GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERUPAYA MENJADI YANG TERBAIK SESUAI KEMAMPUAN



Inang memeluk Dinda sambil menangis. dia tak percaya Dinda memberi solusi yang sangat baik buat dia dan Sondang yaitu menyuruh inang pulang setiap pagi dan istirahat di rumah sedang Sondang diberi libur dari kantor untuk menjaga Gultom di rumah sakit. Inang benar-benar tak percaya ada pemimpin seperti itu pengertiannya.


Padahal kalau tidak disuruh oleh Dinda, Sondang sudah bilang dia tidak mau menunggu Gultom apa pun alasannya. Sondang bilang itu sudah bukan kewajibannya lagi. Tetapi karena disuruh Dinda maka inang senang, setidaknya Sondang dan Gultom bisa ada interaksi bila nanti Gultom sadar. Entah mengapa hanya dengan meminum obat sampai sekarang Gultom belum sadar. Mungkin karena sudah tak ada keinginan buat hidup lagi padahal kata dokter biasanya paling lama 12 jam setelah dibersihkan isi perutnya, pasien bisa sadar. Ini sudah hampir 50 jam Gultom tetap juga tak sadar.


“Sudah tenang Inang. Inang tak boleh stres, Inang harus sehat,” kata Adit. Dia tahu ibunya Gultom itu sangat terharu.


“Iya pak Adit, iya,” jawab inang sambil mengangguk-angguk. Dia sangat berterima kasih.


“Kalau begitu kami pamit dulu Bu. Karena kami sudah pergi dari pagi meninggalkan anak-anak. Kasihan mereka terlalu lama ditinggal,” kata Adit lagi.


“Baik pak Adit. Sekali lagi terima kasih.” ucap inang. Sedang Sondang masih tak percaya dia diberi cuti kerja hanya untuk menjaga MANTAN SUAMI yang sudah ingin dia buang ke tempat sampah.


“Dan ingat Inang, mulai besok pagi sehabis mandi Inang langsung pulang tak perlu menunggu kedatangan Bu Sondang. Bu Sondang akan berangkat dari rumah sesuai dengan jam berangkat anak-anak ke sekolah, jadi dia ngantar anak-anak sekolah baru ke sini. Kalau Inang pulang, Inang titip saja sebentar ke suster. Begitu pun Bu Sondang saat sore akan pulang, tidak perlu menunggu Inang datang. Titip sebentar ke suster. Inang juga santai saja dari sore jadi Inang di rumah tidak stress juga bisa istirahat dengan nyaman,” kata Dinda sebelum dia pulang.


“Aku mau bawa anak-anak Sondang ke panti asuhan Yah. Biar mereka melek, banyak anak lain yang sedih tak punya orang tua. Walau memang kelakuan Gultom itu salah besar. Tapi tetap saja seharusnya kita bersyukur masih punya orang tua. Menerima kesalahan orang itu memang sulit terlebih orang tersebut menyakiti kita. Tapi setidaknya kita harus punya pandangan dari sisi lain,” ujar Dinda lagi.


“Mungkin itu langkah pertama. Langkah lainnya nanti Bunda lagi mikirin harus apa lagi. Saat ini belum terpikir apa pun. Nanti selama Bunda pergi sama anak-anak, Bunda harap Ayah jangan ikut berperan aktif. Kasihan mereka terluka melihat ada anak lain yang punya Ayah dan dekat dengan anak-anaknya. Ayah menjauh dulu jangan buat mereka iri dan terluka,” jelas Dinda.


“Baik. Ayah mengerti soal itu. Ayah juga nggak akan bikin mereka tambah terpuruk,” Adit setuju dengan pendapat Dinda.


Adit bahagia melihat satu persatu anaknya mulai terlelap, dia berkeliling dari kamar ke kamar seperti kebiasaannya setiap malam. Adit bersyukur dia tak pernah melakukan hal-hal seperti Gultom. Dulu dia memang salah saat sebelum menikah dengan Dinda. Di awal pernikahan dia juga pernah salah karena terjebak dengan Shalimah, tapi begitu ada di Ghibran dan Ghifari di perut Dinda, dia sadar sepenuhnya tanggung jawabnya sebagai Ayah. Dia langsung manuver dan menjadi Ayah yang bertanggung jawab dan menjadi yang terbaik sesuai kemampuannya. Adit yakin dia bukan yang terbaik versi orang lain tetapi dia berupaya menjadi terbaik sesuai kemampuannya karena kemampuan setiap orang tak sama.


Adit bahagia mengingat bagaimana Eddy peduli padanya sehingga melakukan tes DNA pada Bram, kalau saat itu dia tidak dibuka matanya oleh Eddy, tentu dia merasa Bram tetap anaknya dan dia akan terus memelihara anak orang itu.


Soal memelihara tentu dia tidak bermasalah, tapi kecurangan Shalimah itu yang menyakiti hatinya. Adit mengingat semua apa yang Eddy lakukan untuknya. Peran Eddy sebagai Ayah yang sangat baik dan seharusnya menjadi contoh untuknya bukan seperti Gultom yang malah mengatakan kalau istrinya mandul sehingga dengan tak langsung dia mengatakan kalau anak-anak itu bukan anaknya.