
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Sudah dibawa semuanya?” tanya Eddy.
“Sudah Pak, sudah masuk di mobil semua kok,” bi Siti menjawab pertanyaan tuannya. Sejak semalam semua yang akan di bawa sudah diletakkan di ruang tamu agar tak ada yang tertinggal. Adit sesekali menambah tas kedalam tumpukan itu. Kadang hanya menambah suatu barang untuk dimasukkan dalam tas atau koper.
“Oke kita berangkat,” jawab Eddy. Mereka menggunakan dua mobil.
Hari ini rombongan Pak Eddy berangkat ke Solo sesuai dengan keinginan Pak Eddy, mereka akan naik kereta pagi dari stasiun Gambir ~ Jakarta.
Bu Asih, Bu Marni, juga Bu Siti ikut serta untuk masing-masing memegang satu anak.
Kehamilan Dinda sudah masuk usia 14 minggu, hampir 4 bulan tapi perutnya sudah seperti orang yang hamil 6 bulan. Dia juga sudah mulai berat berjalan itu sebabnya ketiga simbok dibawa semua oleh Pak Eddy.
Pak Eddy sudah menyewa mobil keluarga di Solo sehingga nanti satu rombongan masuk ke satu mobil untuk dibawa ke mana-mana saat di Solo tidak naik taksi.
Pak Eddy tidak menyewa hotel tapi dia menyewa homestay satu rumah besar berisi 7 kamar.
“Mamas sama Abang naik apa ini? tanya Adit pada kedua putra kembarnya, memancing keduanya untuk selalu diskusi. Dia ayah yang selalu dekat dengan ketiga putranya.
Putra kembarnya memang baru kali ini naik kereta. itu sebabnya Radite sengaja memilih kereta pagi agar anak-anak bisa mengerti apa yang mereka alami kalau Ghaidan belum terlalu mengerti. Sebenarnya dulu saat anak-anak kecil Dinda pernah membawa mereka naik kereta saat pergi ke makam kedua orang tuanya. Tapi tentu saja keduanya masih sangat kecil untuk mengerti karena usia mereka belum satu tahun kala itu.
Karena usianya hampir 2 tahun ternyata Ghaidan secara mandiri tidak mau ASI. Mungkin dia rasa tidak enak tapi Dinda memang tidak menyetopnya. Dinda tetap memberikan hanya Ghaidan yang tidak mau. Ghaidan hanya memegang-megang saja tapi tidak mau menghisapnya.
Rombongan sampai di Stasiun Balapan sudah sore dari stasiun semuanya naik mobil travel yang sudah disewa oleh Pak Eddy. Memang perjalanan ini yang pegang kendali adalah Pak Eddy bukan Radit.
“Bunda naik mobil langsung ke hotel sama para simbok. Biar Ayah yang naik andong sama anak-anak,” Adit menuntun istrinya pelan. Semua barang di bawa poter.
“Iya Yah. Have fun ya. Jangan lupa dokumentasinya,” jawab Dinda.
Adit dan Eddy menginginkan anak-anak naik delman atau andong untuk pengalaman baru mereka. Tentu saja anak-anak senang mendapat pengalaman baru naik andong. Eddy yang bagian bikin video dan foto tentang kegiatan anak-anak bersama ayah mereka naik andong.
Rupanya Eddy menyewa mobil travel itu bukan harian dalam artian datang pagi pulangnya malam, tapi mobil tetap stand by di homestay 24 jam. Sopirnya tinggal di homestay ada satu kamar di belakang Jadi kapan pun mereka ingin pergi mobil dan sopir sudah tersedia.
“Baik Bu,” jawab sopir.
“Mbok Marni tolong beliin ini,” Dinda sudah menyiapkan catatan yang dia minta untuk dibeli juga memberikan uang pada Mbok Marni untuk turun di supermarket.
Mbok Marni melihat banyak catatan di situ salah satunya adalah beras ukuran 5 kilo, ayam dan beberapa bumbu serta bakso sosis dan segala macamnya juga su5u coklat cair kemasan kotak atau botol kecil untuk anak-anak, Dinda juga membeli tisu basah serta beberapa barang lainnya yang memang sengaja tidak dibawa dari rumah Jakarta. Bukan ketinggalan tapi memang tak dia bawa karena barang-barang itu mudah di dapat. Kalau bawa dari Jakarta hanya membuat bawaan mereka berat dan penuh. Misal gula, teh kopi serta su5u ibu hamil, jeruk lemon dan madu.
“Jangan lupa beli jeruk nipisnya Mbok atau lemon buat teh juga madu yang kemasan kecil aja biar kita enggak bawa pulang lagi ke Jakarta. Kalau Mbok butuh apa-apa masukin aja di situ sekalian,” pesan Dinda sebelum mbok Marni turun. Tadi Dinda juga membeli banyak cemilan juga aneka buah. Dinda ingin biar berlibur mereka tetap mengkonsumsi makanan sehat. Tidak hanya makan di resto saja.
“Mbok pilih kamar masing-masing aja. Koper papa langsung taruh di satu kamar tersendiri. Koper dan tas anak-anak satu kamar dan buat saya satu kamar,” begitu turun di homestay Dinda minta semua memilih kamarnya masing-masing.
“Kami sekalian bertiga aja, enggak mau satu kamar sendiri,” jelas bu Siti.
“Iya kita satu kamar aja ngapain pisah-pisah,” mbok Asih setuju dengan Siti.
“Masing-masing satu kamar cukup loh. Ini kamarnya 7,” kata Dinda.
“Kami mengerti. Tapi kami enggak mau sendiri-sendiri,” kata Asih.
“Kalau begitu bilang ke pak sopir jangan pakai kamar belakang. Disini saja sekalian biar mudah komunikasi juga,” Dinda minta sopir tidur di dalam saja.
Bu Marni langsung memasak nasi karena memang di honestay ada magic jar. Dia juga masak lauk untuk makan malam malam. Setidaknya anak-anak tak menunggu keluar untuk makan malam. Biasa di rumah habis maghrib anak-anak sudah makan. Kalau harus keluar pergi makan malam tentu anak-anak tersiksa. Itu sebabnya Dinda prepare membeli beras. Dan Eddy juga tak mau di hotel karena beda suasananya.
Dinda sedang tidur ketika anak-anak tiba di home stay, namanya dengan andong pasti lebih lama walau rombongan Dinda sudah berhenti belanja.
“Jangan ganggu bunda ya. Bundanya bobo,” kata Adit meminta anak-anak masuk ke kamar sebelah bersama dirinya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.