
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
‘*Putus sudah harapanku. Aku berharap bisa mengeruk uang seperti yang Lilis bilang bahwa putriku hidup bersama dengan anaknya Pak Eddy. Setidaknya sebagai ibunya aku pasti dapatlah uang buat hidup. Ternyata malah dia buronan*,’ batin perempuan tersebut yang ternyata mendapat info dari Lilis.
‘*Aku harus bagaimana lagi*?’ pikir perempuan tersebut galau. Dia sangat butuh jalan keluar.
“Masih ada perlu lain?” tanya Adit.
“Kalau enggak ada saya bisa hubungi polisi untuk menangkap Anda biar anak Anda membebaskan anda dengan menukar tubuhnya. Tapi saya yakin anak Anda enggak mau sih. Dia pasti lebih senang hidup di jalanan seperti Anda daripada di dalam penjara enggak bisa jualan. Dan saya yakin anak Anda tidak akan peduli pada ibu kandung yang telah membuang dirinya.”
Perempuan tersebut tak percaya kalau anaknya ternyata buronan karena bayangannya dia akan kembali hidup mewah begitu mengetahui putrinya adalah istri gelap dari anaknya Eddy. Soal alasannya meninggalkan bayinya dia bisa mengarang cerita agar putrinya bisa memaafkan dan menerima dirinya.
Perempuan itu langsung berdiri dan akan meninggalkan teras sedang Adit sengaja menunggu sampai perempuan tersebut keluar.
“Apa kamu pernah hidup bersama dengan putri saya?”
“Saya tidak pernah hidup bersama, saya hanya membayarkan rumah dan membelikan dia mobil karena dia bilang anak yang lahir dari perutnya adalah anak saya. Ternyata setelah tes DNA, anak tersebut bukan anak saya. Jadi papa langsung melaporkan dia terhadap uang yang dipakai buat beli rumah juga mobil juga barang-barang perhiasannya. Semua itu adalah tanggung jawab dia. Masih ada perlu tanya lagi?”
”Kalau mau tanya berapa besar hutang yang dibebankan Papa, tanya di kantor polisi. Semua data dia ada di sana. Juga kapan dia kabur dan siapa yang membawanya,” kata Adit. Perempuan tersebut hanya bisa menunduk dia benar-benar berharap pada pepesan kosong membayangkan akan kembali hidup mewah ternyata ZONK.
Perempuan tersebut juga sebenarnya tidak tahu siapa ayah bayi yang dia lahirkan. Suaminya yang notabene adalah sopirnya Pak Eddy itu hanya formalitas bahwa dia punya suami ketika hamil. Sebenarnya dia menjebak lelaki tersebut sesudah hamil. Sama seperti yang Shalimah lakukan pada Adit.
“Baik kalau begitu saya permisi,” kata perempuan tersebut sambil membalikkan tubuh.
“Tunggu sebentar! suara perempuan meminta tamu perempuan untuk menunggunya. Adit kaget di situ sudah ada Dinda berdiri di pintu ruang tamu.
“Kenapa Yank? tanya Adit dengan lembut.
“Sebentar Mas, tenang aja enggak apaapa kok. Tenang ya. Mas duduk aja,” titah Dinda pada Adit yang terlihat cemas memandang dirinya.
“Ibu. Silakan duduk dulu Bu, sebentar saya boleh tanya sama Ibu?” tanya Dinda pelan dan lembut.
“Ya kenapa Mbak?” kata tamu perempuan itu.
“Ibu ke sini karena Ibu terdesak butuh uang buat makan mungkin? tanya Dinda.
“Ibu tahu kan sudah berapa puluh tahun ini meninggalkan bayi Ibu di Panti Asuhan. Lalu tiba-tiba datang ke sini karena ingin bisa mendapatkan harta dari Pak Eddy, itu yang saya tangkap. Sekarang yang saya ingin tanya, Ibu dapat info dari mana?” tanya Dinda.
“Enggak ada yang kasih tahu kok Mbak. Saya tahu sendiri,” dengan jelas perempuan itu membantah.
“Apa pihak Panti Asuhan ngasih tahu siapa yang ambil bayi Ibu?” tanya Dinda.
“Saya sudah tahu pihak Panti Asuhan tidak akan mungkin membocorkan siapa yang mengambil bayi itu,” ujar Dinda sok tahu. Padahal dia tidak pernah ke panti asuhan tersebut. Semua hanya gertak terhadap tamu ini.
“Jadi saya yakin pasti ada yang memberi tahu kalau anak ibu di ambil oleh Pak Eddy. Saya akan memberi Ibu ongkos buat naik ojek, kalau Ibu kasih tahu siapa yang memberi Ibu info,” Dinda meletakkan 5 lembar uang merah di meja.
“Ibu kasih tahu siapa yang memberi ibu info. Uang ini bisa buat naik ojek sama Ibu,” kata Dinda. Tentu saja Adit kaget melihat Dinda telah siap dengan amunisi seperti itu. Artinya sejak tadi Dinda dengar lalu ambil uang dulu ke kamar baru kembali ke sini.
Perempuan tersebut bingung, kalau dia tidak ambil uang itu dia harus makan dengan apa, bertahan dengan apa, karena sekarang dia semakin sepi tamu.
Kalau diambil, dia harus menyebutkan sumber yang memberi info pada dirinya. Ini sangat dilema buat dirinya.
“Baik. Kalau enggak mau saya ambil lagi,” kata Adit. Uangnya diambil Adit dan dimasukkan ke saku.
“Mas jangan begitu dong, kasihan si ibu,” Dinda memandang suaminya agar mengembalikan uang itu.
“Dia enggak mau Yank, percuma kita kasih.”
“Mungkin jumlahnya kurang banyak ya Bu. Saya bisa dua kali lipatin asal Ibu mau bilang siapa yang memberi info sehingga Ibu berinisiatif datang ke sini.”
“Mas bisa ambilkan uang dulu biar jumlahnya dua kali lipat?”
“Ada kok di dompet Mas nih,” Adit langsung mengambil dompet dari saku belakang dia keluarkan 5 lembar uang merah sehingga sekarang jumlah uang itu menjadi 10 lembar.
“Silakan sebutkan informan ibu dan ibu bisa bawa uang untuk pulang naik ojek. Dan itu jumlah maksimal yang bisa saya tawarkan atau saya berubah pikiran menjadi buruk yaitu melaporkan ibu dengan niat pemerasan pada mertua saya,” kata Dinda dengan nada mengancam.
Kira-kira si ibu akan ambil kesempatan itu enggak ya? Kasih komen manis dong.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.