GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERSIAP MASAK



Untuk teman nasi bakar teri, Dinda menyiapkan ayam goreng tepung dengan sambal penyet. Tentu super pedas. Hanya itu menu yang dia buat tidak tambah macam-macam juga ada sambal kecap selain sambal penyet tadi.


“Coba Ajeng ke sini dulu baru nanti ke rumah sakit ya? Kan dia jatah sore,” ucap Santi.


“Kalau Ajeng ke sini dulu lalu pulang antar anak-anak baru ke rumah sakit tentu membuang waktu dan melelahkan. Itu sebabnya dia tidak ngumpul ke kita. Kalau anak-anaknya Velove kan bisa ditinggal dia ke rumah sakit lalu nanti ke sini saat makan siang.” balas Puspa.


“Iya juga ya.”


Santi, Puspa dan Ratih langsung menuju ke rumah karena akan membawa anal-anak tidur pagi menjelang siang. Santi tak membawa pengasuh karena week end dia akan pegang anak full gantian dengan Ajat, kadang dibantu Mischa bila di rumah.


Dinda sudah menyiapkan dua kamar tidur di lantai bawah untuk para tamunya, mbok sudah menyiapkan semuanya di sana.


“Kalian taruh saja bayi-bayi di sini. Kalau berisik ya pindah satu ke kamar sebelahnya,” kata Dinda membuka dua kamar yang sudah dia siapkan.


“Pak Eddy nggak ke kebun?” tanya Santi.


“Pak Eddy enggak tahu rencana dadakan aku. Dia sudah janjian dengan teman-temannya untuk pergi memancing. Makanya dia ngomel karena dia senang bila melihat cucu-cucu bermain dengan teman sepantarannya. Tapi tentu dia nggak bisa membatalkan sepihak. Itu sebabnya dia ngomel,” jawab Dinda.


“Oh gitu. Pantes pak Eddy nggak ada.” balas Ratih.


“Kalian bebas saja ya di sini, anggap seperti di rumah sendiri saja.” ucap Dinda.


“Ibu mau ke mana?” tanya Ratih.


“Saya ke kebun lah masak nemenin kalian di sini,” ucap Dinda.


“Nggak takut ada yang hilang atau rusak?” tanya Ratih.


“Rumah ini full CCTV dari segala sudut. Jadi ditinggalkan kosong pun nggak apa-apa. Tapi semua sebenarnya yang paling utama adalah CCTV dari Allah subhanahu wa ta'ala,” kata Dinda.


Dinda mengeluarkan jus serta salad juga snack di taruh di kamar itu. Kalian tuang sendiri ya. Kalau kurang kalian ambil lagi di kulkas.”


“Ini snack dan salad banyak banget,” kata Santi sambil mulai mengambil mangkuk untuk makan salad, Biru sudah selesai menyedot ASI-nya membuat dia lapar.


Tiga anak Puspa yang lain dijaga oleh Ilham. Yang di sini hanya si bungsu.  Mereka masing-masing bawa satu anak.


Velove tadi sudah langsung berangkat ke rumah sakit saat Wika mengabarkan dia on the way. Velove dan Wika janjian bertemu di lobby rumah sakit.


Ilham, Fahrul, Adit, dan Ajat mengawasi anak-anak mereka, tentu termasuk anaknya Bagas. Dibiarkan mereka berlarian ke sana kemari atau mencoba sesuatu. Tentu saja ada aneka snack di sana juga sudah disiapkan minuman sesuai permintaan mereka karena para mbok sudah stand by di green house untuk meladeni semua tamu.


Entah kebetulan atau bagaimana para bapak ini tidak ada yang merokok jadi mereka santai tidak ada yang terganggu oleh asap nikotin.


Sekarang aku beneran pamit nih karena mau mandu anak-anak untuk persiapan masak. Satu jam lagi waktu mereka makan. Kayaknya cukup mereka masak lauknya. Para mbok sudah aku beri alarm untuk mulai bikin bara, jadi saat anak-anak mau bakar bara sudah siap.”


“Oke nanti anakku bangun aku ke sana,” ujar Santi.


Tentu saja kalau anak mereka tidur mereka tak bisa meninggalkan anak-anak.


Dinda datang ke green house setelah cukup lama ngobrol asyik dengan para ibu.


“Ayo semuanya cuci tangan. Kita mulai persiapan untuk masak. Apronnya itu ada di tumpukan, kalian pakai warna semau kalian. Lalu topi chef juga sudah Bunda siapkan. Kalian ambil sendiri.”


“Eh sebentar, sebentar,” kata Ajat memotong.


“Papi mau bikin video sejak awal kalian ambil apron, jadi tunggu sebentar. Jangan ambil biar Papi siapkan semuanya.” rupanya Ajat ingin membuat rekaman semua dari awal.


Adit sejak tadi sudah membuat video anak-anak bermain tapi memang tidak pada jam masak. Kali ini pada jam masak boar Ajat saja yang konten video full.