
Sehabis Fari dan Iban ujian sekarang giliran adik-adiknya yang akan ujian semester.
Eddy mengajak Fari dan Iban untuk libur duluan agar tak mengganggu Adit dan Dinda yang sedang memperhatikan pelajaran adik-adiknya.
“Jangan lupa kalian bawa topi juga pakai sunblock,” kata Dinda mengingatkan dua jagoannya yang akan berlibur dengan kakek mereka saja.
“Sepertinya enggak apa-apa kalau kami nggak pakai sunblock. Kami kan bukan perempuan yang takut kalau kulitnya kebakar,” jawab Fari
“Tapi kan nggak lucu juga kalau laki-laki ganteng kulitnya belang,” jawab Dinda.
Eddy memang mengajak kedua cucu yang besar itu pergi memancing. Mereka akan menginap dua hari di villa Eddy di Bogor bersama dengan Pak Pujo dan Bu Marni.
Dinda memang mengizinkan Eddy pergi asal dengan mbok Marni sehingga ada yang mengawasi makan. Eddy yang sudah semakin sepuh harus selalu dipantau asupannya seimbang atau tidak, bukan asal makan. Kalau tiap hari beli di luar nanti asupan Eddy ada yang kelebihan atau kekurangan. Semuanya harus terkontrol, boleh jajan tapi hitungannya akan dilihat oleh mbok Marni nanti kekurangannya ditambahkan di rumah.
‘Aku sangat bersyukur anak tunggalku mendapat jodoh seperti Dinda, tak bisa kubayangkan kalau menantuku bukan Dinda. Siapa yang mau memperhatikan aku lelaki tua seperti,’ ini kata Eddy dalam hatinya. mereka sudah bersiap untuk berangkat ke Bogor. Bu Marni dan Pak Pujo duduk di depan sementara Eddy duduk dibelakang diapit kedua cucunya.
Masing-masing anak membawa ransel kecil untuk perlengkapan harian mereka. Kalau baju mereka ada di koper bersama dengan koper milik Eddy. Alat pancing pun juga sudah siap, benar-benar akan refreshing sesudah ujian.
“Ingat ya, Bunda tidak ingin kalian mendapat hasil tertinggi dengan cara tidak jujur. Bunda hanya ingin kalian mendapat nilai terbaik hasil pemikiran kamu sendiri,” kata Dinda saat mengantar keempat putranya sekolah.
“Kalau pergantian jam pelajaran ingat susunya diminum dan bekalnya dimakan agar perut kalian tidak kosong sama sekali.”
“Nanti dijemput Bu Asih. Kalau belum dijemput nggak boleh keluar halaman sekolah ya,” kata Dinda kepada semua putranya memang dia tidak menunggu hanya mengantarkan saja.
Dinda dan Adit bangga dengan keempat anaknya yang tak pernah bikin rewel atau merajuk.
Hari ini Dinda kan menuju kantor cabang milik Ghazanfar sedang Adit sejak tadi pagi sudah berangkat ke kantor pusat yaitu yang milik Gathbiyya karena dia ada pertemuan dengan klien yang mau datang ke kantor.
“Adinda.” sapa seorang perempuan cantik.
“Surti?” jawab Adinda. Surti memang sejak SMP sangat cantik dan Adinda tahu itu.
“Kamu ngapain?” tanya Surti.
“Yang pasti aku nggak ngajar di sini. Aku ngantar 4 anakku,” jawab Dinda.
“Empat? Kamu nggak salah?”
“Tidak, aku tidak salah. Itu si kembar tiga dan kakaknya baru saja masuk,” jawab Dinda.
“Iya, mereka anak-anak aku,” jawab Dinda.
“Berarti anak kita satu kelas dong? Maksud aku bukan satu kelas, satu tingkat. Karena anak-anakmu tak ada yang satu kelas ya,” kata Surti lagi.
“Iya benar, anak aku nggak ada yang satu kelas. Semuanya memang dipisah. Demikian juga kakak mereka si kembar yang sudah tamat SD. baru selesai ujian sih,” sahut Dinda.
“Jadi anakmu berapa?”
“Enam, sulung juga kembar.
“Masya Allah, banyak sekali rizkimu.”
“Iya, tadinya suamiku dibilang tak subur lalu dokter mengebomnya dengan obat-obatan penyubur yang sangat tokcer. Sehingga akhirnya suamiku terlampau subur karena dua kali kehamilanku adalah kembar.”
“Bahagianya jadi dirimu,” kata Surti.
“Kita syukuri aja, kamu juga punya anak pasti juga sudah bersyukur. Siapa nama anakmu?”
“Bisma, nama anakku Bismantara,” jawab Surti.
Oh Bisma dia satu kelas dengan Ghaylan. Anakmu hanya satu Bisma itu?” tanya Dinda
“Tidak. Aku punya tiga anak. Bisma paling besar,” sahut Surti.
“Ada dua lagi adiknya. Semuanya anak adopsi karena aku dan suamiku sama-sama bermasalah. kami tak akan pernah bisa punya momongan. Dulunya aku pikir kalau hanya suamiku lemah kami bisa bayi tabung ternyata aku dan suamiku sama-sama bermasalah sehingga kami mengangkat tiga bayi dalam kurun waktu yang berbeda.”
“Kita syukuri aja, yang penting mereka sehat dan taat pada agama,” kata Dinda.
“Aku senang dengan anak-anakmu mereka sopan dan pintar.”
“Aku tidak mentarget anak-anak harus juara, aku hanya bilang mereka harus mendapatkan hasil terbaik dari pemikiran mereka sendiri,” kata Dinda.
“Aku juga tidak menekan anak-anak supaya juara Aku tidak tahu bibit mereka itu unggul atau enggak jadi aku membiarkan mereka sesuai dengan kemampuan otak mereka aja,” kata Surti.
“Benar, kasihan anak-anak yang diharuskan jadi juara. Mereka terbeban batinnya,” kata Dinda.