
“Lalu kenapa kamu tanya saya? Saya enggak tahu apa-apa loh. Saya belum bicara apa-apa dengan Velove sama sekali.”
“Saya bicara dengan Ibu karena saya ingin konsultasi. Apa yang harus saya lakukan untuk permasalahan saya ini?”
“Memang ada apa ceritanya? Saya tidak tahu bagaimana saya mau kasih saran?” Dinda terkejut karena dia tahu selama ini rumah tangga Bagas dan Velove adem ayem dan dia tahu Bagas bukan pria mata keranjang.
Bagas lalu menceritakan tentang seorang janda yang secara kebetulan dia tolong lalu juga tentang tissue yang ada noda lipstiknya di mobilnya.
“Kalau kamu tidak punya apa-apa hubungan apa-apa dengan dia ya enggak usah takut. Hadapi saja di pengadilan. Kita kasih saksi, gampang kan?”
“Masalahnya belum tentu perempuan tersebut mau jadi saksi yang meringankan saya Bu. Bisa saja dia memberatkan saya dengan mengatakan bahwa saya sering mengajak dia pergi. Pak Adit menduga perempuan tersebut sengaja menaruh bukti lipstik di tissue itu Bu. Di mobil ada tempat sampah, kalau tidak lihat tempat sampah dia harusnya nanya dong. Kalau tidak ada, dia juga harusnya masukkan ke tasnya dulu bukan dia buang sengaja di tempat yang supaya Velove lihat, itu penilaian Pak Adit.”
“Nah kalau laki-laki sudah bisa menilai seperti itu pasti valid. Velove juga pasti merasakan seperti itu. Atau jangan-jangan perempuan itu sudah sering menghubungi Velove mengatakan kalau kalian ada janjian. Saya yakin pasti perempuan itu seperti dugaan saya. Masa orang nebeng enggak tahu diri buang sampah sembarangan?”
Bagas tidak percaya dengan pendapat Adinda. Tapi itu harus dipikirkan. tak mungkin Velove sampai sedemikian marah bila hanya karena tissue bernoda lipstik.
“Lalu sekarang saya harus bagaimana Bu?” tanya Bagas pasrah.
“Hadapi!”
“Seharusnya kamu bersyukur Velove melakukan jalan yang sesuai prosedur tidak seperti saya ketika itu. Saya tidak mau ikut aturan. Saya maunya harus selesai langsung cerai tidak ada mediasi. Jadi tak ada kemungkinan untuk rujuk saat pengajuan cerai saya dulu,” jelas Dinda.
“Sekarang kamu tak bisa ngapa-ngapain karena surat gugatan sudah ada. Satu-satunya jalan ya ada hadapi.”
“Memang kadang niat baik itu tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Tapi jangan membuat kita berhenti untuk berbuat baik.”
“Hanya harus diingat, untuk berbuat baik tidak cukup dengan niat baik saja harus disertai juga pikiran sehat. Kalau kamu mau menolong orang terlebih perempuan seperti itu, jangan saat kamu sendirian sehingga kamu ada saksi.”
“Jadi sekali lagi perbuatan baik bukan hanya ditentukan oleh niat baik tapi harus berpikir sehat,” kata Dinda.
“Baik Bu. Saya akan melaksanakan itu. Saya tidak menyangka aja semuanya jadi ruwet seperti ini.
“Saya yakin pasti ada gosokan selain tissue berlipstik itu. Tidak mungkin Velove berpikir pendek bila hanya ada tissru seperti itu. Pasti dia cari bukti lain sebelum dia ajukan pengajuan. Aku yakin kalau Velove sudah pegang banyak kartu truff kamu.”
“Padahal saya enggak pernah ngapa-ngapain loh. Sejak kenal Velove dulu cinta dan mata saya cuma buat dia, tak pernah berpaling.”
“Saya akan coba bicara dengan Velove, tapi tentu tak langsung ke titik permasalahan. Harus muter-muter dulu agar dia tak merasa tertekan. Nanti saya dan Puspa akan ngobrol karena saya dan Puspa sama-sama pernah bercerai,” Dinda menjanjikan akan menolong Bagas.