
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Aku pikir kamu bohong bahwa kamu kerja di situ.”
“Enggak pantas ya saya kerja di situ?” tanya Dinda.
“Bukan enggak pantas, Aku hanya enggak percaya aja kamu mau tinggal di ruko itu dan buka usaha sendiri padahal kamu adalah pemilik perusahaan.”
“Orientasi hidup saya bukan pada harta. Harta itu bisa saya kejar ke mana pun kalau saya bekerja. Orientasi hidup saya hanya kebahagiaan anak-anak,” jawab Dinda.
“Itu sebabnya saya sekarang fokus pada kebahagiaan anak-anak bersama ayah mereka. Saya tak ingin mereka berpisah. Biar saya terluka tapi anak-anak bahagia,” jawab Dinda lagi.
Angkasa Dirgantara atau yang biasa dipanggil dokter Angkasa kalau oleh pasiennya atau kalau oleh kerabat dekatnya dipanggil Dirga tidak percaya kalau Dinda seperti itu. Dinda mengorbankan hidupnya untuk anak-anak, beda sekali dengan istrinya lebih tepat mantan istrinya yang lebih suka hura-hura dan mencari kesenangan diri sendiri melupakan anak mereka.
Saat Dirga sedang menempuh kuliah S2 mengejar dokter spesialis, Fitri istrinya merasa ditinggalkan Dirga yang sibuk. Fitri merasa diabaikan, sehingga memilih jalan lain berselingkuh itu penyebab perceraian mereka.
Dinda memang sangat berbeda dengan Fitri istrinya, itu sebabnya Dirga sangat ingin Dinda menjadi istrinya. Menjadi ibu dari SENJA, putri kecilnya. Dirga ingin Senja mempunyai sosok ibu yang sangat lembut dan penyayang seperti Dinda.
“Tadi kamu enggak kenalin aku sama mertuamu atau mantan suamimu,” ucap Dirga.
“Untuk apa?” tanya Dinda.
“Kan katanya mau bicara dengan saya, ya sudah bicara saja. Tidak ada urusan dengan mereka kan? Kecuali kalau kamu mau memperkenalkan diri sebagai temanku. Oke saya kenalkan. Tapi kamu jangan marah kalau saya akan mengatakan pada mertua saya kalau kamu adalah teman tidak lebih.”
“Jangan pernah berharap lebih, sejak awal kenal dulu saya sudah bilang, saya tak akan berpaling pada laki-laki mana pun! Hidup saya hanya untuk anak-anak saya. Jadi sebelum kamu melangkah jauh saya sudah beritahu bahwa saya tidak akan pernah membalas atensi kamu,” tegas Dinda.
“Jadi aku sama sekali enggak punya harapan?” tanya Dirga.
“Enggak Mas. Saya enggak akan pernah kasih harapan ke siapa pun. Tidak ada yang bisa mencintai anak-anak saya, seperti cinta yang mereka dapatkan dari ayahnya. Walau kamu pencinta anak sekali pun kamu takkan mungkin mencintai anak-anak saya seperti cinta ayah mereka.”
“Jadi saya tidak ingin menggantikan ayah mereka dengan siapa pun. Supaya kamu enggak buang waktu lebih baik kamu sadar diri bahwa kita enggak akan mungkin lebih dari sekadar teman seperti ini. Tidak akan pernah lebih.”
Tentu saja Dirga putus asa ternyata Dinda memang sangat memegang prinsipnya tidak akan berpaling pada siapa pun, karena fokus hidupnya hanya buat anak-anak. Tidak buat dirinya sendiri lagi. Dirga sangat menyesal terlambat bertemu dengan Dinda. perempuan yang sangat dia idam-idamkan, tidak seperti mantan istrinya.
“Baiklah kalau seperti itu, aku mengerti. Tapi kalau suatu saat kamu membuka hati, cantumkan namaku di urutan pertama,” pinta Dirga.
‘Kamu benar-benar perempuan hebat, kamu bahkan tak mau berjanji apa pun pada aku,’ batin Dirga.
‘Kamu tak mau mengakrabkan diri dengan menyebut AKU, kamu masih saja menyebut dirimu SAYA.’
Sehabis makan mereka langsung kembali ke kantor Dinda. Mereka memang tadi menggunakan satu mobil milik Dirga.
“Kamu bawa mobil sendiri atau bagaimana?” tanya Dirga.
“Ya saya bawa mobil sendiri. Papa bawa mobil sendiri. dan Mas Adit bawa mobil sendiri karena saya biasanya pulang lebih cepat dari mereka.”
“Sebagai Marketing Manager kadang-kadang Mas Adit keluar kantor, sehingga sejak dulu memang saya dan Mas Adit jarang satu mobil walau kami satu kantor.”
“Oh gitu?”
“Ya kami hanya bertemu saat makan siang. Biasa kami makan siang bersama. Tadi saya izin pada papa untuk pergi makan siang denganmu,” kata Dinda jujur.
“Kamu bilang pada papamu bahwa akan makan siang dengan aku?” tanya Dirga tak percaya.
“Saya bukan perempuan pembohong, apa pun selalu saya katakan baik pada suami atau papa. Saya tak pernah mau berbohong, karena nanti bisa lebih bahaya kalau kebohongan itu terungkap. Saya tidak mau dibohongi karena itu tak ingin berbohong. Itu prinsip hidup.”
Dirga tambah jatuh cinta pada sosok yang tak bisa diraihnya itu entah bagaimana lagi dia harus merengkuh wanita pujaannya yang semakin jauh.
“Saya berharap Mas akan bertemu dengan perempuan di luar sana yang sesuai dengan kriteria yang kamu sukai,” kata Dinda.
“Aamiiin. Apa boleh satu kali aja aku memelukmu?” pinta Dirga.
“Tidak bisa Mas. Kita bukan muhrim. Apa pun alasannya. Saya tidak mau nanti orang akan melihat kita sedang berpelukan. Padahal kita berpelukan perpisahan. Tidak, tidak akan pernah itu terjadi,” kata Dinda lagi.
Semakin lama Dirga semakin terpesona oleh perempuan yang tak sengaja dia kenal dari kakaknya saat mengurus perceraian.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok