GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK ADA KESEMPATAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Cukup nangisnya Yank, cukup,” bisik Adit pada Adinda yang masih saja terisak.



“Kasihan anak-anak nanti lihat Bundanya nangis. Mereka nanti jadi bingung atau ketakutan,” bisik Adit selanjutnya.



Dinda menghentikan langkahnya, dia menghapus air matanya dengan tissur, baru berjalan kembali mendekati Eddy yang sedang bersama anak-anak.



Eddy kaget melihat penampilan Dinda yang ketakutan.



“Ayo kita pulang,” kata Eddy.



“Aku enggak apa apa Pa. Kita terusin aja dulu sampai waktunya nanti selesai, sekalian keluar,” kata Dinda dengan tegar. Dia tak ingin mengorbankan kebahagiaan anak-anak.



“Kamu serius enggak apa apa?” tanya Adit dengan lembut.



“Enggak apa apa Mas, aku kuat kok,” jawab Dinda.



Adit memeluk dan mencium kening Dinda.



Kedua jagoan yang melihat aksi ayahnya ikut-ikutan. Mereka minta Dinda menunduk karena ingin memeluk dan mencium keningnya Dinda. Tentu saja itu membuat Dinda terhibur dan tertawa.



Eddy merasa senang karena Dinda bisa tersenyum melihat anak-anak seperti itu,



Mereka pun melanjutkan penjelajahan di Sea life itu. Sampai mereka puas baru mereka pulang. Kali ini mereka makan siang dulu di luar tidak di hotel.



“Aku lihat di google ada lho tempat yang banyak perhiasan lampu dan segala macamnya untuk piknik malam, setidaknya sore. berupa taman tapi dekorasinya bagus gitu penuh lampu warna warni dan aneka bentuk. Tapi buat anak umur 2 tahun sih enggak ada kesannya, jadi enggak usah lah. Lagian kalau ke sana harus sore menjelang malam jadi lampunya akan terlihat bagus,” kata Adit sat mereka makan.



“Kita cukupkan hari ini pulang lah, kita main di rumah aja. Sore atau malam kalau kalian ingin refreshing bisa keluar berdua saja,” jawab Eddy.



“Di hotel kali Pa, bukan di rumah,” protes Adit.



“Eh iya, maksud Papa itu,” ralat Eddy.



Mereka pun akhirnya menyetop taksi untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.



Eddy duduk di depan bersama driver sedang keluarga kecil itu duduk di jok tengah.




Mereka tidur tak saling ganggu, itulah ajaibnya mereka.



“Lihat Pa, kelakuan cucu Papa kayak gini,” lapor Dinda.



 Eddy menengok dan melihat bagaimana pola tidur kedua cucunya yang saling tidur di paha kedua orang tuanya tapi saling silang. Eddy tersenyum lalu dia membuat foto.



“Bikin video dong Pa, liatin posisi mereka seperti itu. Kalau foto kan enggak ke masuk semua,” kata Dinda. Eddy pun menurut, dia buat video kedua anak yang tidur di kaki masing-masing orang tuanya.



“Kalau sudah kenyang kayak gini, kenyang dan capek, pasti begini mereka. Tidur semau mereka,” jawab Adit



“Dinda.” Sapa seseorang saat mereka baru turun dari taksi. Ada seseorang yang menegur Dinda dengan akrab.



“Eh pak Wahid,” kata Dinda.



“Anda bukannya ke Brisbane ya?” tanya Dinda.



“Ya, awalnya saya ke Brisbane, baru tadi pagi saya ke sini,” jawab Wahid. Wahid kaget karena saat itu Dinda ternyata bersama suaminya yang pernah dia kenalkan di ruko Bekasi. Padahal waktu di bandara Wahid melihat hanya Dinda dan anak-anak saja yang berangkat. Rupanya suaminya menyusul.



‘Mungkin waktu berangkat suaminya masih ada pekerjaan sehingga berangkat belakangan.’ pikir Wahid.



“Pa kenalin teman aku di Bekasi,” kata Dinda pada Eddy.



“Pak Wahid, kenalin papa mertua saya,” lanjut Dinda.



Wahid tambah kaget lagi karena ternyata mertuanya pun ikut ke Australia bersama Dinda.



“Mari kami duluan, anak-anak sudah terlalu lelah,” kata Adit yang sedang menggendong Ghifari dan Dinda menggendong Ghibran.



“Oh iya, silakan. Rupanya menginap di hotel ini juga?” tanya Wahid.



“Benar, kami menginap di hotel ini,” jawab Eddy.



“Mari,” Eddy pun melangkah pergi mengikuti Dinda dan Adit yang telah berjalan lebih dulu.



“Benar-benar sudah tak ada harapanku, karena kamu memang ternyata punya suami dan mertua. Aku kira kamu hanya berbohong saat mengatakan dia adalah suamimu,” kata Wahid. lalu Wahid pun masuk ke taksi yang sudah dia panggil.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.