GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
RAHASIA BERTIGA



“Papi minta kita jangan bicara pada enin atau pun pada nenek dulu karena beli rumah itu tidak segampang kita beli pisang goreng. Kita lihat langsung bayar. Beli rumah itu kan nggak semudah itu. Jadi belum tentu hari ini kita dapat. Alhamdulillah kalau hari ini kita bisa memutuskan mana yang ingin kita beli,” kata Ajat.


“Jadi kalau hari ini belum dapat. Kamu jangan bilang-bilang dulu bahwa kita cari rumah ya. Nanti hari Sabtu dan Minggu kita jalan lagi cari rumah lagi,” jelas Ajat.


“Oke. Kakak setuju,” balas Mischa.


Dan memang sampai sore mereka belum dapat rumah yang mereka inginkan. Jadi mereka lalu pulang karena nggak mungkin kalau malam cari rumah kan? Begitu sore mereka langsung pulang.


“Kita akan mulai hunting lagi hari Sabtu ya. Hari Sabtu pagi sampai hari Minggu,” cetus Ajat.


“Yang penting kita sudah punya konsensus. Mungkin Kakak Mischa mulai siapkan barang yang ingin Kakak simpan dari punya Abang. Begitu pun barang-barang pribadimu yang mana yang kamu ingin pertahankan dan bawa ke rumah baru,” kata Santi.


“Iya Mi. Aku akan seperti itu. Aku mulai cicil bereskan barang-barang aku.” balas Mischa.


“Kamu juga nggak boleh ngomong kepada para bibi termasuk ibu Ponirah yang baru. Pokoknya tetap cuma rahasia bertiga. Jangan bicara pada siapa pun,” kata Ajat mengingatkan Mischa.


“Iya Pi. Aku mengerti kok. Aku akan tutup mulut dari siapa pun sampai kita siap pindah.”


“Iya, sampai kita pindah baru kita bicara. Jadi semuanya tidak boleh ada yang tahu,” kata Santi.


“Papi ingat harus ada dua kamar untuk kedua orang tua kita masing-masing. Jadi mereka tetap punya kamar seperti rumah sekarang.”


“Lalu ada dua kamar lagi satu buat adik, satu buat tamu. Jadi kalau ada tamu ada kamar yang siap.”


“Iya Papi sudah ingat itu. Kamar buat adik apa enggak dua?”


“Satu dulu lah Pi. Nanti kalau ada lagi ya bangun baru,” jawab Santi.


“Oke siap Nyonya Sudrajat,” kata Ajat. Membuat Mischa tertawa.


“Ibu soal family gathering yang bulan depan itu tetap berlangsung atau mau ditunda?”


“Coba tanya cabangnya. Sudah ada pembayaran yang keluar belum? Kalau belum kita bisa tunda. Tapi kalau sudah ya jalan saja nggak apa-apa. Toh bukan cabangnya Santi. Santi tetap bisa ikut kok. Kayaknya nggak ada masalah sama kesehatannya.”


“Bulan depan bukan cabang kok Bu. Bulan depan giliran kantor pusat,” kata Shindu.


“Lho kalau cabang kita lihat-lihat saja. Sudah ada yang dibayar belum sama panitia?”


“Sudah Bu. Uang DP sudah mulai dimasukkan masing-masing 25% baik buat lahan, konsumsi, maupun peralatan,” balas Ajat.


“Kalau begitu ya jalan saja. Toh Santi nggak masalah. Sepertinya dia sudah mulai beraktivitas dengan normal,” balas Dinda.


“Saya yakin Santi ikut kok. Karena dia juga waktu hari kedua sudah mau mulai masuk kerja karena tidak betah. Bila di rumah pasti dia memikirkan almarhum Farouq.”


“Daripada di rumah lebih baik memang dia di kantor, jadi punya kegiatan tidak terlalu memikirkan anaknya.”


“Kalau begitu sudah clear ya permasalahan tentang family gathering bulan depan. Karena yang bulan ini sudah dibatalkan terkait dengan sakitnya Baim dan juga hilangnya Farouq. Kalau yang untuk bulan depan jalan,” kata Dinda.


“Baik Bu. Yang penting saya sudah dapat ACC dari Ibu. Karena saya waktu itu mau majuin atau mau menunda itu takut nggak sesuai dengan kebijakan Ibu,” jawab Shindu.


“Ya sudah. Panitianya suruh jalanin saja dan upayakan yang terbaik. Permainannya juga dibuat semenarik mungkin. Sehingga semua peserta tuh tambah senang. Kalau hanya permainan yang itu-itu saja nanti mereka sudah bosan tak ada tantangan lain.”


“Iya Bu, permainannya akan kami buat semenarik mungkin,” kata Shindu.