
Kami langsung bawa Farouq ke rumah sakit. Kalian langsung nyusul ke sana saja. Kalau kami nungguin kalian nanti kelamaan,” kata ayahnya Santi.
“Iya Kang. Bawa saja langsung nggak apa-apa,” kata papa Ajat.
Pokoknya siapa pun akan dia panggil akang atau teteh. Tidak peduli bahwa orang tua Santi bukan dari Jawa Barat.
“Sebenarnya bagaimana kondisinya Farouq?” tanya neneknya Farouq.
“Melihat kondisinya, saya kok berpikir dia sama sekali nggak makan selama 5 hari. Mungkin hanya beberapa suap saja yang bisa masuk ke tubuhnya. Cairan pun kurang. Kita lihat dari Elastisitas kulit kurang, dia mengalami dehidrasi akut,” ayahnya Santi menjelaskan kondisi luat cucu mereka.
“Separah itu?” tanya mamanya Ajat. Dia tak percaya Farouq akan seperti itu.
“Bukan separah itu, tapi sangat parah. Kami sudah masuk tol sebentar lagi tiba di rumah sakit,” jelas ayahnya Santi.
“Kami baru keluar rumah karena tadi ada tamu.”
“Makanya kami bilang nggak usah saling tunggu. Siapa yang lebih dulu tiba di sana segera berangkat.”
Ibunya Santi tak sempat membawa data dirinya Farouq. Dia tidak tahu di mana kartu berobat anak tersebut karena kondisinya panik. Pokoknya asal bawa Farouq saja.
“Jat, kamu bawa kartu berobat Farouq tidak? Atau kamu bisa ke depan sebentar nggak? Ibu nggak tahu nomor kartu berobat Farouq.”
“Nggak ada yang bawa lah Bu. Sudah kasih nama lengkapnya saja. Nanti kan dicariin sama petugasnya.”
“Ini kami sudah di ruang administrasi. Mereka kesulitan cari data Farouq.”
“Baik aku ke sana. Sebentar aku pamit sama Santi bilang mau beli kopi,” balas Ajat.
“Mami mau titip apa?” tanya Ajat.
“Nggak. Lagi nggak kepengen apa-apa. Tapi boleh sih kalau dibeliin su5u ibu hamil. Kan sejak masuk di rumah sakit Papi lupa nggak bawain su5u ibu hamil.
“Astagfirullah Papi benar-benar lupa Yank. Maaf ya. Iya nanti Papi beliin. Mau rasa apa?” tanya Ajat.
“Apa saja lah. Tapi mending yang coklat, daripada yang putih. Kalau ada strawberry nggak apa-apa tapi enakan yang coklat sih,” kata Santi.
“Ya sudah Papi belikan su5u hamil yang rasa coklat.”
“Atas nama siapa ya Pak?” tanya bagian administrasi.
“Tadi ibunya hanya bilang namanya Farouq kami susah nyarinya.”
Maklum ibunya Santi itu kan bukan nenek kandungnya dan dia baru jadi neneknya satu tahun wajar dia nggak tahu nama lengkap serta jati dirinya Farouq.
Ajat pun tadinya tidak hafal tanggal lahir Farouq.
“Namanya Farouq Zulfikar,” ucao Ajat.
“Farouq Zulfikar Sudrajat?” tanya bagian administrasi.
“Benar.”
“Baik. Sudah ketemu. Ini nomor pasien juga riwayat pasiennya. Ini bawa berkasnya ke UGD ya Bu,” kata sang administrasi rumah sakit.
Ajat pun langsung ke ruang UGD. Ayahnya Santi yang menemani di sana. Ibunya Santi yang ke bagian daftar karena tadi Farouq digendong oleh kakeknya dan dia tidak mau turun dari pelukan sang kakek.
Ajat langsung menghampiri putranya. Dia lihat kondisi Farouq sangat mengenaskan.
‘Pi,” kata Farouq dengan lemah menatap mata papinya.
“Ini Papi Sayang. Ini Papi,” kata Ajat. Ajat menangis melihat wjah pias Farouq.
Farouq memeluk erat leher Ajat seakan dia takut ditinggal.
“Pi,” ulang Farouq.
“Ia, ini Papi Nak. Ini Papi,” jawab Ajat sambil terisak.
“Pi,” hanya itu lagi yang Farouq katakan. selebihnya dia tak bicara apa pun.
“Papi beliin kamu su5u dulu ya sebentar. Kamu sama nenek sama kakek. Papi beli su5u buat kamu sama buat mami ya,” pamit Ajat.
Farouq menggeleng, dia tak mau ditinggal oleh sang ayah.