GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BANTENGNYA SONDANG



“Mereka belum mau bertemu sama kamu,” kata inang pada Gultom.


“Tolonglah Inang. Aku ingin bicara dengan mereka,” pinta Gultom.


“Memangnya aku yang menentukan tenang atau tidaknya pikiran mereka? Memangnya aku yang menentukan dingin atau panasnya otak mereka? Kalau mereka sudah bilang tidak mau, bagaimana mungkin aku paksakan? Kalau aku paksakan Sondang malah lebih marah pada aku. Aku tak mau. Biarkan saja. Kamu uruslah istrimu itu yang mau melahirkan atau yang ibunya Marry. Lebih baik itu saja  yang kamu pupuk. Lupakanlah Tarida dan Theresia. Mereka bukan apa-apamu. Karena kamu kan juga bilang aku sudah mati, jadi lebih baik urus saja. Itu dua perempuan pela-cur yang mau menjadi istri kedua! Walaupun dia ditipu karena kamu bilang istri pertama tidak bisa memberi anak, tetapi seorang perempuan yang mau jadi istri kedua adalah orang gila,” kata inang dengan berapi-api. Dia sangat membenci perempuan yang mau menyakiti perempuan lain apa pun alasannya.


Kecuali dia sudah bertemu dengan Sondang dan memang dipertemukan oleh Gultom ini loh istri saya, dia merelakan kamu menjadi istri kedua. Nah itu lain cerita. Tapi Priscilla dan Niken kan tidak. Mereka bersedia secara ikhlas dijadiin istri kedua secara sembunyi-sembunyi berarti mereka perempuan yang tidak waras. Kalau dijadikan istri kedua dengan izin istri pertama itu no problem buat inang.


Gultom merasa dunianya sudah gelap tak ada lagi sesuatu yang membuat dia harus bertahan hidup. Dia cari uang buat apa? Hanya untuk mengisi perutnya saja kan? Tak ada lagi tanggung jawab memberi makan pada anak-anak atau istrinya.


Walaupun dipaksa seperti apa, saat ini tetap dia tidak mau kembali pada Priscilla dan Niken. Betul seperti yang inang tadi katakan seorang wanita apa pun alasannya seharusnya tidak mau dijadikan istri kedua secara sembunyi-sembunyi. Berarti perempuan itu senang menjadi yang disembunyikan. Kalau dia mau jadi istri kedua dengan izin istri pertama itu baru perempuan yang baik.


Gultom sadar memang dia yang salah menipu istrinya tapi kenapa Cilla dan Niken mau disuruh ngumpet-ngumpet dari Sondang? Artinya mereka juga bukan perempuan baik-baik. Kalau perempuan baik-baik tentu tak mau dijadikan istri simpanan.


Itu sebabnya tak ada keinginan Gultom untuk rujuk dengan dua mantan istrinya. Dia juga tak ingin mendekati Pratiwi lagi.


Lusanya hari Senin Gultom berupaya mendatangi sekolah kedua putrinya. Gultom tahu setiap pagi Sondang yang mengantar keduanya, nanti pulang sekolah mereka naik jemputan. Karena itu Gultom ingin bicara sebentar sebelum mereka pulang naik jemputan.


“Rida,” sapa Gultom memanggil putri sulungnya. Mendengar suara papanya Tarida langsung lari dan masuk ke dalam mobil Elf jemputannya. Dia sengaja duduk di pojok sehingga tak bisa didekati oleh Gultom dari pintu mobil.


“Icha,” panggil Gultom pelan.


Icha itu adalah banteng! Dia tak takut apa pun. Dia berhenti dan menoleh menunggu papanya mendatanginya. Icha tak mau menghampiri lelaki tersebut.


Merasa mendapat izin Gultom pun mendekati putri keduanya tersebut dia lupa siapa Theresia sebenarnya. Theresia adalah gabungan kerasnya Gultom dan Sondang. Sangat keras sifatnya. Gultom melupakan hal itu.


Theresia kebalikan dengan Tarida yang merupakan gabungan kelembutan Sondang dan Gultom.


“Bisa Papa bicara sama kamu?” tanya Gultom. Icha mengangguk.


“Boleh aku bisikin Papa?” kata Icha dengan tegas. Dia tak mau membuat papanya malu.


“Kenapa?” tanya Gultom sambil menunduk, agar gadis kecilnya bisa berbisik leluasa.


“Papa itu lebih baik urus tante-tante yang mau jadi istri Papa tanpa cinta. Kami punya cinta mama dan opung. Kami tak ingin lagi punya Papa pembohong seperti Papa. Jadi jauh-jauh dari aku dan kak Rida. Jangan pernah datangin kami lagi. Kami nggak butuh lelaki pembohong. Cukup hanya mama dan opung. Kalau nanti kami punya Papa baru, kami tak mau punya bapak pembohong seperti Papa,” Gultom mendengar bagaimana putri kecilnya tak mau membuatnya malu dengan mengumbar kata-kata kasar itu secara keras, tapi hanya berupa bisikan di telinganya.


Setelah berkata seperti itu Icha berjalan tenang memasuki mobil jemputan. Tak ada kegugupan atau ketakutan di wajah gadis Batak kecil itu. Benar-benar bantengnya Sondang.