cerita.”
“Pagi ini saya terima surat dari seorang pengacara Bu. Velope minta cerai.”